TRENDING KE 18 KALI MUHAMMAD QASIM DI TWITTER (X) AMERIKA, TEMA QASIM KEMBALI KE TAUHID MURNI PUNYA DALIL-DALIL KUAT
Fenomena Melejitnya ke 18 Kali, yang secara berturut-turut sebelumnya dari pekan ke pekan Muhammad Qasim menembus Medsos Amerika merupakan penanda Gerakan kembali ke Tauhid Murni seperti menolak pemajangan gambar mahluk bernyawa, menolak berbuat hal-hal aneh di kuburan dan lain-lain punya dalil kuat.
Yuk kita lihat dalil-dalil kuat itu :
*KISAH RASULULLAH SAW DAN PARA SAHABAT YANG MENOLAK SHALAT DI TEMPAT YANG TERDAPAT GAMBAR, PATUNG, BONEKA, DAN KUBURAN TINGGI*
*Semua Perbuatan Syirik Sangat Dibenci dan Dilarang dalam Islam*
*Bagian 1: Pendahuluan dan Pengantar*
Bismillahirrahmanirrahim.
*Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.*
Saudara-saudaraku seiman yang semoga senantiasa berada dalam lindungan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Syirik adalah dosa terbesar dalam Islam. Allah Subhanahu wa Ta'ala sangat membenci segala bentuk syirik, baik syirik besar maupun syirik kecil. Syirik dapat menghapus seluruh amal kebaikan yang telah dikerjakan seumur hidup, menyebabkan pelakunya kekal di neraka selama-lamanya, dan tidak akan diampuni oleh Allah jika meninggal tanpa bertaubat. Inilah mengapa syirik disebut sebagai dosa yang paling besar dan paling berat di sisi Allah.
Salah satu bentuk syirik yang sangat dilarang dalam Islam adalah pembuatan, pemilikan, pemajangan, dan penggunaan gambar serta patung makhluk bernyawa, termasuk boneka yang menyerupai makhluk hidup. Selain itu, Islam juga melarang keras membangun kuburan yang ditinggikan dan menjadikannya sebagai tempat ibadah, apalagi shalat menghadap ke arah kuburan.
Rasulullah ﷺ dan para sahabat sangat tegas dalam masalah gambar, patung, boneka, dan kuburan. Mereka bahkan menolak untuk melaksanakan shalat di tempat-tempat yang terdapat gambar, patung, boneka makhluk bernyawa, serta di masjid yang menghadap ke kuburan yang ditinggikan. Sikap tegas ini adalah bentuk implementasi dari ajaran Islam yang menjaga kemurnian tauhid dan menutup semua jalan menuju syirik.
*Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:*
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan) dengan-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar."
*(QS. An-Nisa': 48)*
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: 'Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.'"
*(QS. Az-Zumar: 65)*
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun."
*(QS. Al-Ma'idah: 72)*
*Bagian 2: Hadits-Hadits tentang Larangan Gambar, Patung, Boneka, dan Kuburan*
Sebelum kita memasuki kisah-kisah Rasulullah ﷺ dan para sahabat, ada baiknya kita mengingat beberapa hadits yang menjadi landasan larangan gambar, patung, boneka makhluk bernyawa, serta larangan shalat menghadap kuburan.
*Hadits tentang Larangan Gambar dan Patung*
*Rasulullah ﷺ bersabda:*
إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ
"Sesungguhnya manusia yang paling berat siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para pembuat gambar (makhluk bernyawa)."
*(HR. Bukhari no. 5954, Muslim no. 2109)*
كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ، يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُورَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ
"Setiap pembuat gambar (makhluk bernyawa) ada di neraka. Setiap gambar yang ia buat akan dijadikan jiwa (makhluk hidup) yang akan menyiksanya di neraka Jahannam."
*(HR. Muslim no. 2110)*
لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ
"Malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing dan juga gambar (makhluk bernyawa)."
*(HR. Bukhari no. 3225, Muslim no. 2106)*
لَعَنَ اللَّهُ الْمُصَوِّرِينَ
"Allah melaknat para pembuat gambar (patung)."
*(HR. Bukhari no. 5950)*
أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ، وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ
"Hendaknya engkau tidak membiarkan satu patung pun melainkan engkau hapus, dan tidak membiarkan satu kuburan yang ditinggikan melainkan engkau ratakan."
*(HR. Muslim no. 969)*
*Hadits tentang Larangan Shalat Menghadap Kuburan*
*Rasulullah ﷺ bersabda:*
لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا
"Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah kalian shalat menghadap ke arahnya."
*(HR. Muslim no. 972)*
لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
"Allah melaknat orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid."
*(HR. Bukhari no. 435, Muslim no. 529)*
أَلَا إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
"Ingatlah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan nabi-nabi dan orang-orang saleh mereka sebagai masjid. Ingatlah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian dari hal itu."
