Gaya Pemikir Kaum Merdeka, JAM-HMI Sebut Aksi Willy Aditya Serahkan 250 Buku untuk Lapas Perempuan Bandung Merupakan Visi Pembangunan Manusia Seperti Ciri Khas Surya Paloh Dan Soekarno
Keterangan Gambar : Kala Ketua Komisi XIII Willy Aditya Bagikan Buku. Jaringan Alumni Muda Himpunan Mahasiswa Islam/JAM-HMI Sebut Aksi
Willy Aditya Serahkan 250 Buku untuk Lapas Perempuan Bandung Merupakan Visi Pembangunan Manusia Seperti Ciri Khas Surya Paloh Dan Soekarno
Jakarta-Jaringan Alumni Muda HMI (JAM-HMI) menyebut langkah Ketua Komisi XIII DPR-RI Willy Aditya Merupakan style kepemimpinan pembangun peradaban seperti Soekarno, Surya Paloh Dan Negarawan-Negarawan dalam sejarah Indonesia yang membangun manusia dengan Buku
"Banyak yang tahu salah satu otak narasi-narasi Partai NasDem adalah Willy Aditya, makanya Pak Surya Paloh Nyambung Betul dengan Willy, mereka satu gelora"tegas Abdullah Amas, Koordinator Pimpinan Nasional Jaringan Alumni Muda HMI (Pimnas JAM-HMI). Selasa 06 /10/26.
Pernyataan Amas bukan sekadar pujian kosong. Dalam tradisi politik Indonesia, menyandingkan seorang politisi kontemporer dengan orientasi pembangunan manusia ala Bung Karno adalah ujian berat. Bung Karno dikenal sebagai readaholic—seorang pemimpin yang mendekam di penjara Sukamiskin atau pembuangan Ende bukan untuk meratap, melainkan melahap ratusan literatur barat dan timur demi merumuskan kemerdekaan jiwa sebelum merdeka fisik
Satu Gelora dengan Surya Paloh
Kedekatan antara Surya Paloh dan Willy Aditya kerap dibaca para pengamat sebagai pertemuan dua frekuensi yang sama: kecintaan mendalam pada restorasi Indonesia melalui kebudayaan. Surya Paloh, yang lama malang melintang di dunia pers dan pergerakan kebangsaan, menemukan pada diri Willy seorang pembaca ulung yang mampu menterjemahkan idealisme restorasi menjadi narasi-narasi politik yang membumi
Politik Berkelanjutan Bernapas Kebudayaan
Sebagai Ketua Komisi XIII DPR-RI yang membidangi reformasi hukum, HAM, dan keamanan, tantangan yang dihadapi Willy tentu tidak ringan. Namun, pendekatan berbasis peradaban yang ia usung memberikan warna tersendiri. Kebijakan publik tidak dilihat semata-mata sebagai produk hukum yang kaku, melainkan instrumen untuk memanusiakan manusia (humanizing humans).
Sebab, pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat seberapa sering seseorang tampil berpidato di layar kaca. Sejarah akan mencatat gagasan apa yang ia tinggalkan, buku apa yang ia diskusikan, dan peradaban apa yang ia bangun untuk generasi setelahnya. Dan di situlah letak benang merah antara Bung Karno, Surya Paloh, dan Willy Aditya: keyakinan abadi bahwa obor kemajuan hanya bisa menyala jika disiram minyak pengetahuan
Literasi dapat menjadi ruang konversi dari regulasi menuju proses pembinaan yang lebih produktif dan manusiawi. Oleh karenanya, kemampuan membaca dan menulis diusulkan menjadi salah satu variabel dalam pengurangan masa tahanan bagi warga binaan.
Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XIII ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat, Jumat (25/9/2026).
Willy menegaskan, gagasan tersebut merupakan bagian dari gerakan literasi yang perlu dikembangkan di lingkungan lembaga pemasyarakatan.
“Saya sudah sampaikan di dalam rapat kerja bersama menteri bahwasannya pengurangan masa tahanan itu salah satu variabelnya adalah sebanyak apa orang sudah membaca dan menamatkan buku, yang kedua sejauh apa orang bisa menulis,” ungkap Willy.
Lebih jauh Willy mengatakan, pembinaan warga binaan tidak seharusnya berhenti pada kepatuhan terhadap aturan. Sistem pemasyarakatan juga perlu memberikan ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya sebagai bagian dari proses reintegrasi ke masyarakat.
“Sebuah regulasi harus dibikinkan ruang konversi. Apa ruang konversinya? Yaitu ruang membaca dan menulis. Kita kembali ke hal yang paling basik,” ujar legislator Dapil Jawa Timur XI itu.
