Telusuri
24 C
id
  • Internasional
  • Daerah
  • Bisnis
  • Agama
  • Keluarga
  • Kontak
  • Iklan
Amas Persada News
pasang
  • Home
  • Politik
    • All
    • Politik
    • Pemerintahan
    • Pilkada
    • Tokoh Politik
  • Pemerintahan
    • Pemerintahan
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Organisasi
Amas Persada News
Telusuri
Beranda Pro Kontra Operasi Bahlil Amputasi Ijeck Dari Posisi Ketua DPD I Golkar Sumut Pro Kontra Operasi Bahlil Amputasi Ijeck Dari Posisi Ketua DPD I Golkar Sumut

Pro Kontra Operasi Bahlil Amputasi Ijeck Dari Posisi Ketua DPD I Golkar Sumut

Redaksi APN
Redaksi APN
21 Des, 2025 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


 Pro Kontra Operasi Bahlil Amputasi Ijeck Dari Posisi Ketua DPD I Golkar Sumut


 Pro-Kontra Sosok Ijeck Yang Dicopot Dari Ketua DPD I Golkar Sumut, Berikut Ulasan Imbangnya 




SENTRALISTIK PENGGANTIAN IJECK ( Musa Rajekshah ) 


OLEH: Dewi Teruna DT  WARTAWATI ( WAPEMRED HARIAN BERITA SORE) 


 Penggantian Ijeck  sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sumatera Utara oleh DPP Golkar Pusat dianggap para kader Golkar Sumut mencederai rasa keadilan dan etika organisasi.


Keputusan ini terkesan mengabaikan kerja politik nyata yang telah dibangun Ijeck dari bawah: konsolidasi kader, penguatan struktur, hingga capaian elektoral yang mengangkat marwah Golkar Sumut. Ini bukan sekadar soal jabatan, tetapi soal penghargaan terhadap kerja, loyalitas, dan pengorbanan kader daerah.


Kawan aktivis, memandang bahwa partai politik tidak boleh dikelola dengan logika sentralistik yang menutup mata terhadap realitas di daerah. Ketika prestasi diabaikan dan keputusan diambil tanpa dialog, yang tercederai bukan hanya individu, tetapi demokrasi termasuk internal partai itu sendiri.


Golkar adalah partai besar yang lahir dari sejarah panjang perjuangan, bukan partai yang dibesarkan oleh keputusan elitis. Jika kerja keras kader daerah tidak dihargai, maka kepercayaan akar rumput akan terkikis, dan ini menjadi alarm serius bagi masa depan soliditas Golkar terutam di Sumatera Utara. *Dewi Budiati* Prabowo Subianto Yulie Loebiist Riza Fakhrumi Tahir Bobby Nasution Rico Waas  Dzulmi Eldin Rahudman Harahap Sri Duni Lubis Ahmad Taufan Damanik Abdul Rauf Ismail Abdi Yanto  Hinca IP Pandjaitan Bayek Rambe




Tulisan Kontra






Penulis Oleh : M Rizki SE




Dalam dinamika politik, adagium “apa yang ditabur, itulah yang dituai” bukan sekadar pepatah. Ia nyata, hidup, dan terus berulang. Dan barangkali kini, hal itu sedang dialami oleh Musa Rajekshah alias Ijeck, Ketua DPD Partai Golkar Sumatera Utara yang beberapa tahun terakhir menjadi tokoh sentral dalam pergerakan partai beringin di daerah ini.




Pada Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sumut tahun 2020, Yasir Ridho Lubis sebenarnya telah terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD. Ia didukung mayoritas DPD II dari kabupaten/kota. Namun kemenangan itu dibatalkan lewat intervensi pusat. Ijeck, yang pada saat itu bahkan belum jelas rekam kaderisasinya di internal Golkar, justru dilantik menjadi ketua. Sebuah proses yang menyisakan luka dan kekecewaan di banyak kalangan kader akar rumput.




Tak lama berselang, Yasir Ridho dicopot dari jabatannya sebagai Wakil Ketua DPRD Sumut. Alasan resmi memang administratif. Tapi dalam benak banyak kader, langkah ini merupakan bagian dari eliminasi politik terhadap lawan yang pernah menyaingi di Musda. Sebuah pola yang dianggap mencederai semangat demokrasi partai.