*(HR. Muslim no. 532)*
لَا تَتَّخِذُوا قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
"Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai berhala yang disembah. Sungguh, Allah sangat murka terhadap kaum yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid."
*(HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani)*
*Bagian 3: Kisah Rasulullah ﷺ Menolak Shalat di Rumah yang Bergambar dan Berpatung*
Pada suatu hari, Rasulullah ﷺ bersama para sahabat melakukan perjalanan yang panjang melintasi berbagai daerah dan kota. Mereka berjalan melewati padang pasir yang luas, lembah-lembah yang dalam, dan bukit-bukit yang terjal. Perjalanan ini sangat melelahkan, namun para sahabat tetap bersemangat karena bersama Rasulullah ﷺ.
Setelah sekian lama berjalan, mereka sampai di suatu tempat dan memutuskan untuk singgah beristirahat sejenak. Cuaca saat itu sangat panas, matahari bersinar terik di atas kepala. Para sahabat mencari tempat berteduh untuk melepas lelah. Beberapa sahabat masuk ke dalam sebuah rumah yang ada di dekat tempat mereka singgah.
Rumah tersebut ternyata milik seorang penduduk setempat. Namun sangat disayangkan, rumah itu dipenuhi dengan berbagai patung dan gambar makhluk bernyawa. Patung-patung dari kayu dan batu berdiri di sudut-sudut ruangan. Gambar-gambar manusia dan hewan terpampang di dinding-dinding rumah. Ada patung singa yang gagah, ada patung kuda yang sedang berlari, ada gambar burung yang sedang terbang, ada gambar manusia yang sedang duduk atau berdiri dengan berbagai pose.
Melihat kemungkaran yang sangat besar ini, para sahabat yang beriman segera berusaha membersihkan rumah tersebut dari patung dan gambar. Mereka tidak tega melihat rumah yang akan dimasuki Rasulullah ﷺ penuh dengan benda-benda yang dilarang dalam agama. Dengan penuh semangat, mereka mulai menghapus gambar-gambar yang ada di dinding. Mereka mengambil patung-patung yang ada untuk disingkirkan dan dihancurkan. Mereka bekerja dengan cepat agar rumah itu bersih sebelum Rasulullah ﷺ masuk.
Ketika Rasulullah ﷺ tiba dan masuk ke dalam rumah tersebut, beliau melihat masih adanya beberapa gambar atau patung yang belum sempat dihapus oleh para sahabat. Mungkin karena jumlahnya yang sangat banyak, atau karena terbatasnya waktu. Melihat masih adanya gambar dan patung di rumah itu, wajah Rasulullah ﷺ berubah. Beliau tidak senang melihat benda-benda yang dilarang oleh Allah masih terpampang di hadapannya.
Tanpa banyak bicara, Rasulullah ﷺ segera berpaling dan keluar dari rumah tersebut. Beliau tidak mau tinggal di rumah yang masih bergambar. Beliau juga tidak mau melaksanakan shalat di tempat yang masih terdapat patung dan gambar makhluk bernyawa. Beliau memilih untuk keluar dan mencari tempat lain yang lebih bersih dan suci untuk beribadah.
*Hadits riwayat Ibnu Hibban:*
كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ، فَنَزَلَ مَنْزِلًا فَدَخَلَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ بَيْتًا فِيهِ تَمَاثِيلُ، أَوْ قَالَ: صُورَةٌ، فَجَعَلَ يَمْسَحُهَا، فَدَخَلَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ ﷺ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ تَوَلَّى
"Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan. Beliau singgah di suatu tempat, lalu sebagian sahabat masuk ke sebuah rumah yang di dalamnya terdapat patung-patung (tamatsil), atau perawi ragu, beliau berkata: 'gambar (shurah)'. Maka sahabat itu pun mulai menghapusnya. Kemudian Nabi ﷺ masuk menemuinya. Tatkala beliau melihat hal itu (gambar/patung yang masih ada), beliau berpaling (keluar) dan tidak shalat di tempat itu."
*(HR. Ibnu Hibban no. 5864, dishahihkan Syuaib Al-Arnauth)*
Kisah ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Pertama, Rasulullah ﷺ sangat tegas dalam masalah gambar dan patung. Beliau tidak mau berkompromi sedikit pun. Meskipun para sahabat sudah berusaha membersihkan, namun karena masih tersisa gambar, beliau tetap keluar dan tidak mau shalat di tempat itu. Kedua, para sahabat juga sangat bersemangat dalam membersihkan tempat dari kemungkaran. Mereka tidak membiarkan gambar dan patung tetap ada begitu saja. Ketiga, tempat shalat, baik itu rumah, masjid, mushola, atau lapangan, harus benar-benar bersih dari segala bentuk gambar dan patung makhluk bernyawa.
