Telusuri
24 C
id
  • Internasional
  • Daerah
  • Bisnis
  • Agama
  • Keluarga
  • Kontak
  • Iklan
Amas Persada News
pasang
  • Home
  • Politik
    • All
    • Politik
    • Pemerintahan
    • Pilkada
    • Tokoh Politik
  • Pemerintahan
    • Pemerintahan
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Organisasi
Amas Persada News
Telusuri
Beranda Bang Haji Syarief, Jalan Persaudaraan Muslim Dan Kebangsaan Melalui GPMI Dan BIMA Bang Haji Syarief, Jalan Persaudaraan Muslim Dan Kebangsaan Melalui GPMI Dan BIMA

Bang Haji Syarief, Jalan Persaudaraan Muslim Dan Kebangsaan Melalui GPMI Dan BIMA

Redaksi APN
Redaksi APN
01 Jul, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


 Melalui Barisan Insan Muda (BIMA) Syarief Membangun Kebangsaan tanpa sekat. Lalu ia tak lupa meneguhkan persaudaraan Muslim melanjutkan perjuangan Ahmad Sumargono dan Ust. Aslih Ridwan melalui GPMI (Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia). Sebetulnya termasuk di GPMI pun dia menunjukkan inklusifismenya dengan merangkul ormas lintas keagamaan dalam kerja sosial




Eksistensi GPMI dan BIMA saat ini menunjukkan kesetiaan Syarief menjaga nilai dalam memimpin Organisasi. Yuk simak ulasan lengkapnya!


LAPORAN KHUSUS


Syarief dan Dua Kaki Perjuangannya

Di tangan Syarief, organisasi bukan sekadar papan nama. Ia merajut ulang benang merah antara dakwah yang kokoh dan kebangsaan yang inklusif.


Oleh: Redaksi


DI sebuah sudut ruangan yang tak terlalu luas namun padat dengan diskusi, Syarief—kerap disapa Bang Haji Syarief—sering terlihat menatap ke depan dengan raut yang tenang. Bagi banyak orang yang mengenalnya, Syarief adalah simpul. Ia adalah titik temu antara masa lalu yang penuh khidmat dan masa depan yang menuntut kelincahan.


Ia tak sedang membangun menara gading. Sebaliknya, Syarief memilih "turun ke gelanggang" dengan mengampu dua entitas yang memiliki karakter berbeda namun bermuara pada satu tujuan: kemaslahatan umat dan bangsa. Di satu sisi, ia menjaga "rumah tua" bernama Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI). Di sisi lain, ia sedang meniupkan napas baru bagi anak muda melalui Barisan Insan Muda (BIMA).


Menjaga Marwah Rumah Tua

Bagi Syarief, memimpin GPMI bukanlah sekadar urusan administratif. Ini adalah persoalan menjaga api yang telah dinyalakan oleh para pendahulunya. Nama besar seperti Ahmad Sumargono dan Ustaz Aslih Ridwan bukanlah sekadar sejarah yang tersimpan di arsip organisasi. Bagi Syarief, mereka adalah kompas.


GPMI di tangan Syarief berusaha terus relevan. Ia memahami bahwa tantangan umat Islam hari ini tidak lagi sama dengan dekade silam. Jika dulu perjuangan lebih banyak berfokus pada penguatan basis, kini Syarief harus memimpin GPMI di tengah arus informasi yang tak bertepi dan polarisasi yang kerap mengancam persatuan.


"Syarief sadar betul bahwa GPMI adalah penjaga marwah," ujar seorang kolega dekatnya. Kesetiaan Syarief pada nilai-nilai yang diwariskan Ahmad Sumargono dan Ustaz Aslih Ridwan terlihat dari bagaimana ia tetap mempertahankan akar ideologis organisasi tanpa terjebak dalam romantisme masa lalu yang kaku. Ia mencoba memodernisasi cara pandang tanpa mencederai nilai inti.


Menembus Sekat Kebangsaan

Jika GPMI adalah jangkar yang menahan kapal tetap pada porosnya, maka BIMA adalah layar yang membawa kapal itu berlayar lebih jauh. Melalui Barisan Insan Muda (BIMA), Syarief melakukan eksperimen sosial yang menarik: membangun kebangsaan tanpa sekat.


Di BIMA, Syarief tampak lebih cair. Ia tak ingin terjebak pada dikotomi usang yang sering membelah masyarakat. Baginya, nasionalisme adalah bagian tak terpisahkan dari keimanan. Dengan BIMA, ia merangkul elemen-elemen muda yang beragam, melampaui batas-batas organisasi, suku, bahkan golongan.


"Kebangsaan tanpa sekat" bukan sekadar jargon di bibir Syarief. Ia menerjemahkannya dalam aksi-aksi nyata di lapangan. BIMA menjadi kawah candradimuka bagi anak-anak muda untuk memahami bahwa menjadi Muslim yang taat dan menjadi warga negara yang nasionalis bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan satu kesatuan yang saling menguatkan.


