Gus Teguh : Menjaga Niat Dalam Merayakan Idul Fitri Dengan Terapi Al-Kautsar
Gus Teguh: Merayakan Hari Kemenangan, Bukan Hari Ajang Pamer Dan Abai Peringatan Surat At-Takasur
Di balik keriuhan takbir dan gemerlap baju baru, terselip jebakan halus bernama riya’. Gus Teguh mengingatkan bahwa Idul Fitri bukan panggung validasi, melainkan ruang sunyi untuk menata kembali hati yang sempat tersesat dalam kompetisi duniawi.
SURABAYA – Ruang tamu itu tampak bersahaja. Tidak ada kristal bergantungan atau pamer kemewahan yang lazim dijumpai di rumah-rumah pesohor saat Lebaran tiba. Di sana, Gus Teguh duduk tenang, menyesap teh hangat sembari membedah fenomena tahunan yang ia sebut sebagai "Perlombaan Sunyi".
Bagi banyak orang, kembali ke fitrah sering kali disalahartikan sebagai kembali ke panggung. Media sosial penuh sesak dengan kurasi kebahagiaan: hidangan paling mewah, seragam keluarga paling mahal, hingga pencapaian setahun terakhir yang dipampang demi decak kagum.
"Tanpa sadar, kita masuk dalam labirin perbandingan," ujar Gus Teguh dengan nada rendah namun tajam. "Kita tidak lagi merayakan kemenangan melawan nafsu, tapi merayakan kemenangan atas orang lain. Kita ingin terlihat lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih 'berhasil' di mata manusia."
Jebakan At-Takasur
Gus Teguh kemudian membuka lembaran Al-Qur'an, merujuk pada Surah At-Takasur. Menurutnya, ayat tersebut adalah diagnosis paling akurat bagi manusia modern. Penyakitnya bukan terletak pada nikmat yang dimiliki, melainkan pada syahwat untuk bermegah-megahan (al-hakumut takasur).
"Yang melalaikan itu bukan hartanya, bukan kuenya, bukan bajunya. Tapi rasa ingin 'lebih' di mata manusia," katanya.
Dalam perspektif Quranic Therapy yang ia dalami, fenomena ini adalah bentuk pengabaian terhadap pusat gravitasi batin. Ketika fokus seseorang bergeser dari rida Tuhan ke validasi manusia, saat itulah ia kehilangan kemerdekaannya. Ia menjadi budak atas penilaian orang lain.
Meredam Riya’ di Hari Fitri
Lantas, bagaimana meredam riya’ di tengah gempuran budaya pamer? Gus Teguh menawarkan sebuah jalan pulang yang ia sebut sebagai "Menemukan Cukup".
Meluruskan Niat (Tajdidun Niyyah): Sebelum mengunggah foto atau bercerita tentang pencapaian di meja makan keluarga, tanyakan pada diri sendiri: Siapa yang ingin aku buat kagum?
Kejujuran Menata Hati: Mengakui bahwa ada rasa haus akan pujian adalah langkah pertama penyembuhan. Riya’ adalah penyakit yang hanya bisa sembuh dengan kejujuran batin.
Kemenangan Sunyi: Gus Teguh menekankan bahwa kemenangan sejati terjadi saat hati tetap tenang, baik saat dipuji maupun saat tak ada yang peduli.
"Kemenangan itu bukan tentang siapa yang paling terlihat berhasil, tapi siapa yang paling jujur menata hatinya," tambahnya sembari tersenyum.
Pulang ke Rumah Batin
Lebaran, di mata Gus Teguh, seharusnya menjadi momen "Gencatan Senjata" terhadap ego. Sebuah titik di mana manusia berhenti membuktikan diri dan mulai menerima diri.
Baginya, esensi Idul Fitri adalah menjadi manusia yang self-sufficient secara spiritual. Hati yang fitrah adalah hati yang tidak lagi menggantungkan harga dirinya pada label harga atau jumlah likes.
Saat azan berkumandang, Gus Teguh menutup perbincangan dengan sebuah pesan singkat yang menohok: "Jika setelah sebulan berpuasa kita masih merasa perlu pengakuan manusia untuk merasa berharga, mungkin kita perlu bertanya: siapa sebenarnya yang kita sembah selama Ramadan kemarin?"
Di luar, kembang api mulai menghiasi langit Surabaya. Namun di dalam ruangan itu, ada keheningan yang jauh lebih benderang—sebuah pengingat bahwa di hadapan Yang Maha Besar, segala pamer manusia hanyalah debu yang tertiup angin.


Posting Komentar