*Bagian 4: Kisah Rasulullah ﷺ Marah Melihat Tirai Bergambar di Rumah Aisyah*
Kisah lain yang sangat terkenal dan penuh pelajaran adalah ketika Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Rasulullah ﷺ yang mulia dan dicintai, memasang sebuah tirai bergambar di rumahnya. Tirai tersebut bergambar berbagai patung atau makhluk bernyawa. Mungkin Aisyah berniat untuk memperindah rumahnya agar terlihat lebih cantik dan rapi. Namun ia belum mengetahui dengan baik larangan syariat tentang gambar dan patung. Atau mungkin ia sudah mengetahui tetapi belum terlalu memahami detailnya.
Suatu hari, Rasulullah ﷺ kembali dari perjalanan yang cukup panjang. Beliau telah lama meninggalkan rumah dan sangat merindukan keluarganya. Dengan penuh semangat, beliau melangkahkan kaki menuju rumah. Namun ketika beliau masuk dan melihat tirai bergambar yang dipasang oleh Aisyah, suasana berubah drastis.
Wajah Rasulullah ﷺ yang biasanya ceria dan penuh senyum berubah menjadi tegang dan menunjukkan tanda-tanda kemarahan. Matanya memandang tirai itu dengan tajam. Beliau sangat marah melihat gambar-gambar makhluk bernyawa yang terpampang jelas di tirai yang tergantung di rumahnya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat yang penuh dengan ketenangan dan keberkahan, kini tercemar dengan gambar-gambar yang dilarang oleh Allah.
Tanpa banyak bicara, Rasulullah ﷺ langsung mendekati tirai itu. Dengan tangannya yang mulia, beliau merobek tirai tersebut dengan kasar. Sobekan demi sobekan, tirai itu hancur berkeping-keping. Wajah Aisyah yang melihat kejadian itu tentu terkejut dan bingung. Ia tidak menyangka bahwa tindakannya yang berniat baik untuk memperindah rumah justru menimbulkan kemarahan suaminya, Rasulullah ﷺ.
Namun Aisyah radhiyallahu 'anha adalah seorang wanita yang cerdas dan beriman. Ia segera menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah kesalahan. Ia tidak marah, tidak membantah, dan tidak merasa tersinggung. Ia justru merenung dan berusaha memahami mengapa Rasulullah ﷺ sangat marah.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda dengan tegas bahwa manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah orang-orang yang meniru ciptaan Allah, yaitu para pembuat gambar dan patung. Beliau menjelaskan bahwa membuat gambar makhluk bernyawa adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah karena menandingi ciptaan-Nya. Allah adalah satu-satunya Pencipta, tidak ada yang bisa menciptakan seperti ciptaan-Nya.
*Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:*
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ سَفَرٍ، وَقَدْ سَتَّرْتُ بِقِرَامٍ لِي عَلَى سَهْوَةٍ لِي فِيهَا تَمَاثِيلُ، فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ هَتَكَهُ وَقَالَ: أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ
"Rasulullah ﷺ tiba dari suatu perjalanan, sementara aku telah memasang tirai bergambar di sebuah ruangan kecil milikku yang ada patung-patungnya. Ketika Rasulullah ﷺ melihatnya, beliau merobeknya (dengan marah) dan bersabda: 'Manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah orang-orang yang meniru ciptaan Allah.'"
*(HR. Bukhari no. 5954, Muslim no. 2107)*
Dalam riwayat lain yang masih berhubungan dengan kisah ini, Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa ia pernah membeli sebuah bantal yang di atasnya terdapat gambar-gambar makhluk bernyawa. Bantal itu terlihat cantik dan menarik. Aisyah mungkin berpikir bahwa bantal itu bisa menjadi hiasan yang indah di rumahnya.
Namun ketika Rasulullah ﷺ melihat bantal tersebut, beliau berdiri di pintu dan tidak mau masuk ke dalam rumah. Beliau tidak melangkahkan kaki ke dalam rumah. Aisyah yang melihat hal itu segera menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ia melihat tanda ketidaksukaan yang sangat jelas di wajah Rasulullah ﷺ. Beliau sangat tidak suka dengan adanya gambar makhluk bernyawa di dalam rumah.
*Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:*
اشْتَرَيْتُ نُمْرُقَةً فِيهَا تَصَاوِيرُ، فَلَمَّا رَآهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَامَ عَلَى الْبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْ، فَعَرَفْتُ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةَ
"Aku membeli bantal bergambar. Ketika Rasulullah ﷺ melihatnya, beliau berdiri di pintu dan tidak masuk. Aku melihat tanda ketidaksukaan di wajah beliau."
