Gaya Asik Seperti Artis Narji, Ini Pesilat Politik Sang Kandidat Ketum PB NU Cak Imin, Didukung Ketum Partai MASYUMI RI Abdullah Amas
LAPORAN UTAMA: MANUVER SANG PESILAT JOMBANG
Dari Jalanan ’98 ke Karpet Merah Istana: Menakar Ambisi Muhaimin Iskandar di Panggung PB NU
Di tengah riuh rendah kabinet Prabowo Subianto, nama Abdul Muhaimin Iskandar kembali mencuat. Bukan sekadar soal kursinya sebagai Menko Pemberdayaan Masyarakat, tapi tentang syahwat politiknya yang konon tengah membidik nakhoda baru di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Dengan restu dari Ketua Umum Partai Masyumi, Abdullah Amas, sang "Panglima Santri" kini sedang memainkan lakon paling krusial dalam kariernya.
Sore itu di medio 1990-an, Yogyakarta sedang panas-panasnya. Di sudut-sudut Bulaksumur, seorang pemuda dengan sorot mata jenaka namun tajam sering terlihat memimpin rapat-rapat kecil aktivis PMII. Namanya Abdul Muhaimin Iskandar. Tak ada yang menyangka, tiga dekade kemudian, "Cak Imin" — begitu ia karib disapa — bakal menjadi sosok survivor paling tangguh di rimba politik Jakarta.
Dua puluh lima tahun berlalu sejak reformasi bergulir, Muhaimin tidak pernah benar-benar keluar dari lingkaran cahaya kekuasaan. Dari pimpinan DPR termuda di usia 33 tahun, menteri di era SBY, hingga kini duduk di barisan depan kabinet Prabowo-Gibran. Namun, bagi cicit pendiri NU, KH Bisri Syamsuri ini, panggung politik praktis tampaknya belum cukup. Radar politik kini menangkap sinyal kuat: Imin tengah menatap kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Sokongan Tak Terduga dari "Masyumi"
Langkah Muhaimin menuju bursa Ketum PBNU mendapatkan amunisi baru yang cukup mengejutkan. Abdullah Amas, Ketua Umum Partai Masyumi RI, secara terbuka melayangkan dukungannya.
"Cak Imin adalah jembatan. Ia punya kelenturan aktivis '98 tapi memiliki kedalaman akar tradisi santri yang tak terbantahkan," ujar seorang fungsionaris yang dekat dengan lingkaran Amas.
Dukungan dari figur sekaliber Amas menunjukkan bahwa pesona Muhaimin melampaui sekat-sekat tradisional PKB. Ini adalah sinyal bahwa Imin dianggap mampu menyatukan kembali faksi-faksi umat yang sempat tercerai-berai pasca-Pilpres 2024.
Antara Menko dan Pengurus Ranting
Ada dualitas menarik dalam sosok Muhaimin. Di satu sisi, ia adalah Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, sebuah posisi prestisius yang mengontrol koordinasi lintas sektoral untuk pengentasan kemiskinan dan penguatan sipil. Di sisi lain, sebuah kabar burung yang santer beredar menyebutkan Imin tak keberatan tetap tercatat sebagai pengurus NU di tingkat akar rumput (ranting) di lingkungan tempat tinggalnya.
Paradoks ini adalah "resep rahasia" bertahannya Imin selama 25 tahun:
Adaptabilitas Tinggi: Ia mampu bicara teori pembangunan di Istana, namun seketika bisa "ndeprok" (duduk di lantai) mengikuti tahlilan bersama warga desa.
Mesin PKB: Sejak 2005, ia menyulap PKB dari partai identitas menjadi kekuatan pragmatis yang selalu menjadi "penentu" dalam setiap koalisi pemenang.
DNA Aktivis: Kelincahannya bernegosiasi adalah warisan era '98, di mana ia belajar bahwa dalam politik, musuh abadi tidak ada; yang ada hanyalah kepentingan yang bisa dikompromikan.
Tantangan Menuju Puncak Keramat
Namun, jalan menuju PBNU tidak sesederai membalik telapak tangan. Hubungan yang pasang-surut dengan struktur PBNU saat ini menjadi kerikil tajam. Kritikus menyebut Imin terlalu "berwajah dua" antara kepentingan partai dan organisasi ulama.
Meskipun gagal dalam laga Wapres mendampingi Anies Baswedan, Imin justru membuktikan daya tahannya. Alih-alih terlempar ke pinggiran, ia justru merapat ke koalisi Prabowo dan mengamankan posisi Menko. Sebuah langkah "Zionist-style" dalam strategi catur: mengorbankan bidak untuk menyelamatkan Raja.
