Partai MASYUMI RI Sebut Sejumlah Faktor Partai Anies "Gerakan Rakyat" Bakal Layu Sebelum Berkembang
JAKARTA – Kehadiran Partai Gerakan Rakyat (PGR) yang diarsiteki oleh Sahrin Hamid dengan bayang-bayang sosok Anies Baswedan di belakangnya, ditanggapi dingin oleh para politisi senior. Salah satunya adalah Ketua Majelis Syuro DPP Partai MASYUMI RI, Abdullah Amas.
Dalam sebuah wawancara khusus, Abdullah Amas secara blak-blakan meremehkan potensi partai baru tersebut. Ia menilai, bermodal nama besar saja tidak cukup untuk mengarungi ganasnya samudera politik Indonesia.
"Kita harus realistis, jangan jualan mimpi. Saya melihat Partai Gerakan Rakyat ini punya kecenderungan untuk layu sebelum berkembang. Ada faktor-faktor fundamental yang mereka lupakan," ujar Abdullah Amas dengan nada skeptis.
Berikut adalah poin-poin tajam yang disampaikan Abdullah Amas mengenai alasan mengapa Partai Gerakan Rakyat diprediksi akan gagal menjadi partai besar:
1. Bias Identitas: Anies Hanya "Bayangan"
Amas menyoroti posisi Anies yang tidak berada di pucuk pimpinan secara administratif. "Secara legal-formal, ketuanya Sahrin Hamid. Selama Anies tidak duduk sebagai Ketua Umum yang fotonya terpampang di kertas suara, rakyat akan ragu. Ini partai Anies atau cuma partai yang mendompleng nama Anies? Bias identitas ini fatal," cetusnya.
2. Basis Massa yang Terpecah
Menurutnya, pendukung Anies sudah nyaman di partai-partai mapan seperti PKS, PKB, atau NasDem. "Mengharapkan mereka pindah ke partai baru itu naif. Pemilih kita itu loyal pada ideologi partai yang sudah teruji, bukan sekadar ikut-ikutan tokoh yang tidak pegang kendali partai secara langsung."
3. Hilangnya Momentum "Coattail Effect"
Amas menilai momentum Anies sudah lewat. "Efek ekor jas itu kuat kalau tokohnya lagi nyapres atau menjabat. Sekarang Anies di luar sistem, panggung publiknya terbatas. Momentumnya mendingin, PGR muncul saat 'nasi sudah menjadi bubur'."
4. Masalah Logistik: "Politik Itu Mahal"
"Membangun partai bukan cuma modal kaos dan spanduk relawan," sindir Amas. Tanpa dukungan 'bandar' atau konglomerat besar, menurutnya PGR akan tersengal-sengal membiayai saksi di ratusan ribu TPS dan operasional di 38 provinsi yang memakan biaya triliunan.
5. Magnet "Caleg Gurem"
Amas meragukan kualitas caleg yang akan bergabung. "Tokoh daerah yang punya massa riil pasti pilih partai yang sudah pasti lolos PT 4%. PGR ini berisiko cuma jadi penampungan aktivis atau loyalis yang semangatnya tinggi tapi suaranya nol di lapangan."
6. Verifikasi KPU yang "Mencekik"
Persyaratan kantor di seluruh provinsi dan 75% kabupaten/kota dianggapnya akan menjadi kuburan pertama bagi PGR. "Ini ujian fisik dan finansial yang sangat berat. Banyak yang gagah di medsos, tapi tumbang saat verifikasi faktual."
7. Narasi Elitis yang "Gak Nyambung" di Desa
Amas mengkritik gaya komunikasi politik kubu Anies yang dinilai terlalu urban. "Di desa-desa itu butuh 'politik sembako' dan sentuhan nyata, bukan sekadar narasi perubahan yang elitis. Kalau cuma jualan gagasan, PGR cuma akan besar di Jakarta, bukan di pelosok nusantara."
8. Bom Waktu Perpecahan Relawan
Ia juga menyoroti faksi-faksi di internal pendukung Anies. "Relawan itu cair dan banyak kepalanya. Menyatukan mereka ke dalam struktur partai yang kaku itu sulit. Sahrin Hamid akan pusing sendiri mengurusi ego tokoh-tokoh relawan ini."
9. Rekam Jejak dan Citra "Pengkhianat"
Poin yang paling menohok adalah penilaian Amas terhadap personalitas Anies. "Masyarakat juga mencatat citra Anies yang dianggap suka berkhianat kepada pihak yang membawanya ke panggung kemenangan. Ini menjadi beban moral bagi partai baru yang dia sponsori."