*(HR. Bukhari no. 5957, Muslim no. 2107)*
Kisah ini memberikan pelajaran yang sangat dalam. Pertama, Rasulullah ﷺ sangat tidak suka dengan gambar makhluk bernyawa di dalam rumah. Beliau bahkan tidak mau masuk ke rumah yang ada gambar. Kedua, sikap tegas Rasulullah ﷺ dalam masalah ini mengajarkan bahwa tidak ada kompromi dalam masalah gambar dan patung. Ketiga, Aisyah radhiyallahu 'anha sebagai istri Rasulullah ﷺ yang mulia menunjukkan sikap yang sangat baik. Ia tidak marah, tidak membantah, dan segera memahami kesalahannya. Ini adalah teladan bagi kita semua.
*Bagian 5: Kisah Rasulullah ﷺ yang Tidak Mau Shalat Menghadap ke Arah Gambar*
Rasulullah ﷺ juga sangat memperhatikan arah shalat dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Beliau tidak suka jika shalat menghadap ke arah gambar atau sesuatu yang dapat mengganggu kekhusyukan dan konsentrasi dalam beribadah kepada Allah.
Dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Aisyah radhiyallahu 'anha memiliki sebuah kain bergambar. Kain itu cukup besar dan diletakkan di ambang pintu rumah. Posisi kain itu tepat berada di arah shalat Rasulullah ﷺ. Setiap kali Rasulullah ﷺ shalat, pandangan beliau tertuju ke arah kain bergambar itu.
Gambar-gambar pada kain itu tentu sangat mengganggu. Bayangkan, ketika sedang berdiri menghadap Allah, mata melihat gambar makhluk. Ketika sujud, pandangan juga tidak sengaja tertuju pada gambar. Hal ini tentu mengurangi kekhusyukan dan kualitas shalat.
Rasulullah ﷺ merasakan gangguan itu. Beliau merasa terganggu dengan adanya gambar tersebut. Shalat yang seharusnya menjadi momen paling khusyuk dan intim antara hamba dengan Tuhannya, menjadi terganggu oleh gambar-gambar makhluk ciptaan Allah.
Setelah selesai shalat, Rasulullah ﷺ segera memerintahkan Aisyah untuk menjauhkan kain itu dari arah shalatnya. Dengan penuh ketaatan, Aisyah segera melaksanakan perintah tersebut. Ia menjauhkan kain itu dan menjadikannya bantal atau alas duduk. Dengan demikian, kain itu tidak lagi dimuliakan, tetapi justru dihinakan karena diduduki atau dipakai sebagai sandaran.
zAisyah radhiyallahu 'anha berkata:z
أَنَّهَا كَانَتْ لَهَا ثَوْبٌ فِيهِ تَصَاوِيرُ، فَكَانَ إِلَى عَتَبَةِ الْبَيْتِ، فَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي إِلَيْهِ، فَقَالَ: أَخِّرِيهِ عَنِّي، فَأَخَّرَتْهُ فَجَعَلَتْهُ وَسَائِدَ
"Aisyah memiliki kain bergambar. Kain itu berada di ambang pintu rumah. Nabi ﷺ shalat menghadap ke arahnya. Beliau bersabda: 'Jauhkanlah (kain itu) dariku.' Maka Aisyah menjauhkannya dan menjadikannya bantal (alas duduk)."
*(HR. Abu Daud no. 4153, dishahihkan Al-Albani)*
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting. Pertama, gambar makhluk bernyawa tidak boleh berada di depan orang yang shalat karena dapat mengganggu kekhusyukan. Kedua, jika gambar tersebut dihinakan (seperti dijadikan alas duduk atau bantal yang diduduki), maka hukumnya menjadi lebih ringan. Namun tetap lebih baik dihindari. Ketiga, Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan kualitas shalatnya. Beliau tidak ingin ada sesuatu yang mengganggu konsentrasi dan kekhusyukan.
*Bagian 6: Kisah Rasulullah ﷺ yang Tidak Mau Masuk ke Rumah Karena Ada Patung*
Kisah lain yang sangat penting dan penuh hikmah adalah ketika Rasulullah ﷺ tidak mau masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat patung. Bahkan Malaikat Jibril yang mulia dan agung pun enggan masuk ke rumah yang bergambar atau berpatung.
Suatu ketika, Malaikat Jibril 'alaihissalam berjanji akan datang kepada Rasulullah ﷺ pada waktu yang telah ditentukan. Rasulullah ﷺ menunggu kedatangan Jibril dengan penuh harap. Namun waktu berlalu, Jibril tidak kunjung datang. Rasulullah ﷺ menunggu dengan sabar, tetapi tetap saja Jibril tidak muncul.
Rasulullah ﷺ mulai merasa heran dan bertanya-tanya. Mengapa Jibril tidak datang? Bukankah janji malaikat itu selalu tepat dan tidak pernah diingkari? Kemudian Rasulullah ﷺ keluar dari rumahnya dan berjalan mencari Jibril. Tidak lama kemudian, beliau bertemu dengan Jibril di luar rumah.
