Kasus Bunuh Diri, Empati Di Medsos Dan Solusi Konfrehensif
Oleh : Teguh Anantawikrama, Waketum KADIN
Berikut kutipan status FB seseorang yang saya baca :
Barusan dapat kabar kalau istri teman baik saya dulu, seminggu kemarin bunuh diri menabrakkan diri ke kereta api. Iya, bunuh diri.
Padahal istrinya itu taat ibadahnya, keluarganya juga taat. Bahkan teman saya itu mualaf karenanya. Baru tahu anaknya sudah tiga. Masih kecil-kecil. Katanya yang terakhir balita.
Sas-sus nya, selain faktor ekonomi (usaha kuliner dan tour travelnya di Jogja bangkrut gara-gara covid kemarin), teman saya mau poligami.
Whatttt!!! Asli kaget waktu denger penyebab istrinya bunuh diri. Bukan karena poligaminya. Tapi kok bisa dalam kondisinya sekarang dia mau poligami?! Ampunnnn ampun.
Ya Allahhhhh ampuni kami. Ringankan beban kami. Berkahi hidup kami. Selamatkan hidup kami.
Makanya selalu mengingatkan diri sendiri, jangan remehkan perasaan orang lain dengan berlindung dibalik kata "baper". Medsos buat banyak orang jadi gak bisa mendengar tapi begitu mudah menghakimi orang lain, kehilangan rasa simpati dan empati.
- demikian kutipan status FB seseorang
Solusi Konfrehensif
Perlu solusi konfrehensif tidak pada penekanan orang beragama mendalam tak akan bunuh diri, itu sama saja anda tak akan percaya orang yang biasanya taat tiba-tiba jadi kriminal. Tepikan dulu bab latar belakang orang toh latar belakang orang bunuh diri amat beragam pula, faktor simplenya tak percaya pada Takdir Allah dan diledakkan kesedihan mendalam oleh bisikan syetan.
"Konseling" bunuh diri tentu tak ada yang praktis bisa menyembuhkan putus asa Putus asa merupakan hal yang membuat seolah pintu tertutup
Kita harus bisa memotivasi diri sendiri untuk percaya pada Takdir Allah dan rencana kita. Kalau kita malas, seakan kalau perlu kita "pukul pantat sendiri"untuk bergerak. Tuhan saja menyuruh kita jadi orang kuat. Kata Allah Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah.


Posting Komentar