Hadirnya Ning Lia Di Muswil NA, Menyongsong Fajar Baru: Nasyiatul Aisyiyah dan Ikhtiar Menenun Masa Depan
Hadirnya Ning Lia Di Muswil NA, Menyongsong Fajar Baru: Nasyiatul Aisyiyah dan Ikhtiar Menenun Masa Depan
Di bawah langit Ponorogo, denyut nadi perempuan muda Muhammadiyah berirama. Tantangan zaman kian terjal, namun strategi kaderisasi dan kolaborasi lintas sektor disinyalir menjadi jangkar agar gerakan ini tak sekadar bernapas, tapi juga berdampak.
PONOROGO — Suasana Gedung Universitas Muhammadiyah Ponorogo (Umpo) pada Sabtu, 17 Oktober 2026, tampak bergemuruh oleh energi kaum muda. Di ruang sidang Musyawarah Wilayah (Musywil) XIII Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur itu, ratusan pasang mata tertuju pada sosok perempuan yang berdiri di podium: Dr. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.I., M.E.I.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI tersebut tidak sedang melempar retorika kosong. Di hadapan para kader otonom perempuan muda Muhammadiyah ini, ia menguliti sebuah persoalan mendasar yang kerap menjadi titik buta organisasi massa: bagaimana menjaga relevansi di tengah arus zaman yang bergerak secepat kilat.
Bagi Lia, organisasi perempuan muda sebesar Nasyiatul Aisyiyah tidak bisa lagi hanya mengandalkan rutinitas program kerja yang bersifat business as usual. Di era ketika lanskap sosial, teknologi, dan ekonomi bergeser tanpa permisi, sebuah gerakan butuh kompas strategis yang tajam.
"Strategi adalah tentang masa depan," cetus Lia, memantik kesadaran kolektif audiens yang memadati arena Musywil. Pesannya telanjang: merumuskan program saja tidak cukup; yang krusial adalah memastikan program tersebut mengejawantah menjadi denyut manfaat yang nyata bagi anggota dan masyarakat luas.
Menembus Kepala Generasi Z
Ada catatan tebal yang digarisbawahi Lia dalam pemaparannya—sebuah kekhawatiran yang kerap menghantui organisasi-organisasi tradisional: bagaimana merangkul Generasi Z dan kalangan mahasiswi perempuan.
Bagi anak muda masa kini, organisasi bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan ruang bertumbuh, merajut jejaring, dan mencari aktualisasi diri. Jika Nasyiatul Aisyiyah gagal membaca gelombang psikologis dan pola komunikasi Gen Z, organisasi ini berisiko berjalan di tempat. Karena itu, ia mendorong kader-kader muda untuk tidak canggung memanfaatkan ruang digital. Media sosial, bagi Lia, bukan sekadar etalase citra, melainkan medan pertempuran gagasan untuk memperkenalkan nilai-nilai kemajuan.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa gincu digital tidak ada artinya jika substansinya kosong. "Komunikasi kepada generasi muda tidak cukup dilakukan melalui ajakan bergabung. Nasyiatul Aisyiyah perlu memperlihatkan secara nyata ruang dan kesempatan yang dapat diperoleh kader ketika terlibat," ujarnya.
Menghubungkan Gerakan dengan SDGs
Di luar urusan internal kaderisasi, Lia mengajak Nasyiatul Aisyiyah melangkah keluar menatap panggung makro. Ia mendorong agar setiap gerak langkah organisasi diselaraskan dengan kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs).
Baginya, isu-isu kesejahteraan sosial, lingkungan hidup, hingga pemberdayaan komunitas tidak boleh dipandang sebagai agenda asing. Nasyiatul Aisyiyah memiliki modal sosial yang kuat—jejaring yang mengakar hingga tingkat akar rumput dan keragaman latar belakang pendidikan para kadernya. Potensi intelektual dan profesional ini harus dikonsolidasikan agar mampu berbicara banyak dalam meja perundingan kebijakan maupun kolaborasi lintas sektor.
Kolaborasi, dalam pandangan Lia, adalah harga mati. Organisasi tidak boleh berdiri di menara gading atau terjebak dalam romantisme sejarah masa lalu. Sinergi dengan pemerintah daerah, kementerian, perguruan tinggi, hingga pemangku kepentingan lainnya menjadi keniscayaan agar program-program organisasi memiliki daya ungkit yang luas. Lebih dari itu, perencanaan yang matang dan penguatan identitas program mutlak diperlukan agar kesinambungan gerakan tidak luntur hanya karena terjadi pergantian tampuk kepemimpinan.
Merajut Napas Panjang Organisasi
Musywil XIII PWNA Jawa Timur pada akhirnya bukan sekadar ajang pertanggungjawaban atau suksesi kepemimpinan lima tahunan. Di tangan para kader yang hadir di Ponorogo hari ini, perhelatan tersebut menjelma menjadi laboratorium gagasan.
Ketika tirai Musywil ditutup, pekerjaan rumah yang sesungguhnya baru dimulai. Tantangannya kini bergeser dari sekadar merumuskan resolusi di atas kertas menuju keberanian menerjemahkannya ke dalam kerja-kerja nyata di lapangan.
Nasyiatul Aisyiyah dituntut untuk membuktikan diri: bahwa di tengah dunia yang makin kompleks, perempuan muda Muhammadiyah bukan sekadar penonton, melainkan motor penggerak perubahan yang adaptif, progresif, dan berakar kuat pada nilai-nilai keislaman berkemajuan.


Posting Komentar