Blunder Mulut Ketum Golkar Bahlil Soal Lailatul Qadar, Jaringan Alumni Muda Lintas Organisasi Mahasiswa Islam (JAMLISMA) Gaungkan "Golkar No, Bahlil No"
Ketua Jaringan Alumni Muda Lintas Organisasi Mahasiswa Islam (JAMLISMA) Abdullah Amas menyerukan Slogan "Golkar No, Bahlil No" akibat Statment Blunder Bahlil Ketua Umum Golkar soal Lailatul Qadar.
"JAMLISMA mendorong Bahlil untuk minta maaf atas candaannya yang membawa-bawa Lailatul Qadar"ujar Amas
Berikut Ulasan Selengkapnya ;
Prahara "Malam Seribu Bulan" di Beringin: JAMLISMA Serukan Perlawanan Terhadap Bahlil
JAKARTA – Kursi panas Ketua Umum Partai Golkar yang diduduki Bahlil Lahadalia kembali digoyang prahara. Kali ini, badai tidak datang dari internal faksi partai, melainkan dari barisan pemuda religius yang merasa terusik oleh "guyonan" sang menteri. Jaringan Alumni Muda Lintas Organisasi Mahasiswa Islam (JAMLISMA) secara resmi menggaungkan jargon perlawanan: "Golkar No, Bahlil No."
Ketegangan ini bermula dari pernyataan Bahlil Lahadalia yang dianggap meremehkan sakralitas Lailatul Qadar—malam yang dalam kepercayaan umat Islam lebih mulia dari seribu bulan—sebagai materi candaan di ruang publik. Bagi JAMLISMA, langkah Bahlil bukan sekadar selip lidah, melainkan sebuah blunder fatal yang menunjukkan defisit etika kepemimpinan.
Gema Perlawanan dari Aktivis Muda
Ketua JAMLISMA, Abdullah Amas, tidak menyembunyikan kegeramannya. Menurutnya, pernyataan Bahlil telah melukai sentimen emosional aktivis mahasiswa Islam yang selama ini menjaga marwah nilai-nilai religiusitas dalam berpolitik.
"Kami mendorong Bahlil untuk segera meminta maaf secara terbuka atas candaannya yang membawa-bawa Lailatul Qadar. Urusan sakralitas agama bukan komoditas politik, apalagi bahan gurauan," ujar Amas kepada awak media.
Seruan "Golkar No, Bahlil No" yang dilemparkan Amas diprediksi bakal menjadi bola salju. Gerakan ini bukan sekadar kritik verbal, melainkan upaya delegitimasi terhadap kepemimpinan Bahlil di partai berlambang pohon beringin tersebut. Amas menilai, jika pemimpin partai besar tidak mampu menyaring ucapannya, maka partai tersebut terancam kehilangan dukungan dari basis massa pemilih muda Islam.
Beringin yang Kian Rapuh?
Di bawah kendali Bahlil, Golkar memang tengah berusaha melakukan konsolidasi cepat pasca-transisi kepemimpinan yang penuh drama. Namun, insiden "Lailatul Qadar" ini justru menambah beban bagasi politik sang Ketua Umum.
Pengamat politik menilai bahwa narasi yang dibangun JAMLISMA sangat berbahaya bagi citra Golkar menuju pemilu mendatang. Pasalnya, organisasi ini berisikan alumni-alumni organisasi mahasiswa Islam yang memiliki jaringan akar rumput yang kuat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak DPP Golkar maupun lingkaran dekat Bahlil belum memberikan respons resmi terkait tuntutan maaf tersebut. Namun satu yang pasti, di tengah upaya Bahlil memperkuat cengkeramannya di Beringin, Abdullah Amas dan JAMLISMA telah meletakkan kerikil tajam di sepatunya.


Posting Komentar