Eskalasi Turki-Israel Memanas, Jaringan Alumni Muda HMI Himbau Pemerintah Pijak Rem Darurat Penghentian Pengiriman TKI Ke Turki
Kepri - Sebanyak 20 calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) mengikuti pelatihan perdana program SMK Go Global di Kepulauan Riau. Pelatihan yang digelar di Politeknik Pariwisata Batam atau Batam Tourism Polytechnic (BTP) itu menyiapkan peserta untuk bekerja di Turki.
Sementara itu Pimpinan Nasional Jaringan Alumni Muda Himpunan Mahasiswa Islam (JAM-HMI) menghimbau Pemerintah Hentikan Dulu Pengiriman TKI Ke Turki menyusul makin memanasnya eskalasi konflik Turki dan Israel
Terlebih Dalam Pesan Al-Mubasyirat Muhammad Qasim, Turki disikat lebih dulu oleh Israel sebagai Banteng Pertama Pertahanan Dunia Islam
Ya, Tiga Negara yang menandatangi Pakta Pertahanan Di Mekkah yaitu Turki, Arab Saudi dan Pakistan adalah tiga negara yang didalam Al-Mubasyirat Pada Muhammad Qasim adalah tiga benteng Umat Islam hari ini
Bayang-bayang konflik terbuka di Timur Tengah kini mulai mengetuk pintu dapur tenaga kerja Indonesia. Di tengah langkah giat Badan Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kepulauan Riau menggenjot program "SMK Go Global" untuk mengirim gelombang perdana pekerja ke Anatolia, suara peringatan justru bergemerincing dari Jakarta. Ketegangan geopolitik yang meruncing antara Turki dan Israel mendadak memantik alarm darurat di kalangan aktivis muda Islam.
Misi Perdana di Batam Berpacu dengan Gelombang Panas Geopolitik
Gedung Politeknik Pariwisata Batam (BTP) beberapa waktu lalu riuh oleh asa 20 anak muda Kepulauan Riau. Mereka adalah barisan perintis angkatan pertama program SMK Go Global yang diproyeksikan mencicipi pasar kerja internasional di sektor perhotelan. Kepala BP3MI Provinsi Kepri, Kombes Pol. Imam Riyadi, memastikan para peserta telah digembleng secara khusus untuk penguasaan bidang housekeeping.
"Sebanyak 20 orang ini akan kita berangkatkan sesuai dengan job order yang sudah ada, yaitu ke Turki," ujar Imam penuh optimisme, menyambut peluang devisa yang terbuka lebar dari koridor kerja sama bilateral tersebut.
Namun, optimisme birokrat penindungan buruh migran itu langsung berbenturan dengan kalkulasi strategis para pengamat sosial-politik. Di saat yang sama, desakan penghentian sementara justru disuarakan nyaring dari pusat ibu kota.
Gema Peringatan Al-Mubasyirat dan Pakta Mekkah
Ketua Umum Pimpinan Nasional Jaringan Alumni Muda Himpunan Mahasiswa Islam (JAM-HMI), Abdullah Amas, tanpa tedeng aling-aling meminta pemerintah memijak rem darurat. Ia mendesak moratorium sementara pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke wilayah Republik Turki menyusul eskalasi militer yang kian tak tertebak antara Ankara dan Tel Aviv.
Bagi Amas, pertarimbangan keselamatan jiwa warga negara di tanah rantau jauh melampaui kalkulasi ekonomi semata. Terlebih, pembacaan situasi geopolitik tersebut turut dihubungkan dengan eskatologi Islam kontemporer yang diyakini lingkaran internal mereka.
"Terlebih dalam pesan Al-Mubasyirat Muhammad Qasim, Turki disikat lebih dulu oleh Israel sebagai banteng pertama pertahanan dunia Islam," ujar Amas yang juga Pendiri APN (Aliansi Pemuda Nasional) menegaskan urgensi kewaspadaan tingkat tinggi.
Amas mengingatkan kembali memori geopolitik ihwal poros pertahanan strategis yang terbangun di Tanah Suci. Pakta pertahanan yang diteken di Mekkah antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan dipandang sebagai trisula benteng utama umat Islam global hari ini. Ketika pilar terdepan dari poros tersebut mulai bergesekan secara frontal dengan kekuatan zionis, keselamatan para pekerja migran yang mengais rezeki di garis lintasan konflik praktis menjadi taruhan paling nyata yang harus diamankan negara sejak dini.


Posting Komentar