Kini, lima tahun berlalu, situasi perlahan berbalik. DPP Golkar tidak memberikan izin kepada Ijeck untuk maju sebagai calon Gubernur Sumut pada Pilkada 2024. Usulan nama yang diajukannya untuk menduduki kursi Ketua DPRD Sumut pun ditolak. Berbagai keputusan strategis yang sebelumnya bisa dilobi, kini tidak lagi berpihak padanya. Ini menjadi pengingat bahwa kekuasaan yang diperoleh secara instan, kerap pula sirna tanpa aba-aba.




Di sisi lain, klaim “prestasi” Ijeck menaikkan jumlah kursi DPRD dari 15 menjadi 22 juga mulai menuai kritik. Banyak yang menyebut keberhasilan itu lebih pantas diberikan kepada para caleg dan kader partai yang bekerja keras di lapangan, bukan semata karena kepemimpinan satu orang.




Ironisnya, beberapa DPD II Golkar di kabupaten/kota kini juga diketahui dipimpin oleh orang-orang yang masih punya hubungan kekerabatan dengan Ijeck dari ipar hingga sepupu. Ini menimbulkan persepsi bahwa partai seolah sedang dijalankan layaknya perusahaan keluarga, bukan organisasi politik publik yang meritokratis.




Menjelang Musda XI Partai Golkar Sumut yang akan segera digelar, narasi “Ijeck harus kembali memimpin” kembali muncul di media. Namun, pertanyaan yang lebih esensial bagi kader hari ini bukan soal siapa tokohnya, melainkan bagaimana arah dan budaya kepemimpinan di tubuh Golkar ke depan. Apakah partai ini akan terus dikelola secara tertutup dan elitis? Ataukah saatnya memberi ruang bagi pemimpin yang lebih kolektif, transparan, dan tidak terjebak dalam pusaran kroni serta politik balas dendam?




Intervensi pusat memang bagian dari realitas politik nasional. Tapi pemimpin daerah harus mampu memanfaatkan kepercayaan itu untuk membangun partai, bukan sekadar mengukuhkan lingkaran kekuasaan pribadi. Golkar adalah partai besar, dan para kadernya berhak mendapatkan kepemimpinan yang adil, inklusif, serta tidak menjadikan partai sebagai alat politik keluarga.




“Tabur-tuai itu nyata,” dan sejarah telah membuktikan: kekuasaan yang diraih dengan menyingkirkan kader, bisa pula berbalik menyingkirkan pemiliknya.




Musda XI ini bukan sekadar pemilihan ketua. Ia adalah momentum penentuan arah. Golkar Sumut harus kembali pada marwahnya: partai kader, bukan partai keluarga.


Ini tanggapan dari Abdullah Amas, 

Abdullah Amas (Mantan Politisi Golkar / Direktur Eksekutif Forum Politisi Alumni Golkar/FPAG) menyampaikan berikut : 


Dinamika yang menimpa Musa Rajekshah (Ijeck) hari ini adalah sebuah "Déjà Vu Politik" yang sempurna. Jika Dewi Teruna melihat ini sebagai luka keadilan, dan M. Rizki melihatnya sebagai hukum tabur-tuai, saya melihatnya sebagai Operasi Sterilisasi Beringin.


Golkar Sumut saat ini sedang berada di persimpangan antara mempertahankan "Legacy Personal" atau kembali ke "Khittah Organisasi". Mari kita bedah dengan kacamata yang lebih "menggigit":


1. Hukum Newton dalam Politik: Aksi vs Reaksi

Ijeck harus menyadari bahwa di Golkar, "pusat" adalah gravitasi. Dulu, gravitasi itu menariknya ke atas dengan membatalkan kemenangan Yasir Ridho yang notabene adalah kader tulen. Hari ini, gravitasi yang sama menariknya ke bawah. Ini bukan soal sentralisme yang buta, tapi soal konsistensi mekanisme. Anda tidak bisa memuji intervensi pusat saat menguntungkan Anda, lalu memaki intervensi tersebut saat giliran Anda yang "ditepikan".


2. Jebakan "Family Company" di Tubuh Partai

Poin yang diangkat M. Rizki soal kerabat di DPD II adalah alarm maut. Golkar adalah aset publik, bukan "Perseroan Terbatas" (PT). Jika benar struktur partai dari provinsi hingga daerah diisi oleh lingkar kekerabatan, maka Ijeck sebenarnya sedang membangun "Istana Pasir". Megah dilihat, tapi rapuh saat diterjang ombak DPP. Kader-kader ideologis yang berkeringat puluhan tahun tidak akan rela partai ini berubah menjadi dinasti lokal.