Dengan penuh rasa ingin tahu, Rasulullah ﷺ bertanya kepada Jibril tentang ketidakhadirannya. Jibril pun menjawab dengan alasan yang sangat penting dan memberikan pelajaran berharga bagi seluruh umat Islam.
Jibril menjawab bahwa para malaikat, termasuk dirinya, tidak memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan juga gambar makhluk bernyawa. Rumah Rasulullah ﷺ saat itu memiliki gambar atau mungkin patung, sehingga Jibril tidak bisa memasukinya.
*Rasulullah ﷺ bersabda:*
وَعَدَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنْ يَأْتِيَنِي، فَلَمْ يَأْتِنِي، فَكَأَنِّي أَلْقَيْتُ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَقِيَهُ، فَقَالَ لَهُ جِبْرِيلُ: إِنَّا لَا نَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ
"Jibril 'alaihissalam pernah berjanji akan datang kepadaku, tetapi ia tidak datang. Maka Nabi ﷺ keluar dan bertemu dengannya. Jibril berkata: 'Sesungguhnya kami (para malaikat) tidak memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing dan juga gambar (makhluk bernyawa).'"
*(HR. Ibnu Hibban, dishahihkan Al-Arnauth)*
Hadits ini menunjukkan betapa besarnya larangan gambar dan patung. Malaikat yang mulia dan suci saja tidak mau masuk ke rumah yang bergambar. Jika malaikat rahmat tidak masuk ke rumah kita, maka yang masuk adalah setan. Rumah akan kehilangan keberkahan, ketenangan, dan perlindungan dari Allah.
*Bagian 7: Kisah Rasulullah ﷺ yang Menghancurkan 360 Patung di Sekitar Ka'bah*
Salah satu peristiwa paling bersejarah dan paling agung dalam sirah Nabawiyah adalah ketika Rasulullah ﷺ menaklukkan kota Mekah, yang dikenal dengan peristiwa Fathu Makkah. Peristiwa besar ini terjadi pada tahun 8 Hijriyah, setelah bertahun-tahun Rasulullah ﷺ dan para sahabat diusir, dianiaya, dan diperangi oleh kaum musyrikin Quraisy.
Setelah sekian lama meninggalkan kota kelahirannya, akhirnya Rasulullah ﷺ kembali ke Mekah dengan pasukan yang besar. Namun beliau tidak datang untuk balas dendam atau membunuh. Beliau datang dengan penuh kasih sayang dan ampunan. Beliau memaafkan orang-orang yang telah menyakitinya selama bertahun-tahun.
Saat memasuki Mekah, Rasulullah ﷺ langsung menuju Ka'bah, rumah Allah yang paling suci dan mulia. Ka'bah adalah kiblat umat Islam, tempat yang paling dicintai oleh Allah. Namun sangat menyedihkan, di sekeliling Ka'bah terdapat 360 patung berhala yang disembah oleh orang-orang musyrik.
Berhala-berhala itu diletakkan di sekitar Ka'bah dengan berbagai ukuran dan bentuk. Ada yang diletakkan di dinding Ka'bah, ada yang di atap, ada yang di halaman, ada yang di dalam Ka'bah sendiri. Berhala-berhala itu bernama Hubal, Latta, Uzza, Manat, dan berbagai nama lainnya. Setiap kabilah memiliki berhala yang mereka sembah.
Dengan penuh keberanian dan keteguhan iman, Rasulullah ﷺ mendekati patung-patung itu. Sambil memegang sebatang kayu yang ada di tangannya, beliau mulai menusuk-nusuk patung-patung itu satu per satu. Setiap patung yang terkena tusukan kayu itu jatuh berguling dan hancur berkeping-keping.
Sambil menghancurkan patung-patung itu, *Rasulullah ﷺ membaca firman Allah yang mulia:*
جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
*"Telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap."
(QS. Al-Isra': 81)*
Para sahabat juga ikut serta dalam penghancuran patung-patung itu. Mereka bergerak dengan cepat dan bersemangat. Tidak ada satu pun patung yang dibiarkan berdiri. Semuanya dihancurkan hingga tidak tersisa.
*Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:*
دَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ مَكَّةَ يَوْمَ الْفَتْحِ وَحَوْلَ الْبَيْتِ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَسِتُّونَ نُصُبًا، فَجَعَلَ يَطْعُنُهَا بِعُودٍ فِي يَدِهِ وَيَقُولُ: جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ، إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
"Nabi ﷺ memasuki Mekah pada hari Fathu Makkah, sementara di sekeliling Ka'bah ada 360 berhala (nushub). Maka beliau menusuk-nusuknya dengan sebatang kayu di tangannya sambil membaca: 'Telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.'"
