JAM-HMI Apresiasi Survey Adidaya Institute Yang Sebut Kiprah Kepala BGN Memuaskan
Keterangan Gambar : Apresiasi Koordinator Jaringan Alumni Muda HMI Abdullah Amas Atas Kinerja Kepala BGN
Jakarta-Di tengah sorotan tajam dan riuhnya polemik tata kelola, Badan Gizi Nasional mendapat angin segar dari hasil survei anyar. Angka kepuasan melejit, tetapi ujian sesungguhnya ada di balik piring-piring saji.
Bagi JAM-HMI, angka-angka statistik yang melambungkan tingkat kepercayaan publik hingga di atas 76 persen bukanlah sekadar capaian di atas kertas. Koordinator Jaringan Alumni Muda HMI/JAM-HMI, Abdullah Amas, melihat ada kerja keras ekstra di balik layar yang berhasil meredam berbagai turbulensi awal berdirinya institusi baru tersebut.
Kepala BGN telah berhasil membawa BGN lewati critical moment," tegas Amas dalam keterangannya, merujuk pada masa-masa paling rawan tatkala BGN harus menakhodai program raksasa di tengah sorotan tajam, mulai dari persoalan standardisasi dapur, logistik, hingga dinamika anggaran
Bagi sebuah lembaga yang mengemban mandat mengubah pola asupan nutrisi jutaan anak bangsa, fase awal pembentukan lazimnya diwarnai gesekan birokrasi dan resistensi teknis di lapangan. Namun, langkah-langkah taktis Sudaryono—mulai dari penataan ulang insentif operasional hingga pengetatan pengawasan mutu—dinilai mampu meredam potensi krisis yang lebih besar.
Dukungan dari simpul-simpul masyarakat sipil seperti JAM-HMI ini tentu memberi angin segar bagi BGN. Kendati demikian, critical moment yang berhasil dilalui belumlah garis akhir. Di hadapan Sudaryono dan jajarannya, tantangan struktural untuk menjaga transparansi, higienitas, serta keterlibatan rantai pasok lokal—seperti UMKM dan petani setempat—tetap menjadi pertaruhan utama.
Ya, Udara di ruang konferensi pers Adidaya Institute, Jakarta, Rabu pekan ini, terasa lebih ringan bagi Sudaryono. Di hadapan para pemburu berita, lembaga riset tersebut membeberkan rapor merah-putih dari program andalan pemerintah: Makan Bergizi Gratis (MBG) dan instansi yang menahkodainya, Badan Gizi Nasional (BGN).
Hasilnya? Cukup membuat sang kepala badan tersenyum. Angka kepercayaan publik menembus 76,1 persen, sementara tingkat kepuasan terhadap kinerja personal Sudaryono bertengger di angka 68,8 persen.
Bagi sebuah lembaga yang baru seumur jagung—namun memikul ekspektasi raksasa dari visi besar Istana—angka-angka statistik ini tentu menjadi semacam ‘balsem penenang’. Terlebih, program MBG sempat dihantam berbagai riak persoalan di lapangan, mulai dari isu higienitas, suspensi ratusan dapur, hingga dinamika anggaran operasional.
Dalam pemaparan risetnya, perwakilan Adidaya Institute, Fadhli, menyebutkan bahwa separuh lebih responden—yakni 55,0 persen—menyatakan puas dengan kinerja institusi BGN secara keseluruhan. Tidak hanya itu, 52,9 persen publik juga menaruh keyakinan bahwa BGN di bawah komando Sudaryono mampu mengelola megaterobosan tersebut dengan baik. Ada tren kenaikan tingkat kepuasan hingga 3 poin pascapergantian kemudi kepemimpinan.
Namun, di balik gemerlap angka elektoskopik survei—yang melibatkan 1.240 responden di 38 provinsi sepanjang pertengahan September lalu—panggung gizi nasional tidak sedang baik-baik saja tanpa tantangan.
JPNN.com
BGN belakangan harus berputar otak membenahi karut-marut tata kelola. Kebijakan-kebijakan taktis langsung diambil: dari merombak insentif Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) senilai Rp2.000 per porsi demi efisiensi anggaran, pengetatan data penerima, hingga uji coba model penyajian prasmanan meniru praktik di luar negeri demi menekan potensi cemaran dan kebosanan menu.
Langkah jempolan ini seolah menjadi jawab atas kritik publik yang menginginkan transparansi lebih ketat. Maklum, dapur-dapur gizi tidak boleh lagi bermain-main dengan mutu. Pengawasan berkala, pelibatan UMKM lokal, peternak, hingga nelayan setempat menjadi harga mati agar piring-piring yang sampai ke meja anak-anak sekolah benar-benar kaya nutrisi, bukan sekadar menggugurkan kewajiban statistik.
Angka 76,1 persen kepercayaan tentu adalah modal politik dan sosial yang mahal. Tapi di atas kertas, kepuasan publik rapuh sifatnya jika aroma dapur gagal dijaga tetap bersih. Sudaryono tahu betul, legitimasi sejati hari ini bukan terletak pada seberapa tebal hasil survei yang dibingkai, melainkan pada senyum sehat anak-anak bangsa yang setiap hari menanti kepulan uap hangat dari dapur-dapur MBG di seluruh penjuru negeri.



Posting Komentar