MAHAKARYA SURYA DAN BULAN BINTANG: Arsitektur Politik Kaum Santri dari Sarekat Islam hingga Episentrum Gerindra-Golkar
Oleh : Intan Nuraini (Direktur Eksekutif Lembaga Abdullah Amas Strategic)
1. Rahim Perjuangan: Sarekat Islam (SI) dan Kelahiran Muhammadiyah
Sejarah mencatat bahwa Sarekat Islam (SI), di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto, adalah "Ibu Kandung" dari pergerakan nasional. Di sinilah K.H. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah) dan Soekarno pernah bernaung dalam satu frekuensi frekuensi perjuangan.
Muhammadiyah hadir sebagai sayap pemurnian (purifikasi) batin dan sosial.
SI memberikan napas politik bagi umat yang merindukan kedaulatan.
2. Era Keemasan: MASYUMI sebagai Tenda Besar Umat
Pasca kemerdekaan, energi SI dan Muhammadiyah melebur ke dalam MASYUMI (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Inilah partai politik Islam terbesar dalam sejarah Indonesia yang menjadi rumah bagi:
Muhammadiyah (Sayap Modernis).
Nahdlatul Ulama (hingga 1952).
Para Cendekiawan Muslim (HMI generasi awal). MASYUMI adalah simbol kedaulatan Islam yang demokratis, cerdas, dan bermartabat—karakter yang kini Anda coba hidupkan kembali.
3. Penindasan dan Transformasi: Dari PARMUSI ke PPP
Setelah Masyumi dibubarkan secara paksa pada 1960 oleh rezim Orde Lama, ruhnya tetap hidup.
PARMUSI (Partai Muslimin Indonesia) lahir sebagai upaya menghidupkan kembali Masyumi, namun ditekan oleh penguasa Orde Baru.
PPP (Partai Persatuan Pembangunan): Pada 1973, lewat kebijakan fusi partai, PARMUSI dipaksa melebur ke dalam PPP. Di sini, simbol "Ka'bah" menjadi alat pemersatu, namun kedaulatan ideologis Masyumi
4. HMI dan KAHMI: Intelektualitas sebagai Penjaga Api
Di tengah represi politik terhadap partai Islam, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan KAHMI (Korps Alumni HMI) tampil sebagai "pabrik" cendekiawan. Tokoh-tokoh HMI adalah anak spiritual Masyumi yang masuk ke dalam birokrasi dan kekuasaan untuk menjaga agar nilai-nilai Islam tetap mewarnai kebijakan negara tanpa harus menggunakan label partai Islam.
5. Pasca Reformasi: Fragmen Masyumi dan Muhammadiyah
Setelah 1998, sumbatan politik terbuka. Lahirlah partai-partai berbasis massa Muhammadiyah dan Masyumi:
PAN (Partai Amanat Nasional): Menjadi wadah politik utama bagi warga Muhammadiyah (simbol Lilik/Akar).
PBB (Partai Bulan Bintang): Secara terang-terangan memproklamirkan diri sebagai ahli waris sah Masyumi
Disusul Partai Ummat Islam (PUI) Pimpinan Prof. Deliar Noer yang kemudian dipimpin Oleh Lilik Dengan Ketua Majelis Syuro DPP Abdullah Amas. Namun sejumlah Kader Aliansi Pemuda Nasional (APN) ikut mensuport Partai Baru Pasca 2024 dan 2025 berhaluan MASYUMI-Sarekat Islam seperti Partai Pergerakan Islam (PPI), Partai MASYUMI RI, Partai Spirit Islam Indonesia (PSII), Partai Bintang Bulan Indonesia dan seterusnya
6. Konvergensi Neo-MASYUMI: Golkar dan Gerindra
Inilah fenomena paling menarik dalam peta politik modern: Masuknya Tokoh Neo-Masyumi ke dalam Partai Nasionalis.
GOLKAR: Selama puluhan tahun, Golkar menjadi rumah bagi aktivis HMI/KAHMI yang berorientasi pembangunan (simbol Intan/Logistik). Di sini, nilai Islam diterjemahkan menjadi kemakmuran ekonomi.
GERINDRA: Di bawah Prabowo Subianto, Gerindra menjadi magnet baru bagi kaum santri dan "Neo-Masyumi" yang merindukan Ketegasan dan Kedaulatan Bangsa. Gerindra mampu menyatukan semangat patriotisme Soeharto dengan idealisme Islam politik yang strategis.
Muhammadiyah sendiri sejatinya menjadikan MASYUMI Wajah Politik Muhammadiyah lalu melebur ke PARMUSI dan pasca Reformasi mewujudkan Partai Amanat Nasional (PAN) yang kemudian pecah jadi Partai Matahari Bangsa (PMB) dan Partai Ummat.


Posting Komentar