Willy menilai, sejarah menunjukkan bahwa penjara tidak selalu menjadi penghalang bagi seseorang untuk menghasilkan karya besar. Ia mencontohkan sejumlah tokoh yang menghasilkan karya ketika berada di dalam penjara.
“Kalau mau melihat sejarah, karya-karya besar yang ditulis oleh orang-orang besar itu rata-rata dari dalam penjara. Kita lihat bagaimana Nelson menulis dari dalam penjara, kita melihat bagaimana Tan Malaka menulis, Bung Karno menulis, Antonio Gramsci menulis, bahkan secara spesifik Antonio Gramsci menulis tentang penjara,” katanya.
Ia juga menyinggung Buya Hamka yang menyelesaikan karya tafsir Al-Qur’an ketika menjalani masa tahanan. Menurut Willy, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ruang pemasyarakatan juga dapat menjadi tempat tumbuhnya produktivitas dan pemikiran.
Willy mengatakan, gagasan tersebut telah mulai dipraktikkannya di sejumlah lapas, termasuk Lapas Cipinang. Ia berencana mengirimkan tim asistensi ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung untuk membantu warga binaan mengembangkan kemampuan membaca dan menulis.
“Saya tidak hanya berhenti di sini, habis ini saya akan kirim tim asistensi yang akan mengajari teman-teman bagaimana membaca, bagaimana menulis,” tuturnya.
Lebih lanjut, Willy menilai sistem pembinaan saat ini masih terlalu bertumpu pada satu indikator, yakni ketaatan warga binaan terhadap aturan. Padahal, menurutnya, terdapat berbagai aspek lain yang dapat menjadi ukuran keberhasilan proses pembinaan.
“Variabel kita selama ini kan variabel tunggal, itu ketaatan kepada aturan, kita tidak lihat variabel yang lain bahwasannya, kalau lapas benar-benar menjadi ruang reintegrasi dari memanusiakan manusia, harusnya kita berpikir pada titik yang produktif,” jelasnya.
Ia berharap kemampuan menghasilkan karya dapat menjadi indikator yang lebih substantif dalam melihat perubahan warga binaan. Dengan menulis, misalnya, warga binaan dapat merefleksikan pengalaman, lingkungan, serta interaksi yang mereka alami selama berada di dalam lapas.
“Ketika dia menulis realitasnya, kita bayangkan bagaimana seorang warga binaan bisa menulis cerita tentang temannya di dalam sel. Seorang warga binaan bisa menulis tentang bagaimana petugas lapas, itu interaksi yang sangat manusiawi sekali,” pungkas Willy.
Dalam kesempatan tersebut, Willy juga menyerahkan bantuan sebanyak 250 buku bacaan untuk Perpustakaan Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat. Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong budaya membaca dan menulis sebagai instrumen pembinaan warga binaan.
Ketua DPP NasDem itu juga mengatakan, buku yang diberikan memiliki beragam genre agar warga binaan memiliki pilihan bacaan yang luas sesuai minat dan kebutuhannya.
“Buku yang saya serahkan ini banyak genre, ada genre sastra, ada genre agama, ada genre ekonomi produktif, ada eko bisnis dan lain sebagainya. Spektrumnya sangat luas,” kata Willy.
Tidak berhenti pada penyediaan buku, Willy juga berencana memberikan 100 buku harian atau diari kepada warga binaan pada pekan depan. Menurutnya, menulis diari dapat menjadi sarana bagi seseorang untuk mengenali dan merefleksikan dirinya sendiri.
“Insya Allah minggu depan saya akan kirim 100 diari, karena dulu saya belajar menulis dari diari. Diari itulah yang menjadi medium korespondensi, kalau membaca kita memahami pikiran-pikiran orang, menulis kita berkorespondensi dengan diri kita dan melihat ke dalam,” ujarnya.
Willy menilai, aktivitas membaca dan menulis memiliki kekuatan dalam membangun proses kontemplasi warga binaan. Karena itu, literasi semestinya ditempatkan sebagai bagian dari proses pembinaan dan reintegrasi, bukan sekadar aktivitas tambahan di dalam lapas.
“Kalau lapas benar-benar menjadi ruang reintegrasi dari memanusiakan manusia, harusnya kita berpikir pada titik yang produktif,” tuturnya.
Ia mencontohkan aktivitas menulis dapat menjadi sarana bagi warga binaan untuk merekam pengalaman dan interaksi selama menjalani masa pembinaan. Dari tulisan tersebut, proses perubahan diri warga binaan dapat terlihat secara lebih autentik.
“Ketika dia menulis realitasnya, kita bayangkan bagaimana seorang warga binaan bisa menulis cerita tentang temannya di dalam sel. Seorang warga binaan bisa menulis tentang bagaimana petugas lapas, itu interaksi yang sangat manusiawi sekali,” pungkas Willy. (dpr.go.id/*)



Posting Komentar