3. Prestasi Kursi: Milik Siapa?

Mengklaim kenaikan 22 kursi sebagai prestasi tunggal adalah kenaifan politik. Di Sumut, mesin Golkar itu adalah "raksasa tidur" yang digerakkan oleh tokoh-tokoh lokal di kabupaten/kota. Kursi itu adalah tetesan keringat caleg, bukan sekadar polesan baliho sang ketua. DPP Golkar di bawah kepemimpinan baru tentu punya kalkulasi: Apakah 22 kursi itu karena Ijeck, atau karena Golkar memang sedang kuat di bawah?


4. Musda XI: Momentum "Cuci Gudang"

Pencopotan Ijeck adalah pesan jelas dari Jakarta bahwa "Musim Ijeck Sudah Usai". Upaya narasi "Ijeck Kembali" di media hanyalah upaya bargaining terakhir yang terlihat putus asa. DPP sedang melakukan sterilisasi agar Golkar Sumut tidak tersandera oleh satu faksi yang dianggap terlalu dominan dan eksklusif.


"Di Golkar, tidak ada orang yang lebih besar dari partai. Siapa pun yang mencoba merasa lebih besar dari beringin, sejarah membuktikan mereka akan tumbang oleh rontoknya daun beringin itu sendiri."


Ijeck telah memainkan perannya, dan kini panggung harus berganti. Musda XI bukan soal memilih siapa yang paling kaya atau paling populer, tapi siapa yang mampu mengembalikan Golkar Sumut sebagai Laboratorium Kader, bukan Arisan Keluarga.

- begitu dua tulisan diatas

Ini ada Tulisan lain ;

Habis Yasir Ridho, Terbitlah Ijeck dan Menanglah HYS


Dinamika politik Partai Golkar selalu mengajarkan satu hal. Jangan pernah bertaruh pada ketidakkepastian. Di dunia politik, kekuasaan bisa gugur sewaktu-waktu, dan tahta bisa berpindah hanya dengan satu lembar surat.


Kini, pusaran itu kembali berputar di Sumatera Utara. Musa Rajeckshah (Ijeck) tak lagi berdiri sebagai Ketua DPD Golkar Sumut. Jabatan itu dicabut, dan seperti deja vu politik, DPP kembali mengirim Ahmad Doli Kurnia (ADK) sebagai Plt. Tugasnya klasik namun menentukan, konsolidasi dan Musda. Tapi di Golkar, Musda bukan sekadar forum demokrasi internal, ia adalah arena penentuan nasib politik.


Sejarah Golkar Sumut membuktikan, Musda tak selalu dimenangkan oleh suara terbanyak, melainkan oleh siapa yang paling dekat dengan pusat kekuasaan.


Tahun 2020, Yasir Ridho Lubis terpilih secara aklamasi. Sah secara forum, menang secara suara. Namun apa daya, satu celah administratif cukup untuk menggugurkan segalanya. Musda dianulir, hasilnya dibatalkan, dan pada pengulangan Musda di Jakarta, Ijeck dinobatkan sebagai pemenang. Banyak yang menyebutnya kudeta. Tapi politik tak pernah alergi pada istilah itu, selama hasilnya menguntungkan.


Kini, 2025, pola yang sama kembali terhampar. ADK kembali datang. Ijcek yang dulu dimenangkan, kini berhenti. Musda kembali disiapkan. Seolah Golkar Sumut berjalan di atas rel lama dengan lokomotif baru.


Bedanya, kali ini muncul satu nama yang tak bisa diabaikan, Hendri Yanto Sitorus (HYS). Bupati muda dari Labuhanbatu Utara ini bukan kader karbitan. Ia lahir, tumbuh, dan matang di rahim Partai Golkar. Tuduhan sebagai “anak yang lupa teman” terdengar lebih seperti kecemasan kaum tua yang mulai kehabisan panggung. Faktanya, politik memang tak menyediakan kursi pensiun kehormatan.


Mereka yang sudah kepala lima ke atas seharusnya paham bahwa regenerasi bukan pengkhianatan, melainkan keniscayaan.


HYS tidak datang untuk menggulingkan siapa pun. Ia hadir karena pintu itu dibuka oleh Partai Golkar sendiri. Ketika partai memberi ruang, kader yang maju bukanlah pembangkang, ia hanya sedang menjalani takdir politiknya.


