Dewan Pembina DPP FEMMI Dorong FEMMI Buat Pos Ketahanan Keluarga Pasangan Mahasiswa (Pos KAPMI)
Dewan Pembina DPP FEMMI (Federasi Mahasiswa Muslimin Indonesia) menyebut mahasiswa yang membuat keluarga di usia kuliah harus didukung terutama mental dan finansialnya. "Ketahanan Keluarga Pasangan Mahasiswa harus digelorakan karena mereka menuntut ilmu sekaligus membangun keluarga, bagaimana kalau mereka juga memiliki balita dan seterusnya, bagaimana menghindari baby blus, soal gizi anak mereka ditengah kuliah dan seterusnya"ujar Abdullah Amas, Ketua Dewan Pembina DPP Federasi Mahasiswa Muslimin Indonesia.
FEMMI mulai pengurus Pusat sampai Komisariat harus mendukung Kader maupun Mahasiswa secara umum untuk sukses melewati fase ini
Misi Baru Mahasiswa Muslim: Menjaga Tungku Dapur di Sela Buku
JAKARTA – Federasi Mahasiswa Muslimin Indonesia (FEMMI) tengah menyiapkan langkah progresif untuk merespons fenomena domestik di kalangan aktivis kampus. Dewan Pembina DPP FEMMI secara resmi mendorong pembentukan Pos Ketahanan Keluarga Pasangan Mahasiswa—atau yang akrab disebut Pos KAPMI.
Gagasan ini muncul dari realitas bahwa menempuh studi sambil membangun biduk rumah tangga bukanlah perkara enteng. Mahasiswa yang memutuskan menikah di usia kuliah dianggap membutuhkan sokongan berlapis, mulai dari penguatan mental hingga kemandirian finansial.
“Ketahanan keluarga pasangan mahasiswa ini harus digelorakan. Mereka sedang berjuang menuntut ilmu, sekaligus memikul tanggung jawab membangun keluarga,” ujar Abdullah Amas, Ketua Dewan Pembina DPP FEMMI dan juga Ketua Dewan Pembina sekaligus Ketua Umum Majelis Alumni FEMMI, kepada wartawan.
Menghadang Badai di Kamar Kos
Amas menyoroti tantangan berlapis yang dihadapi pasangan mahasiswa, terutama bagi mereka yang sudah dikaruniai buah hati. Persoalan transisi menjadi orang tua baru di tengah tekanan tugas akhir dan organisasi seringkali menjadi pemicu kerentanan psikologis.
“Bagaimana kalau mereka juga memiliki balita? Bagaimana cara mereka menghindari baby blues di tengah jadwal kuliah yang padat? Belum lagi soal pemenuhan gizi anak. Ini harus ada solusinya,” tambah Amas menekankan urgensi peran organisasi.
Menurutnya, Pos KAPMI nantinya diproyeksikan menjadi wadah pendampingan. Bukan sekadar tempat berbagi keluh kesah, tapi juga pusat edukasi mengenai:
Manajemen Kesehatan Mental: Mitigasi stres pascapersalinan (postpartum) bagi mahasiswi.
Literasi Gizi: Edukasi pencegahan stunting bagi anak-anak pasangan mahasiswa.
Kemandirian Ekonomi: Strategi pengelolaan keuangan rumah tangga skala kecil di tengah keterbatasan penghasilan tetap.
Instruksi dari Pusat hingga Komisariat
Langkah ini tidak hanya berhenti di level wacana. Amas menginstruksikan seluruh jajaran pengurus FEMMI, mulai dari tingkat Pusat hingga Komisariat di universitas, untuk memberikan dukungan penuh.
"FEMMI harus hadir untuk kader maupun mahasiswa secara umum agar mereka sukses melewati fase transisi ini. Jangan sampai kuliah terbengkalai, tapi keluarga juga jangan sampai rapuh," pungkasnya.
Dengan dorongan ini, FEMMI tampak ingin mempertegas wajah baru organisasi mahasiswa: tidak hanya tajam dalam diskursus ideologi dan politik di podium, tapi juga peka terhadap urusan kesejahteraan di balik pintu rumah tangga kadernya. Pos KAPMI diharapkan menjadi "sekoci" bagi para pejuang akademis yang tengah merajut asa di jalur domestik.


Posting Komentar