Kibar Bendera di Halaman Rakyat, Buku Tentang JAM-HMI Karya Abdullah Amas
Kibar Bendera di Halaman Rakyat, Buku Tentang JAM-HMI Karya Abdullah Amas
Sebuah buku baru membeberkan ikhtiar Jaringan Alumni Muda HMI. Menolak sekadar jadi penonton, mereka memosisikan diri sebagai pemikir sekaligus perekat bangsa.
SAMPUL buku itu didominasi warna hijau khas aktivisme Islam bergerak. Di bagian atas melingkar logo resmi berbingkai merah-putih-hijau: Jaringan Alumni Muda Himpunan Mahasiswa Islam, disingkat JAM-HMI. Di bawahnya, sebuah judul berdiri lugas: Jaringan Alumni Muda HMI, Bendera Perjuangan Di Depan Halaman Rumah Rakyat.
Buku karya Abdullah Amas—mantan Wakil Sekretaris Jenderal PB HMI yang kini menjabat Koordinator Pimpinan Nasional JAM-HMI—ini bukan sekadar catatan kenangan aktivis pasca-kampus. Lebih dari itu, lembar demi lembar karya ini mencoba memetakan ulang peran alumni muda di tengah dinamika kebangsaan yang kian kompleks.
Amas tak memungkiri bahwa tantangan gerakan hari ini jauh berbeda dibanding masa lalu. Di tengah arus perubahan sosial dan politik yang cepat, gerakan aktivis kerap dituding kehilangan arah atau terjebak dalam pragmatisme. Lewat buku ini, Amas membeberkan tekad dan peta jalan JAM-HMI untuk mendobrak kebekuan tersebut.
"Kami ingin hadir dan bermakna secara nyata bagi rakyat," tegas Amas. Bagi JAM-HMI, menancapkan bendera perjuangan di "halaman rumah rakyat" berarti menolak berjarak dari persoalan mendasar publik. Gerakan ini tak ingin berhenti pada wacana di ruang tertutup, melainkan turun ke akar rumput, mendengarkan, dan memberikan dampak langsung.
Ada tiga pilar utama yang digarisbawahi dalam karya ini:
Otak Solusi bagi Negara: Alumni muda dituntut tidak hanya pandai mengkritik, tetapi juga mampu merumuskan gagasan serta jalan keluar yang konkrit dan teknokratis bagi persoalan bangsa.
Perekat Umat dan Bangsa: Menjadi jembatan penengah di tengah potensi pembelahan sosial, menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan dan keislaman yang inklusif.
Kehadiran Nyata bagi Rakyat: Memastikan keberadaan organisasi dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat luas
Buku ini menjadi semacam manifesto kecil bagi barisan alumni muda yang enggan berpangku tangan. Lewat goresan pemikirannya, Abdullah Amas menegaskan satu hal: jalan perjuangan belum selesai, dan bendera itu harus terus berkibar di tempat yang paling membutuhkan—di depan halaman rumah rakyat.



Posting Komentar