Menyebut pencalonan HYS sebagai kudeta adalah cara kerja logika para pemalas. Semua kader punya hak yang sama untuk naik kelas. Jika mencalonkan diri saja sudah dianggap makar, maka Golkar sedang mematikan demokrasi internalnya sendiri.


Sejarah Golkar Sumut mengajarkan satu pola sederhana. Yang jatuh bukan karena kalah, tapi karena tak lagi direstui. Jika sejarah memang gemar berulang, maka sangat wajar bila publik membaca tanda-tanda bahwa HYS akan menjadi Ketua Umum Golkar Sumut.


Sebagai warga Labuhanbatu Utara, saya tentu berharap angin DPP berembus ke arah yang benar. Bukan sekadar memenangkan figur, tapi menghadirkan energi baru bagi Golkar Sumut yang terlalu lama berputar di lingkaran elite lama.


Habis Yasir Ridho, Terbitlah Ijeck dan Menanglah HYS


Ttd,

Ucok Majnun


Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement

Berita Pilihan

Ormas AMAS (Amanat Bangsa) Dan Partai AMAS Didirikan

Redaksi APN- Februari 06, 2026 0
Ormas AMAS (Amanat Bangsa) Dan Partai AMAS Didirikan
Abdullah Amas Deklarasikan AMAS: "Kami Ormas Sekaligus Partai, Kiblatnya Gerakan Muhammadiyah!" JAKARTA – Bertepatan dengan momentum spiritual Juma…

Berita Populer

KB-PII GELAR RAKORNAS INDONESIA RAMADHAN EXPO (INRA)

KB-PII GELAR RAKORNAS INDONESIA RAMADHAN EXPO (INRA)

Januari 31, 2026
Masuk ke Kandang Singa : Membedah Alasan Indonesia dan 7 Negara Islam di Meja Perundingan AS

Masuk ke Kandang Singa : Membedah Alasan Indonesia dan 7 Negara Islam di Meja Perundingan AS

Januari 31, 2026
Lagi, Lagi, dan Lagi! Muhammad Qasim Kembali Guncang Trending Topic X Amerika Serikat: Barometer Dunia Bergetar?

Lagi, Lagi, dan Lagi! Muhammad Qasim Kembali Guncang Trending Topic X Amerika Serikat: Barometer Dunia Bergetar?

Februari 02, 2026

Recent Comments

Berita Pilihan

Geger! "Sindiran Maut" Nandang Burhanudin: Tamparan Keras untuk Retorika Langit Ketum Partai Gelora Anis Matta?

Geger! "Sindiran Maut" Nandang Burhanudin: Tamparan Keras untuk Retorika Langit Ketum Partai Gelora Anis Matta?

Desember 20, 2025
Kisah Nyatanya : Pertolongan Allah Bertubi-Tubi Setelah Menghapus Pemajangan Gambar Bernyawa

Kisah Nyatanya : Pertolongan Allah Bertubi-Tubi Setelah Menghapus Pemajangan Gambar Bernyawa

Desember 20, 2025
GUNCANG DHAKA! Nama Muhammad Qasim Meledak di Twitter (X) Bangladesh Saat Perayaan Hari Kemenangan 16 Desember

GUNCANG DHAKA! Nama Muhammad Qasim Meledak di Twitter (X) Bangladesh Saat Perayaan Hari Kemenangan 16 Desember

Desember 17, 2025

Trending News

KB-PII GELAR RAKORNAS INDONESIA RAMADHAN EXPO (INRA)

KB-PII GELAR RAKORNAS INDONESIA RAMADHAN EXPO (INRA)

Januari 31, 2026
Masuk ke Kandang Singa : Membedah Alasan Indonesia dan 7 Negara Islam di Meja Perundingan AS

Masuk ke Kandang Singa : Membedah Alasan Indonesia dan 7 Negara Islam di Meja Perundingan AS

Januari 31, 2026
Lagi, Lagi, dan Lagi! Muhammad Qasim Kembali Guncang Trending Topic X Amerika Serikat: Barometer Dunia Bergetar?

Lagi, Lagi, dan Lagi! Muhammad Qasim Kembali Guncang Trending Topic X Amerika Serikat: Barometer Dunia Bergetar?

Februari 02, 2026
Amas Persada News

About Us

Amas Persada News Menyajikan Berita Akurat dan Terpercaya, Enak dibaca dan Mendobrak Fakta

Contact us: amaspersadanews@gmail.com

Follow Us

© Copyright Amas Persada News 2024 apn
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Sanggah/Jawab
  • Iklan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kontak