Kemesraan yang Menipu: PKB-Demokrat Sama-Sama Licin Ala Belut Dikasih Oli, Siapa Pemenang Olimpiade Kelicikan Bila Ditandingkan Dengan Kadal Profesional Anies?
JAKARTA – Panggung politik Indonesia kembali diguncang oleh kritik pedas terkait integritas koalisi partai politik. Ketua Umum Partai Islam Berkarya (PIB), Abdullah Amas, melontarkan pernyataan menohok mengenai dinamika hubungan antara Partai Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia menyebut kedua partai ini memiliki DNA politik yang serupa: licin, sulit dipegang, dan ahli dalam bermanuver di tikungan terakhir.
Politik "Belut": Tradisi Tanpa Jejak
Menurut Amas, sikap Demokrat yang seringkali "pincang" atau tidak sejalan dengan rekan koalisinya, terutama dalam isu-isu krusial seperti Pilkada, bukanlah hal baru. Ia menilai ini adalah karakter bawaan yang membuat mitra koalisi harus selalu waspada.
"Ente bisa lihat sendiri, Demokrat dan PKB ini hubungannya seperti belut dikasih oli. Sangat licin. Susah sekali dipegang komitmennya," ujar Amas dengan nada lugas.
PKB: Sang Maestro "Lompat Pagar"
Amas menyoroti rekam jejak PKB di bawah kepemimpinan Muhaimin Iskandar yang dianggap sangat pragmatis. PKB dinilai mampu mengganti narasi dengan sangat cepat demi kepentingan kekuasaan sesaat.
"PKB itu 10 tahun mesra di kabinet Jokowi, menikmati kekuasaan. Tapi tiba-tiba di Pilpres kemarin berbalik menyerang Jokowi. Sebelumnya juga sudah nyaman di Koalisi Gerindra, eh tiba-tiba angkat kaki dan loncat ke Anies Baswedan. Ini gaya politik yang bikin geleng-geleng kepala," tegas Amas.
Demokrat: Strategi "Setengah Hati"
Tak luput dari sasaran, Partai Demokrat juga disebut Amas sebagai partai yang gemar bermain aman dan seringkali meninggalkan kawan di tengah jalan. Ia mengingatkan publik pada memori Pilpres 2014 dan 2019, di mana dukungan Demokrat kepada Prabowo Subianto dianggap tidak pernah total alias "setengah-setengah".
Puncak kelincahan Demokrat, menurut Amas, terlihat pada Pilgub DKI 2017. "Waktu itu sudah ada Koalisi Kekeluargaan bersama PKS dan Gerindra. Tapi apa yang terjadi? Tiba-tiba Demokrat pecah kongsi dan memajukan AHY sendiri. Itu bukti nyata kalau mereka susah sekali diprediksi," tambahnya.
Olimpiade Kelicikan: Siapa Juaranya?
Dengan rekam jejak kedua partai yang penuh dengan drama manuver, Abdullah Amas melontarkan sindiran tajam bahwa kedua partai ini layak diadu dalam sebuah turnamen kelicikan politik.
"Jadi, Demokrat dan PKB ini adalah partai yang sangat layak dimasukkan ke Olimpiade Kelicikan dalam berpolitik. Sekarang tinggal kita lihat saja, siapa yang bakal jadi Juara 1 atau Juara 2. Publik sudah cerdas menilai siapa yang paling licin di antara mereka," pungkas Amas.
Soal jiwa kadal dua Partai itu menurut Amas sangat cocok ditandingkan dengan jiwa kadal Anies. Dulu Anies puji-puji Jokowi lalu hantam Jokowi, pindah ke Prabowo lalu hantam Prabowo, Pindah lagi dan pindah lagi.
"Jiwa kadal profesional seperti ini membuat publik bertanya sebetulnya mereka punya karakter atau memang suka jurus mabuk?"tegas Amas


Posting Komentar