Memadukan Kesucian Masyumi dan Ketangguhan Golkar : Berideologilah Seperti MASYUMI, Berpolitiklah Seperti Golkar
Oleh : Abdullah Amas
Dalam panggung sejarah Indonesia, kita mengenal dua kutub besar yang sering kali dianggap berseberangan: Masyumi dengan keteguhan prinsip moralnya, dan Golkar dengan ketangkasan manajerial kekuasaannya. Namun, jika kita menyelami lebih dalam secara metafisika sejarah, perpaduan keduanya bukanlah sebuah kontradiksi, melainkan sebuah puncak kematangan dalam bernegara maupun berkehidupan.
1. Berideologilah Seperti Masyumi: Integritas Tanpa Syarat
Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) bukan sekadar partai politik pada masanya; ia adalah kompas moral. Berideologi seperti Masyumi berarti memiliki akar yang menghujam ke dalam (seperti MIAI) dan menjulang ke langit dengan prinsip yang tidak bisa ditawar.
Kemurnian Tauhid: Masyumi mengajarkan bahwa politik harus memiliki ruh. Tanpa ruh, politik hanyalah perebutan bangkai kekuasaan.
Keteladanan Karakter: Mencontoh Mohammad Natsir atau Syafruddin Prawiranegara berarti mengedepankan kesederhanaan dan kejujuran di atas citra.
Prinsip sebagai Sauh: Di tengah badai pragmatisme, ideologi Masyumi adalah jangkar yang menjaga kapal Anda agar tidak hanyut oleh arus tren sesaat atau "reinkarnasi-reinkarnasi" politik yang kehilangan substansi.
2. Berpolitiklah Seperti Golkar: Adaptasi dan Eksistensi
Jika Masyumi adalah "Akar dan Batang", maka Golkar adalah "Dahan yang Rindang dan Buah yang Nyata". Berpolitik seperti Golkar berarti memahami realitas lapangan dan memiliki kemampuan untuk mengeksekusi visi menjadi aksi.
Karya Kekaryaan: Politik bukan sekadar debat ideologis di awang-awang, melainkan tentang membangun struktur, stabilitas, dan hasil nyata (pembangunan).
Navigasi Kekuasaan: Golkar mengajarkan cara bertahan dalam berbagai zaman. Ini adalah simbol dari ketangguhan (resilience) dan kemampuan membaca arah angin tanpa harus kehilangan pohon tempat bernaung.
Manajemen Strategis: Berpolitik seperti Golkar berarti mengedepankan profesionalisme dan pengorganisasian yang rapi. Ideologi yang hebat akan lumpuh tanpa manajemen yang kuat.
3. Sintesis: Koalisi Langit dan Bumi
Mengapa kita harus menggabungkan keduanya? Karena ideologi tanpa politik akan menjadi utopia yang terasing, sementara politik tanpa ideologi akan menjadi tirani yang hampa.
Alam sering kali mengirimkan pesan melalui peristiwa hidup kita—pertemuan dan perpisahan—untuk menunjukkan bahwa kita tidak bisa hanya berdiri di satu kaki.
Masyumi memberikan kita "Alasan" (Why): Mengapa kita berjuang? Untuk Tuhan dan kebenaran.
Golkar memberikan kita "Cara" (How): Bagaimana cara memenangkan perjuangan itu di dunia nyata? Dengan organisasi, strategi, dan stabilitas.
Kesimpulan: Menjadi Manusia yang Utuh
Berhenti mencari "reinkarnasi" dari masa lalu yang sudah usai. Sejarah tidak sedang berulang, sejarah sedang berevolusi.
Saat Anda mampu memegang teguh prinsip langit ala Masyumi namun tetap lincah memainkan peran bumi ala Golkar, Anda tidak lagi sekadar menjadi pengikut sejarah. Anda menjadi penulisnya. Inilah jalan tengah yang kokoh: memiliki hati yang suci untuk memberi, dan tangan yang kuat untuk memimpin.
"Ideologi adalah kompasnya, Politik adalah kapalnya. Tanpa kompas kita tersesat, tanpa kapal kita tenggelam."


Posting Komentar