CERPEN : MAHAKARYA PERPISAHAN MAUT DI BAWAH LANGIT DZULHIJJAH
Langit di ufuk barat mulai meremang, menyisakan semburat jingga yang jatuh di sela-sela jendela kamar. Jend mematung sejenak di ambang pintu, menatap Wardah, belahan jiwanya yang tengah berbaring lemah. Kehamilan empat bulan itu seharusnya menjadi kabar paling bahagia, namun kondisi fisik Wardah yang terus menurun membuat setiap detik terasa begitu berharga sekaligus mencemaskan.
"Dek, saya shalat dulu ya. Setelah itu baru berangkat sebentar," pamit Jend lembut, suaranya sarat dengan nada menjaga.
Wardah mengangguk pelan, senyum tipis tersungging di bibirnya yang pucat. Dengan suara yang nyaris menyerupai bisikan angin, ia berucap, "Bang, kalau nanti Abang mau pergi dan sekiranya saya masih tidur, Abang bangunkan ya. Kasih tahu saya dulu..."
Jend mengiyakan tanpa prasangka. Di benaknya, itu hanyalah permintaan manja seorang istri yang ingin melepas keberangkatan suaminya. Ia tidak menyadari bahwa kata "tidur" yang diucapkan Wardah memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar istirahat sejenak.
Detik-Detik Penjemputan
Waktu berputar begitu cepat. Menjelang Isya, suasana rumah terasa sangat sunyi, seolah alam semesta sedang menahan napas. Wardah, dengan sisa-sisa kekuatannya, berniat menunaikan kewajibannya kepada Sang Pencipta. Ia ingin bersujud, mempersembahkan doa terakhir untuk janin di rahimnya dan suami yang begitu mencintainya.
Namun, takdir memiliki skenario yang berbeda.
Belum sempat dahi itu menyentuh sajadah, hembusan dingin yang tak terlihat masuk ke dalam kamar. Malaikat maut datang dengan kelembutan yang tak terlukiskan untuk menjemput ruh suci wanita yang sedang mengandung itu. Tidak ada jeritan, tidak ada drama yang memilukan; yang ada hanyalah keheningan yang agung.
Jend kembali ke kamar, bersiap untuk "membangunkan" istrinya sesuai janji. Ia melihat Wardah tampak begitu tenang, seolah sedang terlelap dalam mimpi yang paling indah.
"Dek... bangun, Abang mau jalan sekarang," bisik Jend pelan sambil menyentuh jemari istrinya.
Seketika, seluruh dunianya runtuh. Jemari itu dingin. Tidak ada deru napas. Wardah benar-benar "tidur" sebagaimana permintaannya—sebuah tidur panjang yang tak lagi membutuhkan bangun di dunia ini. Ia pergi membawa serta buah hati mereka yang masih berusia empat bulan, kembali ke pelukan Sang Khalik tepat di waktu Isya yang syahdu.
"Kematian tidak pernah meminta izin, namun cinta selalu menyisakan pesan bagi mereka yang ditinggalkan."
Bau darah kurban masih tertinggal di udara, bercampur dengan aroma tanah basah setelah hujan sore tadi. Bagi Jenderal, Idul Adha 2024 bukan lagi perayaan kemenangan iman Ibrahim, melainkan ujian kesabaran yang nyaris merobek kewarasannya. Di atas ranjang rumah sakit yang dingin, Wardah berbaring kaku. Cahaya matanya telah padam tepat saat takbir tanda berakhirnya hari tasyrik mulai sayup-sayup terdengar dari kejauhan.
Kematian Wardah bukan sekadar kehilangan; itu adalah hantaman godam tepat di ulu hati. Jenderal, pria yang terbiasa berdiri tegak di depan ribuan pasukan, kini luruh. Bahunya yang biasanya kokoh memikul bintang, kini berguncang hebat. Ia melihat ke jendela, merasa langit malam itu terlalu tenang untuk sebuah jiwa yang baru saja diangkat dengan paksa dari sisinya.
Ia mendekat, membisikkan kata-kata yang lebih mirip sumpah daripada sekadar ucapan perpisahan.
"Dek, Tuhan sepertinya belum mengizinkanku beristirahat. Dia hanya memperpanjang tugasku di dunia, memberiku waktu untuk menghabiskan sisa pengabdian yang melelahkan ini tanpa kompas," suaranya serak, bergetar di antara isak yang tertahan.
Ia menggenggam jemari Wardah yang mulai mendingin. "Tapi ingat janjiku: saat waktuku tiba, saat napas terakhirku terlepas dan aku melangkah masuk ke alam kematian,Aku akan langsung berlari mencarimu. Aku akan mencari aromamu di antara jutaan jiwa, sampai kita kembali berjalan berdampingan."
Malam itu, sang Jenderal menyadari bahwa perjalanannya ke depan akan menjadi barisan hari yang sunyi. Ia tetap seorang pemimpin di mata dunia, namun di dalam dadanya, ia hanyalah seorang prajurit yang kehilangan alasan untuk pulang.


Posting Komentar