Tendangan Bebas Cak Imin Di Smash Balik Oleh Alumni Muda HMI Dan Anas Urbaningrum Soal Pernyataan Akibat Posisi Ketum PB NU Dipegang HMI
Dari Kiri Ke Kanan : Abdullah Amas, Cak Imin Dan Anas Urbaningrum. JAM-HMI Duga Cak Imin Sengaja Bangkitkan Daya Juang Kader Dan Alumni HMI Lewat Permyataan Kontroversial, Anas Juga Ikut Merespon Cak Imin
Ketua Umum Pimpinan Nasional (PIMNAS) Jaringan Alumni Muda Himpunan Mahasiswa Islam (JAM-HMI) Abdullah Amas menduga Cak Imin sengaja membangkitkan Ghirrah Kader dan Alumni HMI lewat pernyataan kontroversial soal akibat PB NU dipimpin Kader HMI
Amas yang juga Ketua Umum JAMLISMA (Jaringan Alumni Lintas Organisasi Mahasiswa Islam Dan Kebangsaan) beranggotakan Alumni HMI, PMII, FEMMI (Federasi Mahasiswa Muslimin Indonesia) dan lain-lain menyebut soal kelihaian Cak Imin justru kerap lebih lihai dari Alumni HMI dan terlihat keren. Tapi Statment Terbarunya yang terkesan panik soal HMI membuat kadar keren Cak Imin sedikit turun.
Di akhir statment, Amas mengajak Cak Imin dan seluruh keluarga besar HMI dan PMII mempelajari Al-Mubasyirat Sayyid Muhammad Qasim dari Pakistan cara agar persaudaraan Islam terjaga
Anas Urbaningrum
Tokoh Nasional Anas Urbaningrum, Alumni HMI juga ikut merespon, via Twitter ini pernyataan Anas " Kok kayak kekurangan kosa kalimat aja sampeyan
@cakimiNOW
.
Padahal sampeyan dikenal punya kelebihan dalam hampir semua hal. Politisi aktivis dan pemimpin yg lengkap kap.
Sehat, waras dan sukses terus ya, Cak.
Salam paseduluran."demikian unggah Anas di Twitter
Sebagai figur yang lekat dengan turbulensi sejarah HMI dan lanskap politik nasional, kehadiran suara Anas menambah riuh panggung. Respon ini mempertegas satu hal: HMI bukanlah sekadar ormas mahasiswa masa lalu yang bisa disentil tanpa memantik riak gelombang balik.
Bagi para pengamat, panggung ini memperlihatkan bagaimana jejaring eksponen kampus tetap menjadi komoditas seksi. Cak Imin boleh saja menguji turbulensi kolam NU dan HMI demi mendulang panggung elektoral. Namun, ketika gairah itu telanjur disulut, pertanyaannya bukan lagi seberapa lihai ia melempar isu, melainkan apakah ia siap menanggung badai dari kader-kader yang terusik di akar rumput.


Posting Komentar