10. Sejarah Kelam Partai Baru
Terakhir, Amas mengingatkan sejarah. "Lihat partai milik Rhoma Irama, Tommy Soeharto, atau Hary Tanoe. Semua punya nama besar dan modal, tapi gagal masuk Senayan. PGR bukan pengecualian, mereka akan terjebak dalam tradisi 'Partai Satu Pemilu' lalu hilang," pungkasnya.
Berikut tulisan Ketua Majelis Syuro Partai MASYUMI RI Abdullah Amas Soal Potensi Partai Gerakan Rakyat
Partai MASYUMI RI Sebut Sejumlah Faktor Partai Anies Gerakan Rakyat Bakal Layu
Kehadiran sosok Anies Baswedan sebagai mentor atau tokoh di balik Partai Gerakan Rakyat (PGR) yang dipimpin oleh Sahrin Hamid memang memberikan daya tarik tersendiri. Namun, dalam realitas politik praktis di Indonesia, dukungan tokoh besar tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya perolehan suara partai.
Berikut adalah 10 alasan mengapa muncul sikap pesimis bahwa Partai Gerakan Rakyat akan menjadi partai besar, meskipun ada pengaruh Anies Baswedan di belakangnya:
1. Anies Bukan "Pemilik" Resmi Secara Administrasi
Secara legal-formal, partai ini dipimpin oleh Sahrin Hamid. Selama Anies tidak duduk sebagai Ketua Umum atau jabatan struktural tertinggi yang terlihat di kertas suara, terjadi bias identitas. Pemilih yang menyukai Anies mungkin ragu apakah partai ini benar-benar representasi resmi Anies atau sekadar "mendompleng" nama besar beliau.
2. Terpecahnya Basis Suara "Anies Center"
Pendukung Anies Baswedan tersebar di berbagai partai yang sudah mapan (seperti PKS, PKB, dan NasDem). Mengajak mereka meninggalkan partai lama untuk pindah ke partai baru sangatlah sulit. Loyalitas pemilih terhadap partai ideologis seringkali lebih kuat daripada loyalitas terhadap tokoh yang tidak memegang kendali partai tersebut secara langsung.
3. Masalah "Coattail Effect" yang Terlambat
Efek ekor jas (coattail effect) paling kuat terjadi saat tokoh tersebut sedang berlaga di Pilpres. Jika PGR baru berkembang saat Anies tidak memiliki panggung jabatan publik (seperti Gubernur atau Capres aktif), momentum politiknya bisa mendingin sebelum pemilu tiba.
4. Keterbatasan Logistik Tanpa "Bandar" Besar
Membangun partai membutuhkan biaya triliunan rupiah. Tanpa dukungan konglomerasi besar atau sumber pendanaan yang stabil, gerakan yang berbasis relawan (organik) seringkali terbentur tembok saat harus membiayai saksi di ratusan ribu TPS di seluruh Indonesia.
5. Stigma "Partai Gurem" di Mata Caleg Potensial
Tokoh-tokoh lokal yang memiliki basis massa (tokoh agama, pengusaha daerah) cenderung memilih bergabung dengan partai yang sudah pasti lolos Parliamentary Threshold. PGR berisiko hanya diisi oleh aktivis atau loyalis yang memiliki semangat tinggi tetapi kekurangan "suara riil" di lapangan.
6. Tantangan Verifikasi KPU yang Melelahkan
Banyak partai baru tumbang bahkan sebelum bertarung karena gagal dalam verifikasi faktual KPU. Persyaratan kantor di seluruh provinsi dan 75% kabupaten/kota adalah ujian fisik dan finansial yang sangat berat bagi partai yang baru seumur jagung.
7. Dominasi Narasi yang Terlalu Elitis
Gerakan pendukung Anies sering kali kuat di wilayah perkotaan dan kalangan menengah terdidik (urban). Namun, untuk menjadi partai besar, PGR harus mampu menembus pemilih pedesaan dan kalangan bawah yang narasinya seringkali lebih ke arah "politik sembako" daripada politik gagasan atau perubahan.
8. Risiko Perpecahan Internal Relawan
Relawan Anies sangat cair dan terdiri dari banyak faksi. Menyatukan ego para tokoh relawan ke dalam satu struktur partai yang kaku seringkali memicu konflik internal. Jika Sahrin Hamid gagal merangkul semua faksi relawan, PGR hanya akan menjadi salah satu dari sekian banyak penggalangan massa yang terpecah.
9. CITRA Anies yang suka berkhianat ke yang membawa dia ke panggung kemenangan
10. Sejarah Kelam Partai Baru di Indonesia
Sejarah mencatat partai yang didirikan oleh tokoh populer sekalipun (seperti partai milik Rhoma Irama, Tommy Soeharto, atau Hary Tanoe) seringkali gagal menembus parlemen pada percobaan pertama. Menjadi "besar" dalam satu kali pemilu adalah anomali yang sangat jarang terjadi dalam sistem politik Indonesia saat ini.
