Bang Haji Syarief, Jalan Persaudaraan Muslim Dan Kebangsaan Melalui GPMI Dan BIMA
Melalui Barisan Insan Muda (BIMA) Syarief Membangun Kebangsaan tanpa sekat. Lalu ia tak lupa meneguhkan persaudaraan Muslim melanjutkan perjuangan Ahmad Sumargono dan Ust. Aslih Ridwan melalui GPMI (Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia). Sebetulnya termasuk di GPMI pun dia menunjukkan inklusifismenya dengan merangkul ormas lintas keagamaan dalam kerja sosial
Eksistensi GPMI dan BIMA saat ini menunjukkan kesetiaan Syarief menjaga nilai dalam memimpin Organisasi. Yuk simak ulasan lengkapnya!
LAPORAN KHUSUS
Syarief dan Dua Kaki Perjuangannya
Di tangan Syarief, organisasi bukan sekadar papan nama. Ia merajut ulang benang merah antara dakwah yang kokoh dan kebangsaan yang inklusif.
Oleh: Redaksi
DI sebuah sudut ruangan yang tak terlalu luas namun padat dengan diskusi, Syarief—kerap disapa Bang Haji Syarief—sering terlihat menatap ke depan dengan raut yang tenang. Bagi banyak orang yang mengenalnya, Syarief adalah simpul. Ia adalah titik temu antara masa lalu yang penuh khidmat dan masa depan yang menuntut kelincahan.
Ia tak sedang membangun menara gading. Sebaliknya, Syarief memilih "turun ke gelanggang" dengan mengampu dua entitas yang memiliki karakter berbeda namun bermuara pada satu tujuan: kemaslahatan umat dan bangsa. Di satu sisi, ia menjaga "rumah tua" bernama Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI). Di sisi lain, ia sedang meniupkan napas baru bagi anak muda melalui Barisan Insan Muda (BIMA).
Menjaga Marwah Rumah Tua
Bagi Syarief, memimpin GPMI bukanlah sekadar urusan administratif. Ini adalah persoalan menjaga api yang telah dinyalakan oleh para pendahulunya. Nama besar seperti Ahmad Sumargono dan Ustaz Aslih Ridwan bukanlah sekadar sejarah yang tersimpan di arsip organisasi. Bagi Syarief, mereka adalah kompas.
GPMI di tangan Syarief berusaha terus relevan. Ia memahami bahwa tantangan umat Islam hari ini tidak lagi sama dengan dekade silam. Jika dulu perjuangan lebih banyak berfokus pada penguatan basis, kini Syarief harus memimpin GPMI di tengah arus informasi yang tak bertepi dan polarisasi yang kerap mengancam persatuan.
"Syarief sadar betul bahwa GPMI adalah penjaga marwah," ujar seorang kolega dekatnya. Kesetiaan Syarief pada nilai-nilai yang diwariskan Ahmad Sumargono dan Ustaz Aslih Ridwan terlihat dari bagaimana ia tetap mempertahankan akar ideologis organisasi tanpa terjebak dalam romantisme masa lalu yang kaku. Ia mencoba memodernisasi cara pandang tanpa mencederai nilai inti.
Menembus Sekat Kebangsaan
Jika GPMI adalah jangkar yang menahan kapal tetap pada porosnya, maka BIMA adalah layar yang membawa kapal itu berlayar lebih jauh. Melalui Barisan Insan Muda (BIMA), Syarief melakukan eksperimen sosial yang menarik: membangun kebangsaan tanpa sekat.
Di BIMA, Syarief tampak lebih cair. Ia tak ingin terjebak pada dikotomi usang yang sering membelah masyarakat. Baginya, nasionalisme adalah bagian tak terpisahkan dari keimanan. Dengan BIMA, ia merangkul elemen-elemen muda yang beragam, melampaui batas-batas organisasi, suku, bahkan golongan.
"Kebangsaan tanpa sekat" bukan sekadar jargon di bibir Syarief. Ia menerjemahkannya dalam aksi-aksi nyata di lapangan. BIMA menjadi kawah candradimuka bagi anak-anak muda untuk memahami bahwa menjadi Muslim yang taat dan menjadi warga negara yang nasionalis bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan satu kesatuan yang saling menguatkan.
Ujian Kesetiaan pada Nilai
Tentu, memegang dua kendali ini bukan tanpa tantangan. Syarief kerap berada di persimpangan jalan; antara menjaga tradisi dakwah yang puritan dan tuntutan zaman yang liberal. Namun, di situlah letak kekuatannya. Pengamat menilai, eksistensi Syarief hingga saat ini bukan karena ia pandai berpolitik, melainkan karena ia dianggap teguh memegang nilai.
Dalam kepemimpinan organisasi, konsistensi adalah barang mahal. Banyak tokoh yang kehilangan pijakan ketika organisasi yang dipimpinnya mulai bersinggungan dengan kekuasaan atau dinamika politik praktis. Syarief memilih jalan yang berbeda. Ia cenderung menempatkan organisasi sebagai entitas yang mandiri, yang loyalitasnya tertuju pada nilai-nilai perjuangan, bukan pada kepentingan sesaat.
Di akhir hari, apa yang dilakukan Syarief adalah sebuah upaya regenerasi dan keberlanjutan. Ia tak ingin GPMI menjadi fosil, pun tak ingin BIMA sekadar menjadi kerumunan tanpa arah. Ia ingin keduanya menjadi pilar bagi masa depan bangsa.
Syarief tahu, memimpin bukan sekadar memberi perintah. Memimpin adalah memberi teladan tentang bagaimana merawat persaudaraan dan mencintai bangsa dengan cara yang paling tulus. Dan selama ia masih memegang kendali, roda organisasi itu tampaknya akan terus berputar—dengan satu kaki di akar sejarah, dan kaki lainnya melangkah menantang masa depan


Posting Komentar