Viralnya Mas Bahlil Ganteng (MBG), Ini Kata Prof Henry Indraguna: Ini Skincare Politik yang Viral!
Viralnya Mas Bahlil Ganteng (MBG), Ini Kata Prof Henry Indraguna: Ini Skincare Politik yang Viral!
Dikutip : Suara Karya
Minggu, 31 Mei 2026 | 22:00 WIB
Tenaga Ahli DPR RI yang juga Anggota Dewan Pengawas Badan Advokasi Hukum dan HAM DPP Partai Golkar Prof. Henry Indraguna merespon soal fenomena viral Mas Bahlil Ganteng (MBG) yang dipersepsikan sebagai skincare politik terbaru (AG Sofyan)
SUARAKARYA.ID: Fenomena lagu satire "MBG (Mas Bahlil Ganteng)" di ruang digital menandai pergeseran besar dalam komunikasi politik modern.
Lagu ini semula lahir sebagai ekspresi kreatif netizen. Namun sekarang bertransformasi menjadi ruang diskursus publik yang masif.
Transformasi ini sepenuhnya digerakkan oleh politik algoritma yang bekerja di balik layar platform media sosial.
Lagu tersebut awalnya diciptakan warganet untuk mengkritik dinamika sosial-politik secara jenaka. Namun, makna sebuah konten digital tidak lagi berada di bawah kendali penuh penciptanya.
Di era algoritma, sebuah karya satire mengalami komodifikasi atensi yang sangat cepat. Netizen, tim sukses, hingga figur politik mereproduksi konten tersebut untuk berbagai kepentingan.
Menurut Tenaga Ahli DPR RI
Prof. Henry Indraguna sebagian memanfaatkan algoritma itu sebagai alat promosi citra. Sedangkan yang lain menggunakannya sebagai simbol identitas kelompok.
Baca Juga:
Asean Power Grid, Prof Henry Indraguna: Strategi Cerdas Bahlil Lahadalia Dorong Kemandirian Energi Kawasan
"Di era digital saat ini, media sosial bukan lagi sekadar saluran pasif untuk menyampaikan pesan politik. Sistem algoritma secara aktif membentuk cara masyarakat mengonsumsi, memaknai, dan menyebarkan narasi," ujar Prof Henry kepada suarakarya.id di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).
Belakangan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga penasaran dengan pencipta lagu MBG ini. Dia bahkan berkeinginan sekali mengundang makan bersama dan berdiskusi dengan sang kreator lagu tersebut.
"Sosok pemimpin yang mampu memantik kreativitas publik secara organik seperti ini justru mendapat panggung utama karena sistem algoritma secara aktif menangkap interaksi narasi tersebut," jelas Prof Henry.
Anggota Dewan Pengawas Badan Advokasi Hukum dan HAM DPP Partai Golkar yang juga Penasehat Ahli Balitbang DPP Golkar ini meminjam pemikiran media Marshall McLuhan, seorang ilmuwan komunikasi dan kritikus asal Edmonton, Kanada dengan diktum terkenal, yang menyatakan bahwa medium memiliki pengaruh lebih besar daripada isi pesan itu sendiri.
"Algoritma media sosial sengaja dirancang tidak netral. Platform digital bekerja dengan mengamati interaksi pengguna seperti suka, komentar, dan bagikan," jelas Profesor dan Guru Besar Unissula Semarang ini.
Sistem kemudian memprediksi preferensi dan memprioritaskan konten yang memicu emosi kuat atau kontroversi. Akibatnya, lagu satire yang menghibur jauh lebih cepat viral dibandingkan informasi resmi yang penting tetapi kurang menarik.
Hal ini menciptakan bias informasi yang mempersempit sudut pandang publik di ruang digital.
Sementara itu, Peraih Nobel, Herbert A. Simon menyatakan bahwa ledakan informasi menyebabkan kelangkaan atensi manusia.
Di ruang digital saat ini, perhatian publik adalah sumber daya utama yang diperebutkan.
"Politik yang masuk ke dalam kemasan budaya pop seperti musik dan meme membuat isu politik lebih mudah diterima anak muda. Namun, pendekatan ini juga menyimpan risiko besar terhadap pendangkalan makna," beber Waketum DPP Ormas MKGR ini.
Maka batas antara politik serius dan hiburan menjadi sangat kabur. Persepsi publik sering terbentuk lebih cepat melalui narasi viral daripada melalui klarifikasi resmi.
Doktor Ilmu Hukum UNS Surakarta dan Universitas Borobudur Jakarta ini menyebut bahwa jika ruang digital hanya dipenuhi oleh konten yang sekadar viral maka kualitas demokrasi akan mengalami degradasi. Masyarakat dituntut memiliki literasi digital yang tinggi agar tidak sekadar menjadi konsumen algoritma.
"Satire politik memang efektif sebagai pintu masuk percakapan yang ringan dan mudah diterima publik. Namun, kita harus menjaga agar ruang publik tetap diisi oleh diskusi yang substantif, bukan sekadar komoditas atensi yang menguntungkan platform digital," pungkas Waketum DPP Bapera ini. ***
Artikel ini adalah bagian dari Mitra Promedia Group dan sudah tayang dengan judul "Fenomena Mas Bahlil Ganteng (MBG), Prof Henry Indraguna: Ini Skincare Politik yang Viral!"
Baca selengkapnya di: https://www.suarakarya.id/politik/26017193800/fenomena-mas-bahlil-ganteng-mbg-prof-henry-indraguna-ini-skincare-politik-yang-viral


Posting Komentar