Ketua Majelis Tinggi Gernas UMKM Bangkit: Visi Pangan Prabowo dan Langkah Mentan Amran Terbukti Jadikan Desa Benteng Ekonomi Nasional
Ketua Majelis Tinggi Gernas UMKM Bangkit: Visi Pangan Prabowo dan Langkah Mentan Amran Terbukti Jadikan Desa Benteng Ekonomi Nasional
JAKARTA — Ketua Majelis Tinggi Gerakan Nasional (Gernas) UMKM Bangkit, Gus Teguh Anantawikrama, memberikan apresiasi tinggi dan dukungan penuh terhadap arah kebijakan ekonomi berbasis pangan yang dijalankan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, di bawah garis arahan Presiden Prabowo Subianto.
Merespons pernyataan Mentan Amran terkait daya tahan sektor pertanian desa terhadap fluktuasi nilai tukar dolar, Gus Teguh menilai bahwa ketangguhan ekonomi Indonesia saat ini tidak lepas dari sinergi visi besar kepemimpinan nasional dan eksekusi taktis di lapangan.
Desa Sebagai Motor Utama, Bukan Penonton
Menurut Gus Teguh, pernyataan Mentan bahwa "Desa tidak bergantung pada dolar" adalah sebuah penegasan ideologis yang sangat kuat mengenai kedaulatan ekonomi. Sektor pertanian dan UMKM di perdesaan terbukti menjadi bantalan (缓冲) yang menjaga Indonesia dari hantaman badai ketidakpastian global.
"Apa yang disampaikan oleh Mentan Amran adalah realitas yang membanggakan. Ketika dunia global diguncang oleh penguatan dolar, kekuatan ekonomi riil kita yang berbasis di desa—yakni para petani, peternak, dan pelaku UMKM pangan—justru menjadi penyelamat nasional. Ini adalah bukti bahwa ekonomi kerakyatan adalah fondasi sejati bangsa ini," ujar Gus Teguh di Jakarta (20/5/2026).
Gus Teguh menggarisbawahi data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipaparkan Mentan, di mana nilai ekspor pertanian melonjak hingga Rp166 triliun sementara impor berhasil ditekan sebesar Rp41 triliun. Angka ini, menurutnya, mencerminkan keberhasilan strategi swasembada yang selama ini ditekankan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Keberlanjutan Visi Prabowo dan Kecerdasan Eksekusi Mentan
Gernas UMKM Bangkit melihat bahwa lompatan besar di sektor agraris ini—termasuk surplus cadangan beras pemerintah yang menembus 5 juta ton dan swasembada 8 komoditas strategis—adalah buah dari komitmen politik (political will) Presiden Prabowo yang diterjemahkan dengan sangat baik oleh Kementerian Pertanian.
Perbandingan kontras dengan krisis 1997-1998 menunjukkan bahwa Indonesia telah naik kelas secara fundamental. Kunci perbedaan tersebut terletak pada integrasi antara hulu (produksi pangan) dan hilir (pengolahan dan UMKM).
"Presiden Prabowo sejak awal konsisten memperjuangkan kemandirian pangan dan energi. Langkah Mentan Amran yang menggenjot produksi domestik, memberikan kepastian subsidi pupuk, hingga menyetop impor beras medium adalah langkah berani yang melidungi jutaan petani dan pelaku usaha turunan di desa," tambah Gus Teguh.
Mendorong Hilirisasi: Peluang Emas UMKM Desa
Lebih lanjut, Gus Teguh Anantawikrama menyoroti fokus pemerintah pada hilirisasi komoditas perkebunan dan pangan seperti kelapa, sawit, kopi, dan kakao. Hilirisasi inilah yang menjadi jembatan emas bagi sektor UMKM untuk naik kelas.
Ketika komoditas mentah diolah menjadi produk turunan bernilai tinggi di dalam negeri—seperti mengubah kelapa menjadi virgin coconut oil (VCO) atau produk olahan lainnya—maka nilai tambahnya akan langsung dinikmati oleh masyarakat desa, bukan oleh korporasi global.
"Hilirisasi ini adalah wilayahnya UMKM dan koperasi di daerah. Kami di Gernas UMKM Bangkit siap berkolaborasi penuh untuk mengawal kebijakan ini. Penguatan dolar jangan lagi dilihat sebagai ancaman, melainkan peluang emas untuk membanjiri pasar internasional dengan produk-produk olahan hasil bumi Indonesia."
Komitmen Gernas UMKM Bangkit
Menutup pernyatannya, Gus Teguh menegaskan bahwa Gernas UMKM Bangkit akan terus berdiri mengawal dan mendukung penuh akselerasi program kerja Menteri Pertanian dan visi besar Presiden Prabowo Subianto.
"Kami optimistis, dengan menjadikan desa sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri pangan dan kaya inovasi hilirisasi, Indonesia tidak hanya akan selamat dari krisis global, tetapi melesat menjadi kekuatan ekonomi baru yang berdaulat secara utuh," pungkas Gus Teguh.




Posting Komentar