Telusuri
24 C
id
  • Internasional
  • Daerah
  • Bisnis
  • Agama
  • Keluarga
  • Kontak
  • Iklan
Amas Persada News
pasang
  • Home
  • Politik
    • All
    • Politik
    • Pemerintahan
    • Pilkada
    • Tokoh Politik
  • Pemerintahan
    • Pemerintahan
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Organisasi
Amas Persada News
Telusuri
Beranda Lima Tokoh Besar di Belakang KH Zulfa Mustofa Pj Ketum PBNU Lima Tokoh Besar di Belakang KH Zulfa Mustofa Pj Ketum PBNU

Lima Tokoh Besar di Belakang KH Zulfa Mustofa Pj Ketum PBNU

Redaksi APN
Redaksi APN
11 Des, 2025 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


 Lima Tokoh Besar di Belakang KH Zulfa Mustofa Pj Ketum PBNU


Kita lanjutkan Prahara PBNU season dua. Namun, sebelumnya kita mendudukkan kepala untuk korban Bencana Tanda Tangan di tanah Sumatera yang sudah mencapai 967 jiwa. Alfatehah untuk mereka. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!


Rapat Pleno Syuriyah PBNU yang “tertutup” itu entah kenapa suasananya lebih ramai dari konser band nostalgia. Di sinilah, KH Zulfa Mustofa melangkah sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU dengan iringan lima tokoh besar. Lima orbit yang mempertegas pusat gravitasi kekuasaan malam itu.


Kalau ini film laga, mereka masuk dengan slow motion. Kalau ini sinetron, mereka adalah karakter-klimaks yang muncul menjelang episode terakhir. Mari kita buka satu-satu.


1. Khofifah Indar Parawansa, “Srikandi Hijau Lembayung, Sang Pengendali Angin Selatan”


Khofifah masuk lobi dengan batik hijau dan kerudung kuning, perpaduan warna yang langsung membuat suhu ruangan naik dua derajat. Wartawan waspada, pengamat politik menegakkan spion laptop, dan para kader langsung pasang mode hitung arah angin.


Sebagai Ketua Muslimat NU dan Gubernur Jatim, kehadirannya bukan simbol lagi, tapi deklarasi diam-diam. Kalau Zulfa itu kapal, Khofifah adalah arah angin yang menentukan kapal itu akan menuju dermaga atau badai.


2. Habib Luthfi bin Yahya, “Sang Penjaga Aura, Ulama yang Bisa Menenangkan Rapat Hingar-bingar”


Habib Luthfi tidak perlu membuka suara. Cukup hadir, dan semua orang langsung merasa sedang berada di majelis zikir. Politik yang tadinya panas langsung turun menjadi hangat seperti teh tarik. Kalau ini film mafia, beliau adalah The Godfather versi sufi, cukup tatapan halus untuk menghentikan gaduh.


3. Gus Ipul (Saifullah Yusuf), “Menteri Sosial Sekaligus Menteri Sinyal”


Datang dengan gaya sederhana, kemeja putih, peci hitam, senyum tipis. Tapi makna kedatangannya tidak sederhana. Gus Ipul adalah jembatan antara bahasa langit Syuriyah dan bahasa realpolitik duniawi. Kalau orang bingung membaca keputusan rapat, biasanya mereka menunggu siapa? Ya, menunggu Gus Ipul memberikan footnote.


4. Prof. Nasaruddin Umar, “Imam Besar, Narator Besar”


Begitu beliau masuk, suasana langsung jadi formal sekaligus filosofis. Suaranya saja sudah cukup menjadi narator. Tidak perlu tampil terus, tapi getaran kehadirannya terasa. Kalau rapat ini adalah opera, beliau adalah voice over yang membacakan prolog dengan wibawa kenegaraan.


5. KH Miftachul Akhyar, “Rais ‘Aam: Pemegang Palu, Penentu Takdir”


Inilah figur sentral. Rais ‘Aam yang anggukannya setara dengan bab penentu sejarah. Beliau adalah titik akhir semua mata memandang. Satu ucapan beliau bisa mengubah arah hari, satu restu mengubah arah organisasi. Beliau bukan hanya wasit, beliau pemilik stadionnya.


Lima tokoh ini bukan sekadar menambah dekorasi rapat. Kehadiran mereka adalah penegasan. Dalam tradisi NU, simbol itu lebih keras dari pengeras suara. Malam itu, simbol-simbol besar berkumpul di satu ruangan, membentuk garis tebal di belakang nama KH Zulfa Mustofa.


Hotel Sultan pun malam itu bukan sekadar hotel. Ia berubah menjadi panggung tempat politik, spiritualitas, dan aroma kopi tubruk menyatu menjadi sebuah cerita besar yang akan dibahas warung kopi dari Cakung sampai Kebomas.


Seperti semua drama yang memiliki episode tambahan, PBNU juga punya bab khusus,  perebutan administratif. Begitu keputusan diumumkan, suasana berubah drastis. Kursi kantor dihitung. Lemari diinventarisir. Gembok mulai jadi isu. Remot AC dijaga seperti artefak.


