Hikmatnya Giat Menghidupkan Kembali "Raja Tanpa Mahkota" di Meja Pengajian Bulanan DPP PSII
Keterangan Gambar : Hikmatnya Giat Menghidupkan Kembali "Raja Tanpa Mahkota" di Meja Pengajian DPP PSII
Gagasan Tjokroisme kembali digelorakan dari ruang-ruang diskusi Partai Syarikat Islam Indonesia. Bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan ikhtiar membaca ulang arah peradaban bangsa.
Di sebuah ruangan sederhana di Markas Dewan Pimpinan Pusat Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Jalan Latumenten, Grogol, Jakarta Barat, aroma dupa sejarah seolah berhembus kembali. Minggu siang, 23 Agustus 2026, di tengah sisa-sisa semarak peringatan 81 tahun kemerdekaan Republik, para pengurus dan kader duduk menyimak khidmat. Di hadapan mereka, Dr. Aji Dedi Mulawarman—akademisi sekaligus pemerhati pemikiran Syarikat Islam—berdiri merangkai ulang benang merah pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto.
Bagi Aji Dedi, lelaki asal Peneleh, Surabaya, yang akrab dengan denyut intelektual pergerakan, Tjokroaminoto bukanlah figur masa lalu yang cukup ditaruh dalam bingkai museum. Tokoh yang dijuluki De Tjokro itu adalah cetak biru cara pandang merdeka. Di bawah kepemimpinan Presiden DPP PSII KH Muflin Chalif, forum pengajian bulanan itu pun disulap menjadi panggung koreksi atas jalan panjang kebangsaan hari ini.
Dalam pemaparannya, Aji Dedi mengingatkan bagaimana Peneleh pernah menjadi rahim ide, tempat di mana embrio pergerakan Islam dan nasionalisme disemai. Dari kamar-kamar kos di rumah Tjokroaminoto, lahir tokoh-tokoh dengan haluan ideologi warna-warni yang kelak membidani republik: Soekarno sang nasionalis, Semaun dan Musso yang kiri, hingga Kartosoewirjo. Mereka menimba ilmu dari sumber yang sama, bawah asuhan sang "Raja Tanpa Mahkota".
Namun, ada satu kata kunci yang terus diulang Aji Dedi: zelfbestuur, atau pemerintahan sendiri. Di tengah cengkeraman kolonialisme tempo doeloe, konsep ini bukan sekadar siasat politik, melainkan manifestasi ketahanan mental untuk berdiri di atas kaki sendiri. Tjokroaminoto, catat Aji Dedi, melihat kemerdekaan tidak cukup hanya diraih lewat perebutan kekuasaan, melainkan harus diakar-kuatkan lewat kemandirian ekonomi, pendidikan yang memerdekakan, serta keluhuran kebudayaan.
Jejak itu terbukti nyata dalam sejarah ekonomi kerakyatan. Jauh sebelum Mohammad Hatta mengartikulasikan koperasi sebagai sokoguru perekonomian bangsa, benih-benih gagasan kooperatif itu telah tumbuh subur dalam rahim Sarekat Dagang Islam (SDI) sejak 1905. Sebuah upaya perlawanan kaum pribumi terhadap dominasi modal asing melalui jalur ekonomi.
Kini, ketika Indonesia dihadapkan pada gelombang liberalisasi ekonomi, gempuran teknologi, dan pergeseran sosial yang kian beringas, kita semua menilai Tjokroisme menemukan kembali Urgensinya. Tantangan zaman telah berubah bentuk
Warisan Tjokroaminoto mesti diterjemahkan ke dalam program-program konkret yang membumi—memperkuat ekonomi umat, merawat moral beragama yang bersanding mesra dengan kebudayaan Nusantara, serta mencetak kembali manusia-manusia merdeka yang tahan banting.
Sebab, sebagaimana pesan yang mengalun di ruang pengajian siang itu: bangsa yang melupakan akar pemikirannya, sama saja sedang berjalan menuju senjakala peradaban.
Langkah Nyata Di Jatim
Di Jatim, Kader PSII Abdullah Amas menggalang KOPASUS (Komite Pemberantasan Parkir Liar Seluruh Surabaya) demi menolong rakyat kecil yang diganggu Preman Jalanan. Langkah dengan spirit HOS Tjokroaminoto ini adalah langkah besar nan kongkrit karena menyedot perhatian warga Tiktok


Posting Komentar