Kesimpulan: Meskipun figur Anies Baswedan adalah aset besar, Partai Gerakan Rakyat menghadapi tantangan struktural dan sistemik yang sangat berat. Tanpa mesin partai yang mampu bekerja melampaui sekadar "jualan nama tokoh," pesimisme terhadap pertumbuhan partai ini menjadi hal yang rasional.
Selain itu 10 Alasan Pesimis Partai Gerakan Rakyat Bakal Besar jika didasarkan pada Partai Baru secara Umum
Berikut adalah 10 alasan mengapa ada keraguan atau sikap pesimis bahwa Partai Gerakan Rakyat akan menjadi partai besar:
1. Saturasi Pasar Politik (Red Ocean)
Pasar politik di Indonesia sudah sangat padat. Pemilih umumnya sudah memiliki loyalitas atau kedekatan dengan partai-partai besar yang sudah ada (papan atas). Menarik massa dari partai mapan ke partai baru memerlukan usaha luar biasa karena ceruk pemilih yang "tak bertuan" semakin mengecil.
2. Ambang Batas Parlemen (Parliamentary Threshold)
Aturan Parliamentary Threshold (PT) sebesar 4% adalah tembok raksasa. Banyak partai baru dengan logistik kuat pun gagal menembus Senayan. Tanpa infrastruktur yang masif hingga ke tingkat desa, partai baru cenderung hanya menjadi "penggembira" di pemilu.
3. Ketergantungan pada Tokoh Sentral
Partai besar di Indonesia biasanya memiliki magnet berupa tokoh nasional yang sangat kuat (misalnya Megawati di PDI-P, atau SBY di Demokrat). Jika Partai Gerakan Rakyat tidak memiliki tokoh dengan elektabilitas "bintang lima," sulit bagi mereka untuk mendapatkan coattail effect (efek ekor jas).
4. Biaya Logistik yang Fantastis
Politik di Indonesia sangat mahal. Mulai dari saksi di TPS, alat peraga kampanye, hingga biaya operasional mesin partai di 38 provinsi. Tanpa dukungan pendanaan yang tak terbatas, nafas partai baru biasanya tersengal-sengal sebelum hari pemungutan suara.
5. Masalah Diferensiasi Ideologi
Banyak partai baru terjebak pada narasi yang mirip dengan partai yang sudah ada, seperti "perubahan," "kerakyatan," atau "keadilan." Jika Partai Gerakan Rakyat tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar berbeda dan radikal secara kebijakan, pemilih tidak akan melihat alasan untuk pindah haluan.
6. Jaringan Akar Rumput yang Belum Teruji
Membangun struktur partai dari tingkat provinsi hingga ranting (desa) membutuhkan waktu bertahun-tahun. Partai baru seringkali hanya memiliki pengurus di tingkat atas, namun keropos di tingkat bawah. Padahal, suara pemilu ditentukan oleh kerja-kerja di akar rumput.
7. Kelelahan Pemilih (Voter Fatigue)
Munculnya banyak partai baru setiap menjelang pemilu membuat pemilih cenderung skeptis. Masyarakat sering menganggap partai baru hanya sebagai kendaraan politik elit tertentu untuk mendapatkan kekuasaan, bukan sebagai wadah aspirasi yang tulus.
8. Dominasi Media dan Algoritma
Partai besar biasanya memiliki akses atau modal untuk menguasai media massa dan media sosial. Partai baru harus berjuang ekstra keras untuk mendapatkan exposure yang cukup agar dikenal oleh jutaan pemilih di pelosok Indonesia dalam waktu singkat.
9. Rekrutmen Caleg yang Instan
Partai baru seringkali kesulitan merekrut Calon Legislatif (Caleg) yang memiliki basis massa riil. Akibatnya, mereka sering menampung "politisi kutu loncat" atau tokoh lokal yang kurang populer, yang dampaknya terhadap perolehan suara partai tidak signifikan.
10. Tradisi "Partai Satu Pemilu"
Sejarah politik Indonesia mencatat banyak partai yang muncul dengan gegap gempita namun langsung tenggelam setelah pemilu pertama mereka. Tanpa ideologi yang mengakar dan manajemen organisasi yang modern, risiko menjadi "partai gurem" sangatlah tinggi.