*(HR. Bukhari no. 2478, Muslim no. 1781)*
Peristiwa bersejarah ini menunjukkan betapa tegasnya Rasulullah ﷺ dalam memberantas syirik dalam bentuk patung dan berhala. Beliau tidak membiarkan satu pun patung berdiri di sekitar rumah Allah. Beliau tidak berkompromi dengan kemusyrikan. Kesucian Baitullah harus dijaga dari segala bentuk kemusyrikan.
*Bagian 8: Kisah Rasulullah ﷺ yang Melarang Shalat Menghadap Kuburan*
Rasulullah ﷺ juga sangat tegas melarang umatnya untuk shalat menghadap ke arah kuburan. Beliau bahkan melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Larangan ini sangat penting untuk menjaga kemurnian tauhid, karena dikhawatirkan umat akan mengagungkan kuburan dan pada akhirnya menyembah penghuninya.
Suatu ketika, Rasulullah ﷺ melihat beberapa orang yang shalat menghadap ke arah kuburan. Beliau segera melarang mereka dengan tegas.
*Rasulullah ﷺ bersabda:*
لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا
"Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah kalian shalat menghadap ke arahnya."
*(HR. Muslim no. 972)*
*Beliau juga bersabda:*
لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
"Allah melaknat orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid."
*(HR. Bukhari no. 435, Muslim no. 529)*
*Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:*
أَلَا إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
"Ingatlah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan nabi-nabi dan orang-orang saleh mereka sebagai masjid. Ingatlah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian dari hal itu."
*(HR. Muslim no. 532)*
Para sahabat sangat memahami larangan ini. Mereka tidak pernah membangun masjid di atas kuburan, dan mereka tidak pernah shalat menghadap kuburan. Mereka tahu bahwa hal itu adalah pintu menuju syirik.
Bahkan, Rasulullah ﷺ sampai melarang umatnya untuk menjadikan kuburannya sendiri sebagai masjid atau tempat ibadah.
*Rasulullah ﷺ bersabda:*
لَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا، وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ
"Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai tempat perayaan, dan bershalawatlah kepadaku, karena shalawat kalian akan sampai kepadaku di mana pun kalian berada."
*(HR. Abu Daud no. 2042, dishahihkan Al-Albani)*
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah. Sungguh, Allah sangat murka terhadap kaum yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid."
*(HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani)*
*Bagian 9: Kisah Para Sahabat yang Menghancurkan Patung dan Merobek Gambar*
Para sahabat Rasulullah ﷺ adalah generasi terbaik umat ini. Mereka sangat taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka juga sangat tegas dalam masalah gambar, patung, boneka, dan kuburan. Mereka mengikuti jejak Rasulullah ﷺ dalam memberantas kemusyrikan dengan penuh semangat dan keikhlasan.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling tegas dalam masalah ini. Beliau adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah ﷺ, suami dari Fatimah az-Zahra. Suatu hari, Rasulullah ﷺ pernah mengutusnya dengan perintah yang sangat tegas untuk menghancurkan setiap patung yang ditemui dan meratakan setiap kuburan yang ditinggikan.
*Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:*
أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ، وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ
"Agar engkau tidak membiarkan satu patung pun melainkan engkau hapus, dan tidak membiarkan satu kuburan yang ditinggikan melainkan engkau ratakan."
*(HR. Muslim no. 969)*
*Ali bin Abi Thalib* menjalankan perintah ini dengan tegas dan penuh tanggung jawab. Beliau pergi ke berbagai tempat dan menghancurkan setiap patung yang ditemuinya. Tidak ada patung yang dibiarkan berdiri. Beliau juga meratakan kuburan-kuburan yang ditinggikan menjadi rata dengan tanah. Ini menunjukkan betapa seriusnya para sahabat dalam memberantas syirik.
*Umar bin Khattab* radhiyallahu 'anhu, khalifah kedua setelah Abu Bakar, juga dikenal sangat tegas dalam masalah gambar dan patung. Beliau sangat keras dalam menegakkan syariat Islam. Beliau pernah melarang umat Islam untuk membuat gambar dan patung. Beliau mengatakan bahwa pembuatan gambar adalah perbuatan yang mendatangkan laknat Allah.
Suatu ketika, *Ummul Mukminin Hafshah binti Umar* radhiyallahu 'anhuma, putri Umar sekaligus istri Rasulullah ﷺ, memiliki sebuah kain bergambar. Suatu hari, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu melihat kain tersebut. Begitu beliau melihat gambar yang ada pada kain itu, matanya memancarkan kemarahan. Tanpa banyak bicara, beliau langsung merobek kain itu dengan tangannya sendiri.
