Bravo Ketum Syarief! BIMA Pusat Alirkan Aura Kemenangan Kaum Muda Menuju Indonesia Emas Di Acara Diksusi Publik
Bravo Ketum Syarief! BIMA Pusat Alirkan Aura Kemenangan Kaum Muda Menuju Indonesia Emas Di Acara Diksusi Publik
Jakarta-Menatap 2045, Lepas dari Jerat Birokrasi
Di ruang diskusi yang hangat di Jakarta, Barisan Insan Muda Bima menyuarakan keresahan sekaligus asa: mengubah arah kemudi pemuda dari pencari kerja menjadi pencipta kerja.
Langit Jakarta di pengujung pekan menyisakan gerah, namun di dalam sebuah ruangan, diskursus tentang masa depan justru bergolak dengan tensi optimisme. Jumat siang itu (30/10), Dewan Pimpinan Pusat Barisan Insan Muda (BIMA) mengumpulkan para pemikir dan aktivis muda dalam sebuah tajuk yang sarat beban sejarah: Peran Pemuda Menuju Indonesia Emas.
Bukan sekadar retorika menenun angan menuju satu abad Republik pada 2045, forum ini membongkar satu mitos lama yang telanjur berurat akar di kepala generasi muda: obsesi menjadi abdi negara.
Di hadapan para peserta, Ketua Umum DPP BIMA, H. Syarif Hidayatullah, melontarkan kritik tajam yang menggelitik sekaligus menohok. Bagi Syarif, mentalitas menggantungkan hidup sepenuhnya pada APBN lewat jalur birokrasi sudah saatnya dikubur dalam-dalam.
"Jangan mengandalkan pemerintah saja. Menjadi pegawai negeri semua menjadi beban," ucap Syarif dengan nada tegas.
Bukan berarti ia meremehkan roda birokrasi. Namun, di tengah gelombang zaman yang bergerak kencang, menyandarkan nasib pada formasi empuk aparatur sipil negara (ASN) dinilai bukan lagi jalan keluar yang visioner. Syarif mendorong anak muda untuk berani banting setir: merintis jalan sendiri lewat jalur usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta mengeksploitasi tak terbatas ruang digital—dari kreator konten hingga pemanfaatan platform berbagi video.
Angka Pertumbuhan dan Ancaman Nyata
Bukan tanpa alasan BIMA menyuarakan kegelisahan ini. Angka-angka makroekonomi berbicara. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, roda ekonomi nasional berputar di kisaran 5,43 hingga 5,45 persen. Sebuah capaian yang patut disyukuri, tetapi belum cukup untuk melompat jauh.
Syarif mengingatkan, untuk benar-benar menggapai gerbang Indonesia Emas, negeri ini membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang melesat di atas 7 persen. Angka itu mustahil dicapai jika mayoritas tangan muda hanya menengadah menunggu lowongan formasi, alih-alih meracik inovasi dan membuka lapangan pekerjaan baru.
Kendati demikian, jalan menuju cita-cita besar itu diadang duri tajam. Syarif tidak menutup mata terhadap momok sosial yang menggerogoti fondasi generasi muda: mulai dari lilitan judi online, bayang-bayang pengangguran struktural, hingga jerat hitam narkotika. Dalam pandangannya, ketiganya adalah musuh dalam selimut yang bisa meruntuhkan bonus demografi sebelum sempat dinikmati.
Di titik inilah ia melayangkan apresiasi khusus kepada institusi kepolisian, utamanya langkah tegas Kapolri dalam memutus rantai peredaran narkoba yang dinilai krusial untuk menyelamatkan masa depan bangsa.
Sinergi Tanpa Sekat
Diskusi sore itu pada akhirnya bukan sekadar ajang lempar wacana. Ia menjelma menjadi sebuah manifesto kultural bagi kelas menengah baru dan para aktivis muda. BIMA menitipkan pesan agar negara, dalam hal ini pemerintah, kian jeli melihat potensi kaum muda bukan sebagai beban demografi, melainkan sebagai aset strategis penggerak kebudayaan dan ekonomi.
Pemuda, kata Syarif, dituntut untuk mawas diri, keluar dari zona nyaman, dan berani merambah ladang-ladang ekonomi baru. Pelatihan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) hingga penguasaan teknologi mutakhir harus mulai dilirik sebagai modal tanding global.
Menjelang senja, forum itu meninggalkan satu pertanyaan reflektif: akankah generasi muda hari ini memilih menjadi penonton di atas negeri sendiri, atau justru menjadi arsitek yang merajut kemakmuran hingga gemah ripah loh jinawi benar-benar mewujud nyata? Waktu—dan keberanian mengambil risiko—yang akan menjawabnya.
Keterangan Gambar : Ketum BIMA Syarief Hidayatullah
Sementara itu Wakil Ketua Jaringan Mahasiswa BIMA Nurcahayani menyebut JM-BIMA bersiap jadi motor utama kebangkitan Pemuda sesuai arahan Ketum BIMA Syarief.
"Kita akan bergerak mulai pusat sampai daerah mengingatkan pemuda selekas-lekasnya berjuang lolos dari tantangan mendatang"ujar Loyalis Syarief ini







Posting Komentar