PD GPMI Jaksel, Jejak Akar Rumput di Jakarta Selatan: Menabur Ikhlas, Menuai Abadi
Jaksel-Amas Persada News-DIBAWAH terik matahari Jakarta yang tak jarang menyengat, sebuah semangat tampak berdenyut di akar rumput Jakarta Selatan. Di sana, Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI) bukan sekadar papan nama organisasi yang menggantung di dinding sekretariat. Ia menjadi denyut nadi, sebuah bukti nyata bahwa ketika keikhlasan ditanam, waktu tak akan mampu mengikisnya.
Bagi banyak pengamat pergerakan Islam di Jakarta, apa yang terjadi di GPMI Jakarta Selatan adalah sebuah anomali yang manis. Di tengah menjamurnya organisasi yang kerap timbul tenggelam oleh arus politik praktis, GPMI justru tampak seperti pohon beringin yang akarnya semakin menghunjam dalam ke tanah.
Para pendiri, mendiang Ahmad Sumargono dan Ustaz Aslih Ridwan, mungkin dulu tak membayangkan bahwa benih yang mereka semai dengan keringat dan doa akan tumbuh sedemikian rimbun. Bagi keduanya, GPMI adalah wadah—sebuah kapal kecil untuk mengarungi samudera keumatan dengan satu kompas: keikhlasan.
"Ciri amal yang ikhlas itu sederhana," ujar salah satu pengurus akar rumput saat ditemui di sela-sela konsolidasi di Jakarta Selatan. "Apa yang dibangun dengan ketulusan, dia tidak akan mati hanya karena ditinggal pendirinya. Ia akan terus eksis, terus bergerak, dan menemukan jalannya sendiri untuk tetap hidup."
Keyakinan ini pulalah yang kini menjadi bahan bakar di bawah kepemimpinan Ketua Umum Pengurus Besar (PB) GPMI, H. Syarief Hidayatullah. Di tangan Syarief, estafet perjuangan itu tidak hanya sekadar diserahterimakan, melainkan dihidupkan kembali dengan napas yang sama.
Eksistensi GPMI khususnya di Jakarta mulai tingkat kota hingga ke pelosok kelurahan di Jakarta Selatan dipandang banyak kalangan sebagai bentuk "keberkahan Allah". Sebuah narasi yang mungkin terdengar klise bagi kaum sekuler, namun bagi mereka yang berada di lapangan, ini adalah jawaban atas rahasia keikhlasan.
Syarief Hidayatullah memahami betul bahwa tantangan zaman telah berubah. Namun, ia memilih untuk tetap memegang teguh pakem yang diwariskan para pendahulunya: bahwa organisasi bukanlah tentang siapa yang paling lantang berteriak, melainkan siapa yang paling konsisten hadir di tengah masyarakat.
Pola pengorganisasian yang cair, tanpa sekat yang kaku, membuat GPMI mampu merangkul berbagai lapisan. Mereka tidak hanya bergerak di ruang-ruang diskusi formal, tapi hadir dalam agenda-agenda sosial yang menyentuh urusan perut dan pendidikan umat. Di Jakarta Selatan, keberadaan mereka menjadi semacam oase yang menunjukkan bahwa dakwah tidak harus selalu berupa mimbar, namun bisa berupa kerja-kerja nyata yang konstan.
Dan Sejarah Mencatat bahwa organisasi yang mampu bertahan menembus dekade adalah mereka yang menjaga "gen" keikhlasan tetap murni.
Saat ini, di bawah panji Syarief Hidayatullah, GPMI tidak sedang membangun menara gading. Mereka sedang memastikan bahwa akar-akar yang ditanam oleh Sumargono dan Aslih Ridwan tetap mendapatkan air, tetap membumi, dan siap menopang dahan yang lebih tinggi.
Pada akhirnya, apa yang kita lihat di Jakarta Selatan bukanlah sekadar soal regenerasi kepengurusan. Ini adalah kesaksian tentang sebuah "janji" keberkahan bagi mereka yang berjuang tanpa pamrih. Selama keikhlasan itu masih menjadi ruh, maka selama itu pula, GPMI akan tetap abadi—bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena ia telah menyerahkan hasil akhirnya kepada Sang Pemilik Keberkahan.






Posting Komentar