Prabowo Menahan Pukulan Global
Oleh : Abdullah Amas
Memasuki Ancaman Perang Dunia III kita tiba di titik momentum bersama Pemimpin Tepat, Prabowo Subianto menemukan panggungnya sebagai the man of the moment.
Ramalan yang Tak Lagi Lucu
Ada masa ketika pidato-pidato Prabowo tentang ancaman eksternal dan kebocoran kekayaan negara dianggap sebagai riasan politik belaka—bahkan kerap dicibir sebagai bumbu retorika yang bombastis. Namun, sejarah punya cara sendiri untuk memvalidasi kebenaran.
Tolok ukur pertama yang membedakan Prabowo dari para pesaingnya adalah keberanian—atau barangkali intuisi geopolitiknya—untuk secara terbuka membahas kemungkinan terjadinya perang besar.
Ketika politisi lain masih sibuk memoles citra digital dan memperdebatkan angka-angka pertumbuhan ekonomi yang normatif, Prabowo sudah melihat mendung gelap di cakrawala global.
Ia memahami bahwa tatanan dunia sedang bergeser secara tektonik. Gesekan kekuatan besar ( great powers rivalry ) di Laut Cina Selatan, konflik Timur Tengah yang tak kunjung padam, hingga perang di Eropa Timur bukan lagi sekadar berita internasional di halaman belakang surat kabar. Itu adalah ancaman eksistensial yang sewaktu-waktu bisa mengisolasi Indonesia dari rantai pasok dunia.
Logistik Perang: Pangan dan Energi
Menyadari potensi "kiamat global" tersebut
bagaimana sebuah negara bertahan hidup jika isolasi total benar-benar terjadi?
Di sini, fokus Prabowo mengkristal pada dua sektor fundamental: swasembada pangan dan kemandirian energi. Bagi Prabowo, ketahanan pangan dan energi bukan lagi sekadar program kerja kementerian, melainkan instrumen pertahanan negara paling utama.
Antisipasi Krisis
Jika perang besar meletus, jalur perdagangan laut akan lumpuh. Negara yang bergantung pada impor pangan dan BBM akan tumbang dalam hitungan minggu tanpa perlu ditembak satu peluru pun.
Benteng
Dan Terbukti Pemerintah punya Benteng Pertahanan, diantaranya Fokus pada food estate, modernisasi pertanian, dan hilirisasi energi nasional adalah langkah taktis untuk memastikan bahwa perut rakyat tetap terisi dan mesin domestik tetap berputar saat dunia di luar sana sedang saling menghancurkan


Posting Komentar