*Hafshah* radhiyallahu 'anhuma tentu terkejut melihat ayahnya yang tegas itu merobek kain miliknya. Namun ia tidak marah. Ia tahu bahwa ayahnya sangat menjaga agama Allah. Ia pun menerima tindakan ayahnya dengan lapang dada.
Kisah ini menunjukkan betapa tegasnya para sahabat dalam masalah gambar. Mereka tidak segan-segan untuk merobek gambar yang mereka temui, baik di rumah mereka sendiri maupun di rumah orang lain.
*Bagian 10: Kisah Larangan Membangun Masjid di Atas Kuburan dan Menghadap Kuburan*
Rasulullah ﷺ juga melarang umatnya untuk membangun masjid di atas kuburan. Hal ini karena dapat mengantarkan manusia kepada pengagungan kuburan dan pada akhirnya menyembah penghuninya. Para sahabat sangat memahami larangan ini dan mereka benar-benar menjauhinya.
Suatu ketika, *Rasulullah ﷺ bersabda:*
لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
"Allah melaknat orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid."
*(HR. Bukhari no. 435, Muslim no. 529)*
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
"Ingatlah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan nabi-nabi dan orang-orang saleh mereka sebagai masjid. Ingatlah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian dari hal itu."
*(HR. Muslim no. 532)*
Para sahabat sangat memahami larangan ini. Mereka tidak pernah membangun masjid di atas kuburan. Mereka tahu bahwa hal itu adalah perbuatan yang dilaknat oleh Allah. Mereka juga tidak pernah shalat menghadap ke arah kuburan.
Bahkan, suatu ketika ada seorang sahabat yang ingin membangun masjid di dekat kuburan. Rasulullah ﷺ segera melarangnya dan memerintahkan untuk memindahkan masjid itu ke tempat yang jauh dari kuburan.
*Bagian 11: Tuntunan Rasulullah ﷺ tentang Boneka untuk Anak-Anak*
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberikan tuntunan yang penuh hikmah dalam membedakan antara kebutuhan anak-anak dan kewajiban menjaga kemurnian tauhid. Anak yang belum baligh diberi kelonggaran untuk bermain boneka sebagai sarana belajar, hiburan, dan perkembangan fitrahnya, selama tidak disertai niat pengagungan atau keyakinan tertentu terhadap benda tersebut.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Rasulullah ﷺ yang mulia, menceritakan sebuah kisah yang sangat indah tentang masa kecilnya.
Suatu hari, ketika Aisyah masih kecil dan belum baligh, ia sedang asyik bermain boneka di rumah. Ia memiliki beberapa boneka sederhana yang terbuat dari kain perca dan wol. Boneka-boneka itu tidak memiliki detail wajah yang sempurna. Mereka hanyalah mainan sederhana untuk seorang anak kecil.
Tiba-tiba, Rasulullah ﷺ masuk ke rumah. Aisyah dan teman-temannya yang sedang bermain menjadi malu dan segera bersembunyi. Mereka mungkin takut dimarahi karena bermain di hadapan Rasulullah ﷺ. Namun Rasulullah ﷺ tersenyum melihat mereka. Beliau justru menyuruh mereka untuk kembali bermain. Beliau tidak melarang mereka. Beliau membiarkan mereka terus bermain dengan boneka-boneka itu.
*Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:*
كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ، وَكَانَ لِي صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي، فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ يَنْقَمِعْنَ مِنْهُ، فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَيَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِي
"Aku biasa bermain boneka di sisi Nabi ﷺ. Aku memiliki teman-teman perempuan yang bermain bersamaku. Apabila Rasulullah ﷺ masuk, mereka bersembunyi, maka beliau tetap menyuruh mereka kembali kepadaku, lalu mereka bermain kembali bersamaku."
*(HR. Abu Daud no. 4932, dishahihkan Al-Albani)*
*Hadits mulia ini mengandung beberapa pelajaran penting:*
*Pertama:* Rasulullah ﷺ membolehkan anak-anak yang belum baligh untuk bermain boneka sebagai sarana bermain yang bermanfaat untuk perkembangan mereka.
*Kedua:* boneka yang dimainkan oleh Aisyah di zaman itu adalah boneka sederhana yang terbuat dari kain atau wol, tidak seperti boneka modern saat ini yang memiliki bentuk yang sangat sempurna dengan detail wajah, mata, hidung, mulut, rambut, dan anggota tubuh yang lengkap.
*Ketiga:* hadits ini mengajarkan bahwa bermain boneka adalah untuk anak-anak yang belum baligh, bukan untuk orang dewasa. Aisyah radhiyallahu 'anha saat itu masih kecil, belum baligh. Ketika beliau sudah dewasa dan menikah dengan Rasulullah ﷺ, beliau tidak lagi bermain boneka.