Karena dalam ekosistem PBNU, siapa yang menguasai kantor duluan, dialah yang dinilai paling sah oleh warga yang sedang kebingungan membaca situasi. Lalu datanglah bab kedua, perebutan stempel. Stempel ini, wak…Nilainya mungkin tidak sampai 200 ribu. Tapi di dunia NU? Ia adalah Infinity Stone. Dengan stempel, keputusan hidup. Tanpa stempel, keputusan hanyalah angin.


Bab terakhir, yang paling menentukan, adu cepat menuju Kemenkum. Dalam organisasi, legitimasi tertinggi bukan hanya baiat, tapi siapa yang duluan nongol di database resmi Kemenkum. Faksi yang lambat akan sibuk kirim broadcast WA berisi “Kesabaran adalah kunci.” Sementara faksi yang cepat sudah update status, “Alhamdulillah, SK sudah terbit.”


Di NU, wak, kadang kebenaran itu bukan soal siapa yang paling benar…tapi siapa yang paling cepat menyalakan mobil dan berangkat ke Kemenkum. “Bang, infonya Pak Menteri Supratman Andi Agtas itu suka damaikan pihak yang bertikai. Bisa saja beliau akan damaikan dua kubu ini.”


“Bisa jadi begitu. Cuma, di kubu KH Zulfa ada dua menteri. Ah..sudahlah, sing penting tetap Koptagul, wak!”


Foto Ai hanya ilustrasi


#camanewak

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement

Berita Pilihan

WALIKOTA SABANG ZULKIFLI H. ADAM MENDUKUNG ANGGARAN DAN KEMUDAHAN PERIJINAN CIAYUMAJAKUNING

Redaksi APN- April 05, 2026 0
WALIKOTA SABANG ZULKIFLI H. ADAM MENDUKUNG  ANGGARAN DAN KEMUDAHAN  PERIJINAN CIAYUMAJAKUNING
WALIKOTA SABANG ZULKIFLI H. ADAM MENDUKUNG  ANGGARAN DAN KEMUDAHAN  PERIJINAN CIAYUMAJAKUNING             Jakarta - Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam, menega…

Berita Populer

Terkenal Sampai Jateng, Dokter Andre Diangkat Jadi Dewan Pertimbangan DPD BAPERA Kabupaten Salatiga Di Provinsi Jateng

Terkenal Sampai Jateng, Dokter Andre Diangkat Jadi Dewan Pertimbangan DPD BAPERA Kabupaten Salatiga Di Provinsi Jateng

Maret 29, 2026
Abdullah Amas, Bergerak Diantara Rakyat Jawa Tengah

Abdullah Amas, Bergerak Diantara Rakyat Jawa Tengah

Maret 29, 2026
Perang Dunia III Dan Takdir Nusantara di Ambang Menjadi Pusat Perbendaharaan Dunia

Perang Dunia III Dan Takdir Nusantara di Ambang Menjadi Pusat Perbendaharaan Dunia

Maret 31, 2026

Recent Comments

Berita Pilihan

ATUM Institute : Aura Wajah Yuri Layak Pimpin PBB, Kalau Yang Belagu Lawan Prof. Yusril Biasanya Nyungsep

ATUM Institute : Aura Wajah Yuri Layak Pimpin PBB, Kalau Yang Belagu Lawan Prof. Yusril Biasanya Nyungsep

Maret 23, 2026
Ketua Fraksi PKS Kab PPU Kalimantan 2019-2024 Dan Kepala Dinkes Kaltim Temui Sayyid Muhammad Qasim

Ketua Fraksi PKS Kab PPU Kalimantan 2019-2024 Dan Kepala Dinkes Kaltim Temui Sayyid Muhammad Qasim

Oktober 11, 2024
Komandan Pengawas Barisan Yang Menjaga Sekitar Kita, Go A Head Tim Pengawas Intelejen DPR-RI!

Komandan Pengawas Barisan Yang Menjaga Sekitar Kita, Go A Head Tim Pengawas Intelejen DPR-RI!

Desember 05, 2024

Trending News

Terkenal Sampai Jateng, Dokter Andre Diangkat Jadi Dewan Pertimbangan DPD BAPERA Kabupaten Salatiga Di Provinsi Jateng

Terkenal Sampai Jateng, Dokter Andre Diangkat Jadi Dewan Pertimbangan DPD BAPERA Kabupaten Salatiga Di Provinsi Jateng

Maret 29, 2026
Abdullah Amas, Bergerak Diantara Rakyat Jawa Tengah

Abdullah Amas, Bergerak Diantara Rakyat Jawa Tengah

Maret 29, 2026
Perang Dunia III Dan Takdir Nusantara di Ambang Menjadi Pusat Perbendaharaan Dunia

Perang Dunia III Dan Takdir Nusantara di Ambang Menjadi Pusat Perbendaharaan Dunia

Maret 31, 2026
Amas Persada News

About Us

Amas Persada News Menyajikan Berita Akurat dan Terpercaya, Enak dibaca dan Mendobrak Fakta

Contact us: amaspersadanews@gmail.com

Follow Us

© Copyright Amas Persada News 2024 apn
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Sanggah/Jawab
  • Iklan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kontak