Catatan Agung Mozin : Rachmat Gobel Bukan Politisi Biasa
_*Rachmat Gobel Bukan Politisi Biasa*_
_*Oleh Agung Mozin*_
Tulisan ini hanya sebagian kecil dari kenangan persahabatan lama saya dengan Rachmat Gobel, yang kini telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya "Inalillahi wainnailaihi Rojiun".
Karena beliau tokoh maka banyak orang yang mempunyai memori pribadi ataupun memori kolektif atas keberadaannya, sehingga semua orang itu punya cerita tentang almarhum RG begitu biasa beliau disapa.
Rasanya tidak cukup ruang ini menceritakan persahabatan kami berdua yang pernah mengalami pasang surut, dari sekedar teman biasa menjadi sahabat karib.
Persahabatan ini dimulai dengan kehadirannya dalam kegiatan sosial masyarakat Gorontalo di Jakarta dalam sebuah paguyuban Gorontalo perantauan yaitu "Lamahu".
Lamahu pada masa itu menjadi kendaraan yang pas dan nyaman untuk RG mengimplementasikan keinginannya untuk membantu warga Gorontalo se Jabodetabek dengan sumber dana yang besar yang dialokasikan dari usaha yang berhasil dibangun oleh Almarhum Gobel Senior (Kak Ebu)
Ketika itu RG sebagai pelaku usaha punya wadah pengabdian lainnya secara nasional melalui organisasi Kadin sampai mencapai puncak sebagai salah wakil ketua umum Kadin dan menjadi salah satu kandidat Ketua Umum Kadin yang kemudian meninggalkan catatan yang memilukan dengan Kadin Gorontalo.
Sebagai orang politik sungguh saya melihat potensi besar pada diri seorang RG jika terjun ke dunia politik, sehingga saya dalam banyak kesempatan untuk mengingatkan RG agar masuk ke salah satu Partai Politik yang akrab dengan Kadin yaitu Partai Golkar namun dia selalu menolak. Dorongan saya kepada RG untuk masuk ke dunia politik semakin kencang ketika Gorontalo menjadi Provinsi.
Lahirnya Provinsi Gorontalo tidak terlepas dari dukungan finansial RG sebagai bentuk kepedulian dan kecintaannya pada tanah leluhurnya yang selalu merasakan ketidakadilan politik dan ekonomi dari provinsi induk kita saat itu (Sulut), pada saat ini hubungan saya dengan RG semakin akrab karena menjadi salah satu pintu masuk warga Gorontalo berkomunikasi dengan RG soal-soal organisasi termasuk Lamahu, Panitia pembentukan provinsi Gorontalo sampai pada satu saat saya diminta menjadi Sekjen Lamahu mendapingi Ketua Umum waktu itu adalah almarhum Kak Tui Niode (kakak ipar RG) dan dilanjutkan menjadi Ketua Umum Lamahu atas dukungan penuh Almarhum RG.
RG sebagai fungsionaris di Kadin tentu mempunyai link dengan banyak elite pelaku usaha dan politik di tingkat nasional, pada satu saat saya diajak untuk sebuah pertemuan terbatas disebuah restoran milik RG kalau tidak salah nama restorannya "Gondola". Pertemuan terbatas ini dihadiri oleh Penguasa Besar kolega RG " Cherul Tanjung, Edi Kuntadi, Ricky Rahmadi, Hatta Rajasa (ketika itu sudah menjadi Sekjen Partai Amanat Nasional) serta RG sendiri dan saya. Pertemuan inilah yang mengantarkan saya menjadi anggota dan fungsionaris Partai Amanat Nasional) atas rekomendasi RG kepada Hatta Rajasa. Ketika saya sudah menjadi fungsionaris PAN saya kemudian mengambil inisiatif dan lobby kepada beberapa elite partai yang saya kenal saat itu untuk menjadi RG sebagai bendahara umum PAN, namun lagi-lagi dia menolak menjadi aktivist partai politik, padahal Pan sudah siap menerima RG jika bersedia.
