Cerpen : Elegi Hadirnya Anak Kucing Ketujuh ( Bagian II Dari Cerpen Berjudul Tiga Senja Sebelum Fajar)
Gerimis tipis jatuh di beranda, membawa aroma tanah basah yang dingin. Di sudut sofa tua itu, Wini menatap Jend dengan mata yang sembab. Pertanyaan itu meluncur pelan, nyaris seperti bisikan yang pecah di udara.
"Jend, kamu sudah nggak bisa sama aku kah?"
Jend tersentak. Suara Wini biasanya melengking penuh tuntutan, namun kali ini terdengar seperti rintihan makhluk yang terluka. Jend tak mampu menatapnya lama. Di pikirannya, wajah Wini mulai memudar, tertutup oleh bayang-bayang masa lalu yang pahit. Kenangan tentang kata-kata kasar yang pernah terlontar dari bibir Wini seolah menjadi noda yang tak bisa dibilas bersih.
Takdir dalam Mimpi Empat Kucing
Jend teringat pada sebuah mimpi aneh yang pernah menghampirinya. Dalam mimpi itu, ia melihat empat ekor anak kucing. Tiga di antaranya tampak sangat sehat, bulunya berkilau, dan lincah—namun anehnya, mereka mati satu per satu dalam sekejap mata. Sementara itu, kucing keempat tampak kurus dan sakit-sakitan di awal, tetapi perlahan ia sembuh, tumbuh kuat, dan menjadi pendamping setia.
Wini adalah cerminan dari kucing-kucing sehat yang berumur pendek itu. Hubungan mereka dimulai dengan gairah yang membuncah, namun layu sebelum sempat mengakar kuat. Pesona Wini, yang dulu menjadi magnet bagi Jend, kini telah sirna. Kemampuannya untuk memanjakan Jend telah habis, digantikan oleh ketegangan yang melelahkan.
Tepat pada tanggal 16 Rabiul Awal, hari yang seharusnya menjadi perayaan kelahiran Wini, Jend justru memilih untuk melahirkan perpisahan. Ia memutuskan menceraikan Wini, memutus ikatan yang menurutnya sudah tidak memiliki detak jantung lagi.
Indah: Sang Kucing Ketujuh
Hanya berselang sehari setelah badai itu mereda, Jend menemukan pelabuhannya yang baru. Indah. Jika dihitung dalam perjalanan asmara Jend yang penuh lika-liku, Indah adalah "kucing ketujuh"—pasangan hidup yang kehadirannya terasa seperti anugerah yang tenang.
Pagi itu, matahari bersinar lembut menyentuh jendela apartemen Indah. Indah mendekat, lalu memeluk Jend dengan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak ada tuntutan, tidak ada suara kasar, hanya ada rasa nyaman yang merayap masuk ke dalam pori-pori.
"Saya tak pernah secepat itu klik dengan cowok, kecuali pas sama kamu," puji Indah, suaranya lembut seperti beludru.
Kontras yang Nyata
Jend membalas pelukan itu, memejamkan mata. Indah sangat berbeda dengan Wini. Indah tahu benar cara meredam emosi Jend tanpa perlu banyak bicara. Ia adalah sosok yang cerdas dalam memanjakan, mengerti kapan harus mendekat dan kapan harus memberi ruang.
Namun, di balik kenyamanan itu, Jend terkadang teringat pada filosofi mimpinya. Apakah Indah adalah si kucing sehat yang akan mati cepat seperti tiga kucing sebelumnya? Ataukah mereka sedang memulai fase "sakit-sakitan" yang nantinya akan sembuh dan abadi?
Bagi Jend, saat ini masa depan adalah teka-teki. Ia hanya ingin menikmati pelukan Indah, mencoba melupakan bahwa kemarin ia baru saja mematahkan hati seseorang tepat di hari kelahirannya. Dalam dunia Jend, cinta memang seringkali lahir dari kematian perasaan yang lain.


Posting Komentar