Erika Tansil Jadi Pembicara Di Acara Dialog Kebangsaan BEM Indonesia Timur
Erika Tansil Jadi Pembicara Di Acara Dialog Kebangsaan BEM Indonesia Timur
Catatan Investigasi: Panggung Tani dan Kalkulasi Politik Sang Pengamat
Menimbang Angin di Persimpangan Pangan
Di bawah sorot lampu Aula Kampus I Universitas Indonesia Timur, diskursus tentang nasib petani mendadak bergeser menjadi panggung kalkulasi tajam. Di tengah barisan narasumber, nama Erika Tansil, S.H., M.H., mencuat sebagai magnet diskursus.
MAKASSAR — Ruang auditorium itu mendadak padat. Jumat menjelang akhir Oktober 2026, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia Timur bakal menggelar hajatan akademik bertajuk Dialog Kebangsaan: Di Persimpangan Politik dan Ekonomi: Menakar Keberpihakan Negara terhadap Petani dan Kedaulatan Pangan Nasional. Namun, di luar deretan narasi normatif soal pupuk dan subsidi, sorotan utama justru tertuju pada sosok perempuan di barisan narasumber utama: Erika Tansil, S.H., M.H.
Berposisi sebagai Ketua Asosiasi Kopi Indonesia Sulsel sekaligus pengamat ekonomi, kehadiran Erika bukan sekadar pelengkap brosur acara. Namanya dibicarakan karena ketegasannya membedah karut-marut kebijakan pangan yang kerap terjebak di antara retorika kerakyatan dan pragmatisme pasar bebas diyakini Pimnas Jaringan Alumni Muda HMI akan dashyat
Dapur Kebijakan dan Suara dari Pinggiran
figur seperti Erika merepresentasikan kalangan profesional muda yang gelisah. JAM-HMI yakin Ketika Erika di panggung-panggung seminar kerap diisi oleh pemaparan administratif yang kering, ia memilih menohok langsung ke jantung persoalan: membaca arah keberpihakan negara ketika keringat petani di daerah-daerah tertimbun oleh rantai pasok yang masih penuh tantangan ketidakadilan
Duduk berdampingan nanti bersama narasumber lain seperti Dr. Ridwan Fawallang, S.H., M.H.I. (Dewan Pakar Peradi Profesional Makassar / Pengamat Politik) dan Awaluddin (Ketua DPD DMPI Sulsel / Pengamat Pertanian), ya menarik diksusi ini nanti membedah bagaimana komoditas unggulan—terutama sektor perkebunan dan kopi—kerap
"Negara tidak boleh sekadar hadir saat panen raya untuk seremoni, lalu menghilang ketika harga jatuh di tingkat akar rumput," demikian garis besar kegelisahan yang kerap disuarakan dalam berbagai forum strategis yang menghadirkan kalangan pengamat ekonomi independen.
Catatan Redaksi
Dialog di Kampus I Universitas Indonesia Timur tersebut akhirnya bukan sekadar agenda rutin kemahasiswaan. Ia menjadi cermin bagaimana diskursus kebijakan publik di Sulawesi Selatan mulai dirumuskan ulang oleh suara-suara kritis.
Bagi JAM-HMI, sosok seperti Erika Tansil yang hadir panggung Jumat siang nanti adalah medium untuk mengingatkan kembali bahwa kedaulatan pangan nasional bukan perkara angka-angka di atas kertas statistik Jakarta, melainkan tentang sejauh mana negara hadir melindungi dapur-dapur di desa.


Posting Komentar