Ketika Provinsi Gorontalo berdiri, figur RG menjadi harapan elite Gorontalo waktu itu untuk menjadikan sebagai Kandidat Gubernur (saksi hidup saat ini bapak Abdulah Karim), lagi-lagi RG menolak, namun saya bersama politisi Gorontalo lainnya membujuk dan merayu RG yang menimbulkan dinamika politik Gorontalo saat sangat dinamis. Kondisi inilah kemudian menempatkan RG sebagai tokoh alternatif selain Fadel Muhammad waktu dan saya ketika memainkan isue ini secara maksimal dan sangat sentral.
Pada satu saat hubungan saya dengan RG meredup karena gesekan-gesekan kecil di organisasi Lamahu dan sampai RG sudah lepas dan melepaskan pengaruhnya di organisasi Lamahu. Dan Lamahu saat ini sudah pindah kendali ke tangan orang lain tidak setulus ketika RG didalamnya.
Ketika RG menjadi menteri perdagangan dan wakil ketua DPR-RI tidak membua saya tertarik untuk datang mendekat sekalipun bagi saya sebagai orang politik bahwa posisi RG sungguh penting dan strategis. Pada satu saat RG sudah tidak lagi menjadi Wakil Ketua DPR-RI saya mengirim pesan singkat untuk membangun komunikasi kembali karena saya merasa bahwa RG perlu teman diskusi mengahadapi dinamika politik yang sering mengalami turbulensi, sejak saat itulah kami sering berkomunikasi via telephone dan disusul dengan dua kali undangan RG di sebuah kantornya di seputar Senayan city Jakarta.
Ketika RG dijadikan sasaran tembak dan dicoba untuk mendegradasi peran politiknya di Gorontalo, saya waktu berada di Japan dihubungi RG untuk tukar pikiran, yang saat itu rupanya RG lagi di Japan, dan RG mengundang saya untuk makan malam di Tokyo, namun saya menolak karena saya dalam persiapan perjalanan liburan ke kota Hakone di Japan.
Sejak saat itulah relasi saya dengan RG mulai terbangun dengan merencakan beberapa ide dan agenda yang bisa dia kerjakan untuk mengokohkan nama baik dan peran politik RG dan nama besar Kak Ebu dengan mendirikan sebuah meseum di Gorontalo yang akan kita duplikasi dari beberapa mesium yang ada di Japan.
Dalam.perspektif politik, RG bukan politisi biasa karena melekat pada dirinya adalah seorang philantropi, sehingga dia bukan politisi yang memanfaatkan APBN atau dana reses untuk membangun pengaruh politiknya di Gorontalo tapi lebih sebagai seorang dermawan yang berani mengalokasi kekayaan pribadinya dari perusahaannya yang telah mapan, untuk kepentingan warga Gorontalo.
Dari seorang kawan, bukan orang Gorontalo saya mendapatkan bocoran bahwa RG membiayai kegiatan politiknya di support oleh perusahaan pribadi yang tidak mungkin kita temukan dari seribu satu macam cerita anggota DPR. Sehingga dalam waktu sekejap RG dengan Partai Nasdem bisa merobah peta politik lokal di Gorontalo.
Kini RG telah pergi meninggalkan kita semua dengan perasaan kaget, karena baru beberapa waktu lalu kami berjanji untuk berkunjung ke Gorontalo, namun selalu batal karena kesibukan masing-masing kita.
RG telah membangun sebuah atraksi politik yang tidak bisa diikuti apalagi ditandingi oleh politisi manapun dari dapil Gorontal
Selamat jalan sahabatku RG. Anda telah meninggalkan sebuah legacy politik berkeadaban.
Saya Agung Mozin, turut berduka Atas kepergianmu sekalipun saya tidak bisa mengantarmu sampai ke acara pemakaman


Posting Komentar