Namun yang sangat penting untuk diperhatikan adalah bahwa Rasulullah ﷺ memberikan tuntunan yang penuh hikmah. *Ketika waktu bermain telah selesai, boneka itu sebaiknya disimpan di tempat tertutup seperti kotak atau lemari. Terutama saat hendak melaksanakan shalat, boneka itu tidak boleh berada di hadapan orang yang sedang beribadah.*
Hal ini bertujuan menjaga kekhusyukan serta menghindari segala hal yang menyerupai bentuk pengagungan terhadap makhluk. Dengan adab seperti ini, permainan tetap diperbolehkan dalam batas yang benar, sementara ibadah tetap terjaga kemurniannya dan tidak terjerumus kepada perbuatan syirik.
*Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam kitabnya Adabuz Zifaf menjelaskan:*
"Boneka yang sempurna bentuknya (memiliki kepala, mata, hidung, mulut, tangan, kaki) tetap masuk dalam larangan umum. Keringanan untuk Aisyah adalah karena kebutuhan bermain di zaman itu (boneka sederhana dari kain atau wol tanpa detail wajah yang sempurna)."
*Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:*
"Boneka yang sempurna bentuknya seperti boneka modern, tidak boleh, karena termasuk dalam larangan membuat gambar makhluk bernyawa. Namun jika boneka itu tidak sempurna, misalnya kepalanya tidak ada atau bentuknya tidak jelas, maka tidak mengapa."
*Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah berkata:*
"Boneka yang sempurna bentuknya seperti boneka modern, hukumnya sama dengan patung. Keringanan untuk Aisyah adalah untuk boneka sederhana di zamannya. Sebaiknya orang tua mencari mainan alternatif yang tidak bergambar makhluk, seperti mobil-mobilan, balok, puzzle, dan sejenisnya."
*Bagian 12: Pelajaran Penting dari Semua Kisah Ini*
Setelah merenungkan semua kisah dan peristiwa di atas, kita dapat mengambil berbagai pelajaran yang sangat berharga:
*Pertama:* tempat shalat, baik itu masjid, mushola, rumah, atau lapangan terbuka, harus benar-benar bersih dari gambar dan patung makhluk bernyawa. Rasulullah ﷺ menolak shalat di tempat yang bergambar.
*Kedua:* kita tidak boleh memajang gambar makhluk bernyawa di dinding rumah atau di tempat-tempat yang terlihat. Rasulullah ﷺ merobek tirai bergambar yang dipasang oleh Aisyah.
*Ketiga:* kita tidak boleh shalat menghadap ke arah gambar. Rasulullah ﷺ memerintahkan Aisyah untuk menjauhkan kain bergambar yang berada di arah shalatnya.
*Keempat:* kita wajib menghancurkan patung-patung yang ada, terutama di sekitar tempat ibadah. Rasulullah ﷺ menghancurkan 360 patung di sekitar Ka'bah.
*Kelima:* kita dilarang keras shalat menghadap kuburan. Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian shalat menghadap ke arah kuburan."
*Keenam:* kita dilarang membangun masjid di atas kuburan. Rasulullah ﷺ melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan nabi mereka sebagai masjid.
*Ketujuh:* kita dilarang menjadikan kuburan Rasulullah ﷺ sebagai tempat ibadah atau perayaan.
*Kedelapan:* boneka untuk anak-anak diberikan keringanan dengan syarat boneka sederhana, untuk anak yang belum baligh, hanya untuk bermain (bukan dipajang), dan disimpan di tempat tertutup setelah selesai bermain.
*Kesembilan:* semua perbuatan syirik, baik besar maupun kecil, sangat dibenci dan dilarang dalam Islam.
*Bagian 13: Kesimpulan Akhir*
Kisah panjang Rasulullah ﷺ dan para sahabat menunjukkan betapa tegasnya mereka dalam menolak shalat di tempat yang bergambar, berpatung, berboneka, maupun yang menghadap ke kuburan. Mereka sangat menjaga kemurnian tauhid dan menutup semua jalan menuju syirik.
Kisah Aisyah dengan tirai bergambar, kisah para sahabat yang membersihkan rumah dari patung, kisah Rasulullah ﷺ yang menghancurkan 360 patung di sekitar Ka'bah, kisah tentang shalat menghadap kuburan, dan kisah tentang boneka untuk anak-anak, semuanya memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita.
*Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:*
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah."
*(QS. Al-Ahzab: 21)*
Maka sudah seharusnya kita sebagai umat Islam yang mengikuti jejak Rasulullah ﷺ dan para sahabat untuk bersikap tegas dalam masalah ini. Bersihkan rumah, masjid, mushola, dan lingkungan kita dari segala bentuk gambar dan patung makhluk bernyawa. Jangan shalat menghadap kuburan. Jangan membangun masjid di atas kuburan. Kembalikan kemurnian tauhid dalam kehidupan kita.
*Wallahu a'lam bish-shawab.*



Posting Komentar