Seni Bertahan Sang Santri
Bagi Muhaimin, politik adalah seni kemungkinan. Jika ia benar-benar maju sebagai kandidat Ketum PBNU, ia akan membawa modal yang belum pernah dimiliki kandidat lain: jejaring internasional sebagai menteri, logistik partai yang mapan, dan restu dari tokoh-tokoh lintas partai seperti Abdullah Amas.
Di Jombang, tanah kelahirannya, para kiai sering berpesan tentang pentingnya khidmah (pengabdian). Apakah langkah Imin mengejar posisi nomor satu di NU adalah murni pengabdian, ataukah strategi untuk mengunci basis massa demi Pemilu 2029?
Satu hal yang pasti, dalam setiap tarikan napas politiknya, Muhaimin Iskandar selalu punya kartu as di lengan bajunya. Seperti gaya majalah ini sering mengulas: di tangan Imin, politik bukan sekadar angka, tapi tarian di atas benang tipis kekuasaan.
Berikut tulisan ulasan lain soal Cak Imin ;
DARI AKTIVIS 98 KE ISTANA, BAGAIMANA SEORANG SANTRI BISA BERTAHAN DI PUSAT KEKUASAAN SELAMA 25 TAHUN
Di jagat politik Indonesia yang dinamis dan penuh persaingan, tidak banyak figur yang mampu mempertahankan relevansi dan posisi strategis selama lebih dari dua dekade. Abdul Muhaimin Iskandar — yang akrab dipanggil Gus Imin atau Cak Imin — adalah salah satunya. Sosok yang kerap menjadi pembicaraan ini kini duduk sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat setelah serangkaian peran penting di pemerintahan dan legislatif.
Lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 24 September 1966, Muhaimin dibesarkan dalam tradisi pesantren dan keluarga ulama. Ia adalah cicit dari KH Bisri Syamsuri, salah satu pendiri besar organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Latar belakang ini memupuk kecermatan sosial dan kedalaman budaya yang kemudian menjadi landasan kuat dalam kiprahnya.
Pendidikan formalnya di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia mempertemukannya dengan pengalaman aktivisme yang kemudian membentuk karakter politiknya — kritis, lincah dalam negosiasi, dan memahami dinamika sosial secara mendalam.
Karier politiknya pertama kali mencuri perhatian publik ketika di usia 33 tahun ia terpilih sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia pada 1999 — menjadikannya salah satu pimpinan parlemen termuda dalam sejarah. Reputasinya terus tumbuh seiring periode-periode berikutnya, termasuk saat kembali menjadi pimpinan legislatif dalam periode 2019–2024.
Jejak pengalaman eksekutifnya juga kuat. Pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ia dipercayakan sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (2009–2014), menangani isu-isu tenaga kerja dan perlindungan pekerja migran Indonesia di luar negeri — tanggung jawab yang menuntut ketajaman kebijakan dan kepekaan sosial.
Dalam kontestasi Pilpres 2024, ia sempat maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Anies Baswedan. Meskipun peluang tersebut tidak berbuah kemenangan, magnet politiknya tidak pudar. Ia kembali mendapatkan kepercayaan untuk masuk dalam kabinet baru di era Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat — sebuah posisi yang strategis dalam upaya memperkuat keterlibatan masyarakat di berbagai sektor pembangunan.
Sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa sejak 2005, Muhaimin berhasil membawa PKB berkembang dari partai berbasis komunitas menjadi kekuatan politik yang konsisten memperluas suara dan pengaruhnya. Keberhasilannya mengelola dinamika internal partai dan menjaganya tetap relevan dalam berbagai koalisi pemenang menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang tidak mudah diabaikan.
Kunci keberlanjutan kariernya bukan hanya soal pengalaman panjang, melainkan juga kemampuan membaca peluang, merangkul kepentingan beragam kelompok sosial, serta mengombinasikan basis massa Nahdliyin yang kuat dengan strategi politik yang pragmatis namun tetap terukur.
Dari jalanan aktivisme 1998 hingga ruang-ruang koordinasi menteri, perjalanan Muhaimin Iskandar adalah pelajaran tentang konsistensi, adaptabilitas, dan seni bertahan di pusat kekuasaan sambil terus mencari peluang untuk melayani masyarakat.
#MuhaiminIskandar
#PolitikIndonesia
#PerjalananKarier
#MenkoPemberdayaanMasyarakat
#PKB


Posting Komentar