Ujian Kesetiaan pada Nilai

Tentu, memegang dua kendali ini bukan tanpa tantangan. Syarief kerap berada di persimpangan jalan; antara menjaga tradisi dakwah yang puritan dan tuntutan zaman yang liberal. Namun, di situlah letak kekuatannya. Pengamat menilai, eksistensi Syarief hingga saat ini bukan karena ia pandai berpolitik, melainkan karena ia dianggap teguh memegang nilai.


Dalam kepemimpinan organisasi, konsistensi adalah barang mahal. Banyak tokoh yang kehilangan pijakan ketika organisasi yang dipimpinnya mulai bersinggungan dengan kekuasaan atau dinamika politik praktis. Syarief memilih jalan yang berbeda. Ia cenderung menempatkan organisasi sebagai entitas yang mandiri, yang loyalitasnya tertuju pada nilai-nilai perjuangan, bukan pada kepentingan sesaat.


Di akhir hari, apa yang dilakukan Syarief adalah sebuah upaya regenerasi dan keberlanjutan. Ia tak ingin GPMI menjadi fosil, pun tak ingin BIMA sekadar menjadi kerumunan tanpa arah. Ia ingin keduanya menjadi pilar bagi masa depan bangsa.


Syarief tahu, memimpin bukan sekadar memberi perintah. Memimpin adalah memberi teladan tentang bagaimana merawat persaudaraan dan mencintai bangsa dengan cara yang paling tulus. Dan selama ia masih memegang kendali, roda organisasi itu tampaknya akan terus berputar—dengan satu kaki di akar sejarah, dan kaki lainnya melangkah menantang masa depan

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement

Berita Pilihan

Ternyata Alumni HMI, Ini Jawaban Bupati Sitobondo Mas Rio Kala Ditawari Maju Pilgub Jatim

Redaksi APN- September 23, 2026 0
Ternyata Alumni HMI, Ini Jawaban Bupati Sitobondo Mas Rio Kala Ditawari Maju Pilgub Jatim
Mas Rio: Saya Dididik Kiai Kholil As’ad untuk Tidak Mengejar Jabatan Politik Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengakui banyaknya dukungan warganet ya…

Berita Populer

Sejarah Partai Islam Mulai PSII Dan MASYUMI, Sejarah Perpecahan Hingga Tantangan Menuju 2029

Sejarah Partai Islam Mulai PSII Dan MASYUMI, Sejarah Perpecahan Hingga Tantangan Menuju 2029

September 22, 2026
Senyum Tenang dan Jurus Kuda-Kuda yang Kokoh: Dokter Andre Menatap 2029

Senyum Tenang dan Jurus Kuda-Kuda yang Kokoh: Dokter Andre Menatap 2029

September 17, 2026
Memaknai Keadilan Sosial: Antara Kesetaraan Kesempatan dan Penghargaan atas Ikhtiar

Memaknai Keadilan Sosial: Antara Kesetaraan Kesempatan dan Penghargaan atas Ikhtiar

September 17, 2026

Recent Comments

Berita Pilihan

Ketua Fraksi PKS Kab PPU Kalimantan 2019-2024 Dan Kepala Dinkes Kaltim Temui Sayyid Muhammad Qasim

Ketua Fraksi PKS Kab PPU Kalimantan 2019-2024 Dan Kepala Dinkes Kaltim Temui Sayyid Muhammad Qasim

Oktober 11, 2024
Komandan Pengawas Barisan Yang Menjaga Sekitar Kita, Go A Head Tim Pengawas Intelejen DPR-RI!

Komandan Pengawas Barisan Yang Menjaga Sekitar Kita, Go A Head Tim Pengawas Intelejen DPR-RI!

Desember 05, 2024
Di Aceh, Wagub Dan Kadis Kesehatan Kaltim Temui Helper Muhammad Qasim

Di Aceh, Wagub Dan Kadis Kesehatan Kaltim Temui Helper Muhammad Qasim

April 23, 2026

Trending News

Sejarah Partai Islam Mulai PSII Dan MASYUMI, Sejarah Perpecahan Hingga Tantangan Menuju 2029

Sejarah Partai Islam Mulai PSII Dan MASYUMI, Sejarah Perpecahan Hingga Tantangan Menuju 2029

September 22, 2026
Senyum Tenang dan Jurus Kuda-Kuda yang Kokoh: Dokter Andre Menatap 2029

Senyum Tenang dan Jurus Kuda-Kuda yang Kokoh: Dokter Andre Menatap 2029

September 17, 2026
Memaknai Keadilan Sosial: Antara Kesetaraan Kesempatan dan Penghargaan atas Ikhtiar

Memaknai Keadilan Sosial: Antara Kesetaraan Kesempatan dan Penghargaan atas Ikhtiar

September 17, 2026
Amas Persada News

About Us

Amas Persada News Menyajikan Berita Akurat dan Terpercaya, Enak dibaca dan Mendobrak Fakta

Contact us: amaspersadanews@gmail.com

Follow Us

© Copyright Amas Persada News 2024 apn
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Sanggah/Jawab
  • Iklan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kontak