Partai MASYUMI RI Sebut Sejumlah Faktor Partai Anies Gerakan Rakyat Bakal Layu
Kehadiran sosok Anies Baswedan sebagai mentor atau tokoh di balik Partai Gerakan Rakyat (PGR) yang dipimpin oleh Sahrin Hamid memang memberikan daya tarik tersendiri. Namun, dalam realitas politik praktis di Indonesia, dukungan tokoh besar tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya perolehan suara partai.
Berikut penyampaian Ketua Majelis Syuro DPP Partai MASYUMI RI Abdullah Amas tentang 10 alasan mengapa muncul sikap pesimis bahwa Partai Gerakan Rakyat akan menjadi partai besar, meskipun ada pengaruh Anies Baswedan di belakangnya:
1. Anies Bukan "Pemilik" Resmi Secara Administrasi
Secara legal-formal, partai ini dipimpin oleh Sahrin Hamid. Selama Anies tidak duduk sebagai Ketua Umum atau jabatan struktural tertinggi yang terlihat di kertas suara, terjadi bias identitas. Pemilih yang menyukai Anies mungkin ragu apakah partai ini benar-benar representasi resmi Anies atau sekadar "mendompleng" nama besar beliau.
2. Terpecahnya Basis Suara "Anies Center"
Pendukung Anies Baswedan tersebar di berbagai partai yang sudah mapan (seperti PKS, PKB, dan NasDem). Mengajak mereka meninggalkan partai lama untuk pindah ke partai baru sangatlah sulit. Loyalitas pemilih terhadap partai ideologis seringkali lebih kuat daripada loyalitas terhadap tokoh yang tidak memegang kendali partai tersebut secara langsung.
3. Masalah "Coattail Effect" yang Terlambat
Efek ekor jas (coattail effect) paling kuat terjadi saat tokoh tersebut sedang berlaga di Pilpres. Jika PGR baru berkembang saat Anies tidak memiliki panggung jabatan publik (seperti Gubernur atau Capres aktif), momentum politiknya bisa mendingin sebelum pemilu tiba.
4. Keterbatasan Logistik Tanpa "Bandar" Besar
Membangun partai membutuhkan biaya triliunan rupiah. Tanpa dukungan konglomerasi besar atau sumber pendanaan yang stabil, gerakan yang berbasis relawan (organik) seringkali terbentur tembok saat harus membiayai saksi di ratusan ribu TPS di seluruh Indonesia.
5. Stigma "Partai Gurem" di Mata Caleg Potensial
Tokoh-tokoh lokal yang memiliki basis massa (tokoh agama, pengusaha daerah) cenderung memilih bergabung dengan partai yang sudah pasti lolos Parliamentary Threshold. PGR berisiko hanya diisi oleh aktivis atau loyalis yang memiliki semangat tinggi tetapi kekurangan "suara riil" di lapangan.
6. Tantangan Verifikasi KPU yang Melelahkan
Banyak partai baru tumbang bahkan sebelum bertarung karena gagal dalam verifikasi faktual KPU. Persyaratan kantor di seluruh provinsi dan 75% kabupaten/kota adalah ujian fisik dan finansial yang sangat berat bagi partai yang baru seumur jagung.
7. Dominasi Narasi yang Terlalu Elitis
Gerakan pendukung Anies sering kali kuat di wilayah perkotaan dan kalangan menengah terdidik (urban). Namun, untuk menjadi partai besar, PGR harus mampu menembus pemilih pedesaan dan kalangan bawah yang narasinya seringkali lebih ke arah "politik sembako" daripada politik gagasan atau perubahan.
8. Risiko Perpecahan Internal Relawan
Relawan Anies sangat cair dan terdiri dari banyak faksi. Menyatukan ego para tokoh relawan ke dalam satu struktur partai yang kaku seringkali memicu konflik internal. Jika Sahrin Hamid gagal merangkul semua faksi relawan, PGR hanya akan menjadi salah satu dari sekian banyak penggalangan massa yang terpecah.
9. CITRA Anies yang suka berkhianat ke yang membawa dia ke panggung kemenangan
10. Sejarah Kelam Partai Baru di Indonesia
Sejarah mencatat partai yang didirikan oleh tokoh populer sekalipun (seperti partai milik Rhoma Irama, atau Hary Tanoe seringkali gagal menembus parlemen pada percobaan pertama. Menjadi "besar" dalam satu kali pemilu adalah anomali yang sangat jarang terjadi dalam sistem politik Indonesia saat ini.
Kesimpulan: Meskipun figur Anies Baswedan adalah aset besar, Partai Gerakan Rakyat menghadapi tantangan struktural dan sistemik yang sangat berat. Tanpa mesin partai yang mampu bekerja melampaui sekadar "jualan nama tokoh," pesimisme terhadap pertumbuhan partai ini menjadi hal yang rasional.



Posting Komentar