Lakon Senyap dari Timur: Kode Alam Kholisatul Hasanah
Lakon Senyap dari Timur: Kode Alam Kholisatul Hasanah
Oleh: Abdullah Amas
Di sebuah ruangan yang riuh oleh debat kusir dan asap rokok aktivis, sorot mata itu tetap ajek. Tajam, namun ada keteduhan yang ganjil di sana—seperti air telaga yang tenang tapi menyimpan kedalaman yang sulit ditebak. Bagi mereka yang terbiasa membaca tanda-tanda zaman, tatapan Kholisatul Hasanah bukan sekadar respons visual. Ia adalah sebuah "kode sandi alam".
Dalam pelbagai literatur klasik tentang kepemimpinan, perpaduan antara tatapan yang menghujam sekaligus mengayomi seringkali disebut sebagai itibar—ciri mereka yang digariskan untuk memanggul beban publik. Dan hari ini, beban itu bernama KOPRI PKC PMII Jawa Timur.
Baja yang Ditempa Prahara
Lisa—begitu ia karib disapa—bukanlah pemimpin yang lahir dari karpet merah. Kursi Ketua KOPRI Jawa Timur yang didudukinya adalah hasil dari sebuah proses metalurgi politik yang keras. Ia melewati kontestasi dengan dinamika yang bukan main-main; sebuah palagan di mana mentalitas "petarung wanita" benar-benar diuji hingga ke titik nadir.
Bagi Lisa, dinamika dahsyat di internal organisasi bukanlah penghalang, melainkan kawah candradimuka. Ia adalah representasi otentik dari genetik Nahdliyin: tawadhu dalam sikap, namun trengginas dalam prinsip. Di Jawa Timur, medan pergerakan perempuan seringkali menjadi rimba ideologi yang rumit, namun Lisa muncul dengan frekuensi yang presisi. Ia seolah mampu menangkap denyut nadi zaman yang menginginkan perubahan tanpa harus tercerabut dari akar tradisi.
"Dia tidak hanya memimpin organisasi; dia sedang merawat energi keperempuanan yang selama ini sering terserak di Jawa Timur," ujar seorang kolega di lingkaran pergerakan.
Sinkronisasi Denyut Zaman
Apa yang membuat kiprah Kholisatul Hasanah layak masuk dalam radar "pemimpin masa depan"? Jawabannya ada pada sinkronisasi. Ada pemimpin yang lari terlalu cepat hingga meninggalkan barisannya, ada pula yang terlalu lambat hingga digilas waktu. Lisa berdiri di tengah: mengayomi yang tertinggal, sembari tetap melajukan gerbong menuju modernitas.
Di bawah kepemimpinannya, dunia keperempuanan Jawa Timur tidak lagi sekadar menjadi pelengkap penderita dalam narasi besar pergerakan. Ia membawa misi untuk menjadikan KOPRI sebagai subjek—pemain utama yang mampu mewarnai kebijakan publik dan diskursus intelektual di Jawa Timur.
Energinya menyatu dengan keresahan di akar rumput. Ia bicara soal advokasi, ia bicara soal pemberdayaan, tapi ia juga bicara tentang bagaimana menjadi perempuan yang tetap memiliki marwah di tengah gempuran zaman yang semakin artifisial.
Menuju Puncak
Melihat langkahnya hari ini, sulit untuk tidak membayangkan Lisa di panggung yang lebih luas. Jika politik adalah soal momentum dan karakter, maka Lisa sedang menabung keduanya dengan sangat apik. Ia adalah kode alam yang sedang bekerja secara perlahan namun pasti.
Jawa Timur mungkin hanya awal. Sebab, bagi sosok dengan sorot mata setajam itu, puncak gunung hanyalah masalah waktu untuk didaki. Kholisatul Hasanah adalah bukti bahwa di tangan yang tepat, kelembutan bisa menjadi kekuatan yang paling mematikan bagi ketidakadilan.


Posting Komentar