Cerpen : Takdir di Bawah Langit Tugu Rahmah 2018
Takdir di Bawah Langit Tugu Rahmah
Gerimis tipis baru saja menyapu debu di aspal Kwanyar, menyisakan aroma tanah yang basah dan menenangkan. Di sebuah gang sempit yang kelak kunamai “Tugu Rahmah”, langkahku terhenti. Nama itu bukan tanpa alasan. Bagiku, gang ini adalah replika kecil Jabal Rahmah di padang Arafah—titik temu suci tempat Adam menemukan kembali Hawanya setelah sekian lama terpisah oleh semesta.
Sore itu, di depan sebuah rumah sederhana, sebuah mobil berhenti. Wardah turun bersama ibunya. Biasanya, ia akan langsung mengekor masuk ke dalam rumah saudaranya tanpa menoleh. Namun, takdir hari ini punya naskah yang berbeda. Ibunya melangkah masuk, sementara Wardah tetap berdiri di sana, menatap langit sore seolah sedang menunggu sesuatu yang ia sendiri belum tahu.
Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dada. Ada keraguan yang menggelitik: Bagaimana jika ibunya keluar dalam hitungan detik? Bagaimana jika aku dianggap lancang?
Namun, menit berlalu dan Wardah masih di sana. Keheningan gang itu seolah memberiku panggung. Inilah saatnya. Aku melangkah mendekat, mencoba mengatur napas agar suara tidak terdengar bergetar.
“Permisi... boleh tanya rumahnya si Fulan di sebelah mana, ya?” tanyaku, sebuah basa-basi klasik yang sebenarnya hanya topeng untuk mencuri perhatiannya.
Wardah menoleh. Senyumnya terukir tipis, sangat ramah, dan yang membuatku terkejut adalah kesabarannya. Ia menjelaskan arah dengan detail, tanpa raut wajah terburu-buru. Tutur katanya lembut, selembut angin pesisir Kwanyar yang membelai wajah.
Aku memberanikan diri, melompati pagar keraguan yang sedari tadi membentengi. “Kamu... sudah menikah?”
Ia menggeleng pelan, matanya tenang menatapku. “Belum.”
“Sudah punya tunangan? Atau calon?” tanyaku lagi, lebih berani.
Di daerah ini, bertanya seperti itu pada perempuan adalah perjudian besar. Salah langkah sedikit, urusannya bisa panjang jika ia sudah milik orang. Namun, jawabannya kembali menyejukkan.
“Belum juga,” jawabnya singkat, masih dengan keramahan yang sama.
Udara di sekitar kami terasa mendadak hangat. Pintu kesempatan terbuka lebar. Tanpa banyak kiasan lagi, aku melontarkan pertanyaan yang mungkin terdengar gila bagi orang yang baru saja menanyakan arah jalan.
“Kalau... kalau kamu menikah dengan saya, bagaimana?”
Wardah terdiam sejenak. Tidak ada kemarahan di wajahnya, tidak ada tawa mengejek. Ia hanya menunduk sedikit, merapikan ujung jilbabnya, lalu menjawab dengan kalimat yang mengunci seluruh pencarianku.
“Saya... terserah orang tua.”
Jawaban itu bukan sekadar penyerahan diri, tapi sebuah undangan hijau. Di gang "Tugu Rahmah" itu, aku sadar bahwa pencarianku telah usai. Adam telah menemukan Hawanya, tepat di sebuah gang kecil di jantung Kwanyar


Posting Komentar