Ning Lia Perpaduan Siti Khadijah, Siti Aisyah Dan Siti Fathimah
Mantan Wakil Sekjen PB HMI Abdullah Amas menyebut bahwa Ning Lia adalah perpaduan antara Siti Khadijah, Siti Fathimah Dan Siti Aisyah.
"Kesederhanaan dan begitu dekatnya dengan Ayahnya mirip Fathimah, Kecerdasan dan kepemimpinannya mirip Aisyah dan Keteguhan, Jiwa Enterpreunership serta senantiasa membangunkan optimisme mirip Siti Khadijah"ujar Amas yang juga Ketua Dewan Pakar HIPKA (Himpunan Pengusaha KAHMI) Kabupaten Bangkalan dan Juga aktif di Salatiga Jateng sebagai Ketua DPD BAPERA (Barisan Pemuda Nusantara) Kabupaten Salatiga
Yuk Kita Perdalam!
Perempuan di Simpang Jalan: Menemukan Sosok Ning Lia
PADA suatu sore di Surabaya, saat riuh rendah politik lokal sedang berada di titik didihnya, nama Ning Lia tiba-tiba menyeruak ke permukaan. Bukan sekadar sebagai pendatang baru dalam peta kontestasi, melainkan sebagai sosok yang dianggap membawa "genetik" kepemimpinan yang berbeda.
Dalam sebuah diskusi terbatas yang menghangatkan suasana, mantan Wakil Sekjen Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Abdullah Amas, melontarkan tesis yang cukup berani. Baginya, Ning Lia bukan sekadar politikus perempuan biasa. Ia adalah sebuah anomali—atau mungkin, antitesis—dari pragmatisme politik yang sering kali kering makna.
Amas tak ragu menyandingkan sosok Ning Lia dengan tiga nama agung dalam sejarah Islam: Siti Khadijah, Siti Aisyah, dan Siti Fathimah. Sebuah narasi yang, jika ditarik ke dalam diskursus modern, menggambarkan upaya merajut kembali kebajikan lama ke dalam tubuh pergerakan masa kini.
"Kesederhanaan dan kedekatan yang begitu lekat dengan sosok ayahnya, itu mengingatkan kita pada Siti Fathimah," ujar Amas, mencoba membedah kedalaman karakter Ning Lia. Dalam pandangan Amas, loyalitas dan ketulusan emosional yang ditunjukkan Ning Lia terhadap garis nasabnya bukanlah sebuah beban, melainkan jangkar moral yang membuatnya tetap membumi di tengah hiruk-pikuk kekuasaan.
Namun, di balik kelembutan sikapnya, terselip ketajaman yang tak bisa dipandang sebelah mata. Amas mengibaratkan kecerdasan dan gaya kepemimpinan Ning Lia dengan Siti Aisyah—sosok yang dalam literatur sejarah dikenal sebagai intelektual perempuan terdepan pada zamannya. "Ia memiliki intuisi politik yang tajam dan cara berkomunikasi yang artikulatif," tambah Amas. Bagi para pendukungnya, Ning Lia memang dikenal mampu membedah persoalan kompleks dengan bahasa yang ringan namun tetap menusuk substansi.
Yang paling menarik adalah bagaimana ia memadukan elemen-elemen tersebut dengan jiwa kewirausahaan. Di sinilah, menurut Amas, Siti Khadijah hadir sebagai cermin. Sosok Khadijah yang mandiri, teguh pendirian, dan selalu menjadi sumber optimisme bagi lingkungannya, dianggap sebagai katalis utama dalam karakter Ning Lia.
Dalam dunia politik yang sering kali dinilai maskulin dan penuh intrik, Ning Lia mencoba menawarkan narasi yang berbeda. Ia tidak sedang mencoba menduplikasi siapa pun, namun ia tampak sedang meminjam "mantel" besar dari masa lalu untuk menutupi tubuh politiknya yang sedang tumbuh.
Tentu saja, memikul metafora setinggi langit bukanlah perkara mudah. Tantangan sebenarnya bagi Ning Lia bukanlah sekadar kecocokan narasi, melainkan apakah ia mampu membuktikan bahwa ia adalah "karya orisinal" yang lahir dari dialektika antara tradisi dan modernitas.
Sore itu, diskusi di Surabaya tersebut seolah menegaskan satu hal: publik sedang merindukan figur yang tak hanya cakap berorasi, tetapi juga memiliki akar filosofis yang kokoh. Jika benar Ning Lia adalah manifestasi dari tiga sosok besar tersebut, panggung politik di Jawa Timur mungkin sedang bersiap menyaksikan sebuah babak baru.


Posting Komentar