Ketulusan dari Sidoarjo : Puisi Idul Fitri Dari Sang Dokter Rakyat
Ketulusan dari Sidoarjo : Puisi Idul Fitri Dari Sang Dokter Rakyat
Di sela deru mesin pengolah limbah B3 dan baris-baris teori akademik, Dr. dr. Andre Yulius, MH, memilih jalan sunyi: menjadi pendengar bagi keluh kesah warga. Di Hari Kemenangan 1447 H, ia dan sang istri, Yosie Iriyanti, menitipkan pesan tentang fitrah yang bukan sekadar seremoni.
SIDOARJO — Takbir berkumandang di langit Sidoarjo, menyelinap di antara gang-gang sempit dan perumahan padat. Bagi Dr. dr. Andre Yulius, MH, keriuhan Idul Fitri 1447 Hijriyah kali ini bukan sekadar tanda berakhirnya lapar dan dahaga. Di ruang tamunya yang hangat, pria yang akrab disapa "Dokter Rakyat" ini memandang perayaan ini sebagai sebuah laboratorium spiritual.
"Idul Fitri itu titik nol," ujarnya tenang. Sebagai pakar hukum kesehatan sekaligus ahli limbah B3, Andre terbiasa berurusan dengan sesuatu yang harus dibersihkan. Namun kali ini, fokusnya bukan pada residu industri, melainkan residu batin. "Mari kita jadikan momentum ini untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama. Sekecil apa pun kebaikan, ia adalah oksigen bagi mereka yang sesak karena kesulitan."
Di sampingnya, Yosie Iriyanti, Amd. Kebidanan, mengangguk teduh. Sebagai tenaga kesehatan, Yosie memahami betul bahwa kesehatan sebuah bangsa dimulai dari keharmonisan sel terkecil: keluarga. "Idul Fitri adalah momen untuk memaafkan tanpa sisa, menjaga cinta, dan terus menebar kebaikan dalam lingkup yang paling dekat," tuturnya.
Pasangan ini bukan sekadar figur publik yang berpangku tangan. Rekam jejak mereka di bidang pendidikan dan sosial kemasyarakatan menjadi bukti bahwa pesan "Mohon Maaf Lahir dan Batin" yang mereka ucapkan memiliki akar yang kuat pada pengabdian nyata.
DI DALAM MAAF YANG KAU SIMPAN
Di hari ini, jarak adalah sesuatu yang kita lipat
seperti sarung yang baru selesai disetrika.
Kita pulang ke sebuah alamat bernama dada,
tempat segala luka mencari jalan keluar.
Kau barangkali lupa, bahwa memaafkan adalah
cara paling sunyi untuk mencintai diri sendiri.
Di antara takbir yang memanjat langit,
ada doa-doa yang tak butuh suara:
semoga kita kembali suci, seperti buku tulis yang belum
disentuh tinta air mata.
Kemenangan bukan tentang siapa yang sampai lebih dulu,
tapi tentang siapa yang paling tabah menampung
kesedihan orang lain di tangannya.
Menjaga Empati di Hari Fitri
Bagi masyarakat Sidoarjo yang mengenal Dr. Andre, sang dokter adalah simbol aksesibilitas. Di tengah tantangan ekonomi dan sosial di tahun 2026 ini, ia menekankan bahwa empati adalah mata uang yang paling berharga. Pesan Idul Fitri yang ia sampaikan bersama Yosie tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga menjadi pengingat bagi warga untuk tetap hadir bagi satu sama lain.
"Semoga kita semua kembali suci, dengan hati yang bersih dan langkah yang lebih pasti untuk menebar kebaikan," pungkas Dr. Andre menutup percakapan.
Saat senja jatuh di ufuk timur Jawa, pesan dari kediaman sang dokter terus bergema—bahwa Idul Fitri adalah sebuah awal perjalanan baru, sebuah komitmen untuk terus merawat kemanusiaan, jauh setelah gema takbir berakhir.



Posting Komentar