Jejak Masa Kecil: Tridianto dan Reuni SDN Gentasari 1 Angkatan 1991
Jejak Masa Kecil: Tridianto dan Reuni SDN Gentasari 1 Angkatan 1991
Menyatukan kawan lama dari masa sekolah dasar adalah tantangan tersendiri. Namun, bagi pengusaha Tridianto, kembali ke lingkaran alumni SDN Gentasari 1 Angkatan 1991 bukan sekadar seremoni, melainkan perjalanan pulang ke titik nol.
Tridianto: Pulang ke Titik Nol
REUNI SDN Gentasari 1 Angkatan 1991 bukan sekadar hura-hura kaum mapan. Bagi Tridianto, ini adalah perjalanan menyusuri lorong waktu, kembali ke masa ketika hidup hanya selembar daun.
DI sebuah ruang pertemuan yang riuh oleh tawa, sosok itu berdiri dengan mata yang mendadak berkaca. Tridianto, pengusaha yang namanya sempat berkibar kencang saat "gempa" politik mengguncang Partai Demokrat belasan tahun silam, tampak kehilangan kata-kata. Ia tidak sedang berhadapan dengan lawan politik atau mitra bisnis, melainkan dengan wajah-wajah dari masa lalu: alumni SDN Gentasari 1 Angkatan 1991.
Menyatukan kawan masa kecil memang perkara pelik. Jarak nasib dan jejak hidup sering kali telah membentang terlalu jauh, membuat obrolan terasa kaku. Namun, bagi alumni SD, ada semacam "mantra" kepolosan yang tak bisa dihapus oleh jabatan maupun angka di rekening bank. Di sini, mereka semua kembali menjadi bocah yang sama-sama mencari jati diri.
Fragmen Masa Sukit
Bagi seorang Tridianto, reuni ini adalah hantaman memori yang keras. Jauh sebelum ia dikenal sebagai figur publik, hidupnya adalah sebuah perjuangan yang menyesakkan dada. SDN Gentasari 1 adalah saksi bisu saat ia harus bergelut dengan kemiskinan yang nyata.
"Terlalu dalam ingatan itu terbentuk," bisik seorang kawan lama yang melihatnya tertegun.
Ada masa di mana ia harus menjajakan daun hanya demi sesuap nasi. Sebuah potret getir yang kini menjadi bumbu haru dalam pertemuan tersebut. Kesusahan yang dulu mencekik, nyatanya adalah palu godam yang menempa mentalitasnya hingga menjadi baja.
Monumen Karakter
Bagi Tridianto, kesuksesan hari ini hanyalah hasil akhir dari proses panjang yang dimulai dari pelataran sekolah dasar yang sederhana itu. Ia nampak penuh haru, menyadari bahwa identitasnya tidak lahir di panggung politik Jakarta, melainkan di tanah Gentasari—tempat di mana kekurangan justru menjadi guru yang paling setia.
Reuni ini bukan ajang pamer keberhasilan, melainkan pengakuan jujur bahwa seorang Tridianto pernah berada di titik terendah, dan dari sanalah ia belajar untuk tidak pernah menyerah.


Posting Komentar